Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

NU Kiblat Solusi Peradaban Islam, Kemanusian dan Dunia

NU Kiblat Solusi Peradaban Islam, Kemanusian dan Dunia
Ilustrasi: NUO.
Ilustrasi: NUO.

Dalam sejarah peradaban dunia dan Islam, ada peristiwa besar yang fenomenal yaitu pengambilalihan kekuasaan dari Syarif Husen Ali Ibnu Aum dari Bani Hasymiyah keturunan Rasulullah yg ke 37 yang berpaham Suni oleh Muhamad Ibnu Sa'ud  yang bekerja sama dengan Muhamad bin Abdul Wahhab bin Sulaeman dengan paham wahabinya yang di bantu oleh Inggris pada tahun 1921 serta runtuhnya Turki Usmaniah  yang telah berkuasa selama 1300 tahun oleh Mustofa  Kemal pasha  yang berfahan sekuler di tahun 1924.


Dari peristiwa ini, dunia Islam merasa kehilangan kiblat serta peradaban Islam, kemanusian dan dunia. Dari proses sunatulloh dan alam yang berkehendak sebagai takdir untuk menjawab kelangsungan peradaban Islam dan kemanusian, maka wasilahnya adalah terlahirnya NU di Indonesia pada tanggal 31 Januari 1926 sebagai Kiblat, solusi peradaban Islam, Kemanusian dan dunia yang akan mampu dan bisa untuk memberikan solusi adalah ULAMA dengan gerakan kebangkitan ulamanya, sesuai dengan apa yang di sampaikan oleh pendiri Nahdlatul ulama dari kitab Ihya Ulumiddin yaitu:


Faqihum fi mashalihi-I-halaqi "Ulama itu harus fakih dan faham lebih mendalam tentang kemashlatan umat manusia, yang di kutip dari buku KH. Hasyim Ashari  pengabdian seorang kiai untuk negeri.


Dari proses sejarah tersebut terlihat secara tanda dan fakta yang jelas, yang di mulai dari awal Islam masuk ke Indonesia dengan nilai-nilai, tujuan dan isyarat simbol NU yang terangkai dalam historis sebagai  berikut : 

 
  1. Masuknya Islam di Indonesia yang di bawa oleh para wali, para ulama sufi dan pedagang Islam  yang dilanjutkan oleh para muasis NU sampai dengan para ulama NU sekarang yang langsung bersanad ke Rasulullah dengan pola gerakan dakwah yang  sama dengan penuh nilai-nilai akhlak, kemanusian dan toleransi terhadap budaya dan sosiologi kultur masyarakat serta tidak menimbulkan Kekerasan dan peperangan. Karena setiap gerakan Islam yang pergerakannya tidak mengikuti gerakan dan cara dakwah Rasulullah dengan ramah tamah dan Akhlakul karimah dipastikan akan bermasalah secara budaya, kemanusian dan  sosial 
  2. NU di dirikan dengan pergerakan lahiriah dan bathiniah (Riyadlah). Pergerakan lahiriah ini yang dipimpin oleh KH. Wahab Chasbullah yang di bantu oleh KH. Ridwan Abdulah dan kiai Mas Ali ( Habib Alwi Abdul Aziz Azmatkhan) yang merupakan tiga serangkai santri Mbah Cholil yang pintar dan cerdas dengan melahirkan Nahdlatul Wathan ( kebangkitan Cinta Tanah Air) tahun 1914 sebagai dasar dan pondasi jiwa raga dalam melakukan gerakan dan perjuangan sampai dengan tujuan tercapai dibutuhkan rasa cinta. Kemudian pada tahun 1918 KH.Wahab Chasbullah  mendirikan Taswirul Afkar (Gerakan pemikiran) tahun 1918 yang tujuanya adalah, karena dalam perjuangan dan pengorbanan membutuh pemikiran yang sama, satu hati satu tujuan dalam mencapai tujuan dan cita-cita, tahapan berikutnya KH. Wahab Chasbullah mendirikan Nahdlatul Tujar (Kebangkitan Ekonomi) di tahun 1918, memperkuat gerakan ekonomi sebagai modal dalam perjuangan untuk mencapai tujuan dan cita-cita, dari 3 tahapan gerakan ini terlihat nilai yang terangkai dan terukur dalam membangun tahapan serta kontruksi jiwa dan raga dalam perjuangan untuk mencapai  tujuan dan cita-cita, berlanjut membangun rumah besar yang bernama " Nahdlatul Ulama ( Kebangkitan Ulama ) oleh KH. Hasyim Ashari sebagai aktualisasi Ibadah dan Amaliah dalam menuju kebahagian dunia dan akherat.
  3. Nilai - nilai NU yaitu Mabadi Khaira Ummah, merupakan langkah awal pembentukan “umat terbaik” (Khaira Ummah) yaitu suatu umat yang mampu melaksanakan tugas-tugas amar ma’ruf nahi mungkar yang merupakan bagian terpenting dari kiprah NU. Karena kedua sendi mutlak diperlukan untuk menopang terwujudnya tata kehidupan yang diridlai Allah SWT, sesuai dengan cita-cita NU. Nahi mungkar adalah menolak dan mencegah segala hal yang dapat merugikan, merusak dan merendahkan nilai-nilai kehidupan serta hanya dengan kedua sendi tersebut kebahagiaan lahiriyah dan bathiniyah tercapai. Pergerakan Bathiniah dengan Riyadoh yang sama dilakukan oleh Nabiyullah Muhamad SAW yang langsung di lakukan oleh Mbah Cholil Bangkalan, KH.Hasyim Asy'ari dan KH. As'ad Syamsul Arifin. 
  4. Proses pembuatan lambang Nahdlatul Ulama adalah Isyarat yang nyata dari fakta alam dan takdir, yaitu lambang bola dunia sebagai rumah besar peradaban dunia yang Rahmatil Lil Alamin Fiddunnya wal Akhirah. Lambang sembilan Bintang punya filosofi menjadi sutradara dan pemain peradaban yang memberikan nur atau cahaya keberkahan untuk umat manusia, lambang Tali, yang saya namakan tali pangkal yaitu tali yang bisa di buat tali mati yang bisa di buka dan jenis tali-tali lainnya, secara filosofi mengandung makna Dinamis dalam kehidupan dan  peradaban  kemanusian dari pemaknaan dan filosofi lambang dari hasil Ijtihad penulis dan arti serta makna yang sudah ada dalam AD/RT Nahdlatul Ulama
  5. Tujuan didirikannya NU. Menurut Kiai Hamid Mannan, NU didirikan karena memiliki tiga tanggungjawab. Pertama tanggung jawab keagamaan (mas’uliyah diniyah), kedua tanggungjawab kenegaraan (mas’uliyah wathoniyah) dan ketiga tanggung jawab kemasyarakatan (mas’uliyah ijtimaiyah). dengan memperkuat sikap kemasyaratan yaitu Tawasuth ( Jalan tengah) tawazun ( seimbang) , I'tidal ( berlaku adil) Tassamuh (moderat) dan Amar makruf nahi mungkar
  6. Secara organisasi,NU yang berbasis di Indonesia, telah terbukti nyata berkembang dengan pesat di dunia  yaitu terbentuknya Pengurus Cabang Istimewa yang ada di setiap negara.
     

Dari tulisan tersebut diatas adalah sebuah hasil proses dari Ijtihad penulis bahwa Nahdlatul Ulama adalah Kiblat, Solusi Peradaban Islam, Kemanusian dan dunia.


Supendi Samian, Ketua STIDKI NU Indramayu

Terkait

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×