Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Haul Muassis dan Milad ke-52 Ponpes Al-Quran Al-Falah, Kakanwil Kemenag Jabar Sebut Ayah Syahid Pernah Beri Ijazah

Haul Muassis dan Milad ke-52 Ponpes Al-Quran Al-Falah, Kakanwil Kemenag Jabar Sebut Ayah Syahid Pernah Beri Ijazah
Haul Muassis dan Milad ke-52 Ponpes Al-Quran Al-Falah, Kakanwil Kemenag Jabar Sebut Ayah Syahid Pernah Beri Ijazah. (Foto: MRF).
Haul Muassis dan Milad ke-52 Ponpes Al-Quran Al-Falah, Kakanwil Kemenag Jabar Sebut Ayah Syahid Pernah Beri Ijazah. (Foto: MRF).

Bandung, NU Online Jabar
Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) provinsi Jawa Barat H Ajam Mustajam mengungkapkan, dirinya pernah diberikan ijazah oleh Almaghfurlah KH Q Ahmad Syahid. Hal tersebut diungkapkan saat memberikan sambutan sekaligus membuka acara Haul Muassis dan Milad ke-52 Pondok Pesantren Al-Quran Al-Falah sekaligus pagelaran Halaqah Fikih Peradaban pada Sabtu (27/8).


"Melalui pak KH Cecep tahun 2017 kalo tidak salah, Ayah mau ketemu. Alhamdulillah, beberapa bulan menjelang wafatnya Almaghfurlah itu saya diberikan ijazah. Walaupun bukan santrinya, tapi beliau memberikan ijazah kepada saya. Mungkin dengan Ijazah itu saya bisa jadi Kanwil," jelasnya.


H Ajam menilai, Almaghfurlah sebagai orang tua memberikan nama pesantren ini Al Falah yang secara harfiyah itu kebahagiaan.


"Nama itu bukan semata-mata given dari Allah SWT, tapi harus diperjuangkan bahwa kebahagiaan itu harus dirancang dan diupayakan. Upaya dan perjuangan itu yang terus ditempuh oleh para pendiri pondok pesantren, para kiai, para sesepuh dan seluruh pengurus pesantren ini yang setiap saat berjuang dan mengupayakan agar seluruh santri yang mondok dan mempelajari Al Quran dapat meraih dan mewujudkan kebahagiaan mereka di dunia dan akhirat," tegasnya.


Ia menjelaskan, selama 52 tahun sejak didirikan Ponpes Al-Quran Al-Falah telah dan akan terus memainkan peran penting dalam meningkatkan kualitas karakter dan akhlak masyarakat Indonesia.


Menurutnya, pesantren telah berkontribusi penting dalam mewujudkan islam rahmatan lil alamin. "Dari generasi ke generasi pesantren telah melahirkan insan beriman yang berkarakter, cinta tanah air dan berkemajuan. Bahkan beberapa pendiri negeri ini adalah sesepuh pesantren yang jadi pengikat dan mempererat persatuan bangsa Indonesia," paparnya.


"Haflah ke-52 sekaligus haul muassis ke 5 almarhum KH Q Ahmad Syahid adalah momentum penting untuk menegaskan komitmen dan tekad pesantren Al Falah dalam menyebarkan nilai-nilai Al-Quran yang rahmatan lil alamin berdasarkan Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika. Selain itu, Haflah milad dan Haul Muassis ini menjadi momen untuk menegaskan komitmen kebangsaan sehingga bersama-sama kita mewujudkan indonesia yang maju mandiri dan sejahtera dan moderat." sambung H Ajam.


Karena kontribusi penting itulah, tambahnya, maka pemerintah Indonesia menjamin dan menjaga keberlangsungan pesantren.


"Alhamdulillah, melalui proses perjuangan panjang saat ini kita memiliki UU No 18 tahun 2019 tentang pesantren yang menegaskan tugas pemerintah untuk menjamin keberlangsungan pesantren. Semoga dengan adanya undang-undang tersebut negara bisa memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pondok pesantren," jelas H Ajam.

 

Dalam kesempatan yang sama, pria kelahiran Garut tersebut juga menjelaskan, Halaqah Fiqih Peradaban yang dilaksanakan hari ini diharapkan dapat melahirkan gagasan pemikiran dan ijtihad-ijtihad strategis agar umat islam memiliki panduan yang jelas dalam menjalankan ibadah dan muamalah.


Ia berpendapat, saat ini masyarakat dihadapkan pada pengembangan teknologi yang sangat pesat. Perkembangan teknologi itu saja berpengaruh pada perkembangan budaya dan peradaban. Selain itu, perkembangan lainnya dalam bidang bioteknologi, biokimia dan lain-lain juga menuntut para ulama dan para fuqoha untuk berijtihad melahirkan keputusan fikih yang mashlahat bagi umat dan sesuai dengan ketetapan syariat.


H Ajam juga memaparkan, masyarakat juga menghadapi masalah besar lainnya, yaitu makin kuatnya kecenderungan disintegrasi yang mengatasnamakan agama. Mereka menggunakan ayat Al-Quran secara serampangan untuk menyebarkan intoleransi, radikalisme hingga terorisme.


"Karena itulah, Al-Falah yang sejak dulu dikenal sebagai pesantren Al-Quran diharapkan bisa memainkan peran yang lebih besar untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang ajaran islam dan nilai-nilai Al-Quran yang mengusung kesatuan, kedamaian dan kebangsaan," tuturnya.


Ia berharap, ponpes Al-Quran Al-Falah bisa tumbuh berkembang menjadi pesantren yang mandiri baik dari sisi manajemen pengembangan pendidikan dan juga pengembangan ekonomi.


"Pesantren diharapkan bisa menjadi motor pengerak ekonomi selain menjadi pionir dalam pengembangan karakter dan akhlak masyarakat. Semoga, Al-Falah bisa terus tegak kokoh dan makin maju demi terciptanya Indonesia yang damai dan tetap bisa membentuk indovidu yang unggul diberbagai bidang, para santri bisa membentuk pemahaman agama dan keberagamaan yang moderat dan cinta tanah air, serta dunia pesantren bisa terus meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang berdaya dalam memenuhi kebutuhan masyarakat," harapnya.


"Orang yang menempa ilmu dipesantren itu ada dua keberuntungan selain menguasai keduniawian, Insya Allah akan mendapat keberkahan akhirat," pungkas H Ajam.


Pewarta: Muhammad Rizqy Fauzi

Terkait

terpopuler

rekomendasi

topik

×