Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Antara Murid dan Guru

Antara Murid dan Guru
Antara Murid dan Guru.
Antara Murid dan Guru.

Syaqiq al-Balkhi adalah seorang ulama sufi yang sangat mendalam ilmunya dan sangat bersih amal perbuatannya dari sifat-sifat yang tercela. Ia merupakan profil ulama yang menjadi teladan dan senantiasa membimbing umat pada jalan yang baik dan terpuji. Ulama sufi yang amat terkenal pada masanya ini memiliki seorang murid yang cerdas dan selalu mentaati ajaran gurunya. Dengan demikian ia menjai murid kebanggaan dari Syaqiq al-Balkhi.


Suatu saat guru yang arif dan bijak itu, bertanya kepada muridnya. “Sudah berapa lamakah engkau belajar kepadaku?” ia menjawab: “Sudah 30 tahun”. Guru itu bertanya lagi, “Apa saja yang engkau peroleh dariku selama ini?” muridnya menjawab: “Aku telah memperoleh delapan masalah”. Syaqiq al-Balkhi sebagai guru merasa terkejut memperoleh jawaban muridnya, ia amat merasa kecewa sehingga mengucapkan innalilahi wa innailaihi raji’un. Kata guru itu selanjutnya, “Hilang umurku untuk memberikan ilmu padamu, tapi kamu tidak memperolehnya kecuali delapan masalah saja”.


Khatim al-‘Asham sebagi murid yang sangat setia, berkata dengan rendah hati: “Wahai guruku, aku tidak mempelajari selain dari delapan masalah itu, sungguh saya tidak suka berkata dusta”.


Selanjutnya guru itu bertanya. “Coba jelaskan padaku delapan masalah itu,".


Khatim al-‘Asham menjawab:


“(1) Aku melihat kebanyakan manusia selalu mencintai dan mengasihi sesuatu selama hidupnya, tetapi sesuatu yang dikasihi itu tidak dapat mengantarkannya ke alam kubur. Oleh karena itu aku memutuskan hanya mangasihi dan mencintai amal shalih, karena apabila aku masuk ke liang kubur, maka amal shaleh yang menjadi kekasihku itu akan ikut bersamaku. Gurunya berkomentar: “tepat sekali engkau wahai muridku”.
 


2.) Aku memperhatikan firman Allah SWT: 


وَأَمَّا مَنۡ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفۡسَ عَنِ ٱلۡهَوَىٰ فَإِنَّ ٱلۡجَنَّةَ هِيَ ٱلۡمَأۡوَىٰ 


“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya)”. (Q.S. Al-Nazi’at, 79: 40-41).


Ayat itu menyadarkan aku agar terus berjuang melawan hawa nafsu yang menyesatkan sehingga aku tetap dalam ketenangan dan ketentraman. Dengan demikian, aku bisa melakukan ketaatan dan kepatuhan kepada Allah s.w.t.. Ayat tersebut mengantarkan diriku agar tidak menjadi budak dari hawa nafsuku sendiri.


3) Sesungguhnya aku melihat kebanyakan manusia menyanjung-nyanjung sesuatu yang dianggapnya berharga, kemudian dijaganya dengan baik agar tidak lepas dari dirinya. Padahal Allah berfirman. 


مَا عِندَكُمۡ يَنفَدُ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ بَاقٖۗ 


“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.......”.(Q.S. Al-Nahl, 16: 96).


Dengan memperhatikan firman Allah di atas, maka aku memutuskan, bahwa setiap aku memperoleh sesuatu yang berharga dan bernilai, segera kuhadapkan kepada Allah agar ia tetap menjaga di sisi-Nya dan menjadi kekal. Maksudnya apabila ia memperoleh sesuatu yang berharga ia gunakan untuk kebaikan di jalan yang diridhai Allah.


4) Aku mengamati bahwa umumnya manusia selalu condong untuk mencintai harta kekayaan, kedudukan, kemulyaan, nasab dan keturunan. Aku selidiki semua itu secara mendalam dan teliti, aku tahu kemudian bahwa semua itu tidak ada apa-apanya. Lalu kuperhatikan firman Allah SWT:


يَإِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٞ 


“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantaramu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antaramu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Q.S. Al-Hujurat, 49: 13).


Dengan memperhatikan firman Allah ini, tahulah aku, bahwa kita semua harus memegang teguh sekuat tenaga untuk bertakwa kepada Allah, supaya kita menjadi manusia yang mulia di sisi-Nya


5) Aku memperhatikan manusia, satu sama lain saling mencela, tidak ada lain penyebabnya adalah karena sikap dengki dan iri hati yang bukan pada tempatnya. Kemudian aku memperhatikan firman Allah SWT:


نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ 


“...Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia,...”.(Q.S. al-Zukhruf, 43: 32).


Karena itu aku melenyapkan rasa dengki yang ada pada diriku, aku betul-betul yakin bahwa sesungguhnya rezki setiap orang telah ditetapkan oleh Tuhan. Aku jauhi sikap permusuhan sesama manusia dan menghindari berbagai bentuk perselisihan.


6). Aku jumpai dalam kehidupan dunia ini berbagai macam peperangan, satu kelompok dengan kelompok lainnya saling menyerang dan membunuh. Aku kembali memperhatikan firman Allah:


إِنَّ ٱلشَّيۡطَٰنَ لَكُمَا عَدُوّٞ مُّبِينٞ 


"Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua". (Q.S. Al-A’raf, 7: 22).


Berdasarkan firman itu, maka musuhku adalah syaitan, yang selalu kuhadapi dalam segala kehidupanku. Karena itu aku yakin tidak ada musuh yang lain selain syetan yang terkutuk itu.


7) Aku memperhatikan banyak orang yang menjual kehormatan dirinya hanya dengan sesuap nasi atau sepotong roti, sehingga ia telah melakukan perbuatan yang terlarang. Aku perhatikan firman Allah:


۞وَمَا مِن دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا وَيَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَاۚ كُلّٞ فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ 


“Dan tidak ada suatu hewan melata pun di bumi, melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam hewan itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (Q.S. Hud, 11: 6).


Aku yakin diriku termasuk makhluk hidup yang diisyaratkan firman Allah itu, maka pasti akan memperoleh rizki. Aku menyibukkan diri untuk melakukan sesuatu karena Allah semata, kutinggalkan semua kepentingan pribadiku dan semua kupasrahkan kepada-Nya.


8) Manusia satu sama lain saling memasrahkan dirinya mengenai kekayaannya, sawah, ladang, kesehatan, dan lain sebagainya. Maka aku kembali pada firman Allah:


وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا 


 “...Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. (Q.S. Al-Thalaq, 65: 3).


Akhirnya aku penuh bertawakkal kepada Allah, tidak kepada yang lainnya. Dialah yang melindungi dan melengkapi segala kebutuhan makhluknya. Setelah Khatim al-‘Asham menjelaskan delapan masalah itu di depan gurunya yang amat dicintai, guru itu akhirnya merasa sangat kagum, bahwa muridnya betul-betul memperoleh ilmu yang sangat banyak. Ia selanjutnya mengatakan: “Wahai muridku semoga Allah memberikan taufik dan hidayahNya kepadamu.


Sesungguhnya aku telah mempelajari berbagai macam ilmu dari kitab-kitab Allah seperti Taurat, Zabur, Injil dan al-Qur’an yang agung. Maka aku dapati segala macam kebaikan yang terdapat dalam kitab-kitab itu, ialah berkisar kepada delapan masalah yang kamu terangkan itu”.


Dr. KH. Zakky Mubarak, MA, salah seorang Mustasyar PBNU

Terkait

Taushiyah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×