Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Bulan Shafar

Bulan Shafar
Bulan Shafar. (Ilustrasi: NUJO/MRF).
Bulan Shafar. (Ilustrasi: NUJO/MRF).

Bulan Shafar adalah bulan kedua dalam penanggalan Tahun Hijriyah. Shafar dalam bahasa Arab adalah bersiul atau mendesis. Dan jika huruf "ف" ditasydid, shaffara ini berarti menguning atau menjadi kuning. Ketika alam; tetumbuhan sudah menguning ini berarti masa sulit dalam pengadaan makanan atau ekonomi lagi tidak normal sehingga untuk menggambarkan kondisi ini bersiul paling banyak dilakukan orang dengan nada sedih, melankolis; menerawang masa depan dengan berlatar kondisi hari ini dan kemarin. Biasanya kondisi alam menjadi panas dan menimbulkan berbagai penyakit atau wabah, kelaparan, dan sebagainya.


Menurut cerita, orang-orang Arab Jahiliyah di bulan ini mengosongkan kampung halaman dan pergi ke tempat lain (safar) guna menghindarkan malapetaka yang bakal terjadi. Sudah menjadi mitos bagi mereka bahwa bulan Shafar merupakan bulan sial. Maka untuk membangun keyakinan umat Islam, Rasuulullah melakukan beberapa hal untuk menghilangkan image masyarakat; diantaranya beliau sendiri menikah dengan Satyidatina Khadijah di bulan ini, begitu juga puterinya Sayyidatina Fatimah dengan Ali bin Abi Thalib, perang Abwa, hijrah ke Madinah, dan banyak lagi kegiatan lainnya.


Rebo Kasan
Rebo Kasan (wekasan) atau Rabu terakhir di bulan Shafar sudah tidak asing lagi bagi warga Nahdlatul Ulama khususnya, dan bagi kaum ahlussunnal wal jamaah di tanah air secara umum.


Telah banyak pendapat para ulama yang mengulas tentang bulan Shafar dan Rebo Kasan, baik upacara ritual maupun amalan yang dianjurkan di hari itu, namun belum diketemukan dalil, baik dari Alquran maupun hadits yang mengarah langsung pada ritual Rebo Kasan tersebut.


Ada pendapat, Ba'dul 'arifin mengatakan bahwa Allah SWT menurunkan ribuan balwa, cobaan di bulan Shafar. Cobaan tersebut bisa berupa penyakit, kecelakaan atau musibah lainnya. Maka atas cobaan itu agar tidak menjadi musibah yang sangat besar yaitu keluarnya iman dari seorang muslim.


Perlu kiranya dicegah, ditangkal dan ditolak. Adapun cara penolakannya dengan memperkuat, memperkokoh keimanan, keyakinan bahwa semua berasal dari Alloh.


Di samping itu lebih memperteguh keislaman dengan memperbanyak amal sholeh, baik yang langsung berhubungan dengan Allah maupun ibadah sosial, serta menanamkan niat yang tulus ikhlas dalam melaksanakan amal sholeh itu semata-mata karena Allah, bukan karena yang lainnya (ihsan).


Mempererat, melekatkan persahabatan, sillaturrahim antara sesama, di antaranya dengan shadaqah; berupa makanan atau lainnya, itu sangat dianjurkan, "shidqatussirri tadfaul balaa".


Dalam tradisi masyarakat Sunda, penangkalan atau penolakan terhadap marabahaya itu, dalam ritual Rebo Kasan disajikan makanan sebagai Ikon, berisikan du'a, tawasul dan tafaul, yaitu berupa dua jenis makanan, Dupi dan Leupeut.


Dupi terbuat dari beras dibungkus dengan daun bambu sehingga berbentuk segitiga sama sisi, sedangkan Leupeut dibungkus dengan daun pisang berbentuk empat persegi panjang. Leupeut terdiri dari dua belahan yang berukuran sama, disatukan, diikat di kedua ujungnya. Dupi dan leupeut sebagai makanan dan disidaqahkan adalah do'a Tawassul dengan amal shaleh, sementara bentuk segitiga dan empat persegi panjang yang disatukan dan diikat dua ikatan adalah Do'a Tafaul, yang berarti ditolak dengan Iman, Islam, dan Ihsan, lekatkanlah, eratkanlah persaudaraan dengan sesama dalam ikatan Dua Kalimah Syahadat. Begitu juga penulisan wafaq dan do'a bersama tolak bala.


Dari segi bahasa; Dupi asal dari bahasa Arab (dufi'a/ditolah, ditangkal), Leupeut dari kata Allafa (mengeratkan, melekatkan).


Masalahnya, mengapa Ritual Rebo Kasan dilakukan di Rabu terakhir di bulan Shafar, tidak di hari Rabu awal atau awal-awal bulan Shafar? Wallaahu a'lam bil shawaab, hanya Allah yang Maha Mengetahui.sakit


Namun ada sementara 'ulama yang menjelaskan bahwa wafat Rasuulullah saw pada hari Senin, 12 Rabi'ul awwal, sementara Beliau menderita sakit menjelang kepergiannya selama 13 hari.


Maka jika dihitung mundur sebanyak 13 hari dari hari Senin, 12 Robi'ul awal, akan jatuh pada hari Rabu tanggal 29 atau 30 Shafar. Maka atas kebijakan para ulama peringatan Haul Rasulullah tidak berbarengan dengan hari kelahirannya, tanggal 12 Rabi'ul awal, tapi diambil dari hari awal kepergian Beliau, yaitu Rabu terakhir di bulan Shafar, seperti ritual yang biasa dilakukan, namun akan hal ini belum banyak pihak yang mengetahui.


Kehilangan sesuatu yang berharga seperti kehilangan anggota keluarga adalah sebuah musibah. Kehilangan pemimpin yang adil, kehilangan orang yang paling dicintai Allah, kehilangan nabiyyil rahmat adalah musibah besar bagi kaum muslimin. Itu terbukti setelah wafat beliau, di saat kekhalifahan Sayyidina Abu Bakar terjadi nabi palsu, kekhalifahan Sayyidina Umar ra diakhiri dengan terbunuhnya beliau dalam shalat, begitu pula Sayyidiina Utsman ra, bahkan Sayyidina Ali dibunuh sama seorang haafidz alquran, Abdul Rahman bin Mulzam seorang khawarij.


Kelahiran kaum Syi'ah dan Khawarij merupakan awal perpecahan umat Islam, disusul Mu'tazillah, Qadariyah, Jabbariyah dan Murji'ah yang masing-masing memiliki kelompok pengikut sehingga berjumlah 73 firqah di samping Ahlussunnah waljamaah. Dan masih banyak lagi musibah yang menimpa kaum muslimin akibat perpecahan yang disebabkan perebutan pengaruh dan kekuasaan (politik), di samping provokasi non muslim untuk menghancurkan Islam.


Sebesar apapun mushibat yang menimpa kita, Allah SWT telah memberikan petunjuk sebagaimana akhir sebuah ayat :


"...وبشر الصابرين"


"Berilah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar"


Ini berarti bahwa Sabar adalah penangkal segala cobaan, dalam menerima dan menjalani musibah, melaksanakan taat, dan sabar dalam meninggalkan maksiat.


Maka atas segala cobaan tersebut seyogianya kita selaku ummat Islam harus berupaya mencegahnya agar tidak menyebar dan merusak keimanan yang bisa mengakibatkan mati dalam suul khatimah, naudzu billaah.


KH. Awan Sanusi, A'wan PWNU Jawa Barat

Terkait

Ngalogat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×