Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Innalillahi, KH Ibrohim Rozi Aktivis NU Cirebon Sejak Muda Wafat

Innalillahi, KH Ibrohim Rozi Aktivis NU Cirebon Sejak Muda Wafat
KH Ibrohim Rozi
KH Ibrohim Rozi

Cirebon, NU Online Jabar 
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Kabar duka menyelimuti Keluarga Besar Nahdlatul Ulama Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Aktivis NU tulen, KH Ibrohim Rozi wafat pada hari Senin, 26 Juli 2021 pukul 00.55 WIB pada usia 81 tahun.

Almarhum pernah menjadi Sekretaris Partai NU Kabupaten Cirebon periode 1968-1971 dan Ketua PCNU Kabupaten Cirebon Periode 1998-2001. Sebelum wafat, almarhum sempat sakit dan dirawat di rumah sakit Mitra Plumbon sekitar sebulan. 

Kiai kelahiran 9 Januari 1940 dan akrab disapa Pak Ib ini dikenal sebagai aktivis NU baik sejak masih muda hingga tua. Bahkan, meski di usia yang tidak muda lagi, Pak Ib sering kali menyempatkan hadir di acara-acara NU. Langkah dan geraknya masih terlihat kuat dari sosok kiai satu ini.

Beberapa bulan lalu, penulis merasa beruntung karena sempat menyambangi kediamannya di Plered, Cirebon. Pertemuan itu tentu berkesan. Ia bercerita ketika dirinya mengemban amanah untuk membentuk IPNU di Cirebon. Bahkan menginisiasi pendirian PMII Cirebon.

"Sebelum Muktamar IPNU di Cirebon 1958, sekitar tahun 1955 saya ditugasi beberapa kiai untuk membentuk IPNU, saat itu saya menjadi bendahara, dua kawan saya Bakri jadi sekretaris dan Ma'ruf jadi ketua. Terus dulu itu saya di Yogya dan sudah ikut IPNU di sana. Pada Muktamar IPNU ke-3 tahun 1958 di Cirebon, saya ikut sebagai utusan dari PW IPNU Yogyakarta. Tapi di Cirebon IPNU belum begitu berkembang, akhirnya saya memutuskan setelah dari Yogya saya pulang dan membangun kembali organisasi ini," katanya sambil mengingat-ingat .

Perhelatan Muktamar IPNU di Cirebon juga ternyata meninggalkan jejak langka dari para kader IPNU untuk menyalurkan aspirasinya mendirikan organisasi kemahasiswaan. 

"Muktamar dulu itu ada bahasan tentang pendirian organisasi kemahasiswaan, terus muncul gagasan pembentukan bidang perguruan tinggi IPNU. Nah bidang itu tuh salah satu embrio berdirinya PMII," sambungnya.

Ahmad Sayuti, Ketua PMII Cabang Cirebon 1966 adalah karib Pak Ib semasa di organisasi mahasiswa itu.  Ia menceritakan bahwa Pak Ib ini sosok pejuang ulet, energik, tidak kenal lelah berkhidmah di NU.

"Saya kenal dekat dengan Pak Ib sewaktu sama-sama di PMII. Dia ini pejuang ulet, semangatnya itu luar biasa, wani dan bertanggung jawab. Apalagi pas awal-awal berdirinya PMII yang saat itu NU dan kaum merah menjadi rivalitas. Bahkan kalau ada kiai yang dilecehkan ia selalu lantang dan menentang para antek-antek merah itu," kata saat dihubungi melalui via WhatsApp.

Senada dengan itu, penulis pun mendapatkan informasi serupa saat berkunjung kedua kalinya. Meskipun saat itu ia genap berusia 80 tahun, namun daya ingatnya masih kuat betul. Bahkan pelafalan kata yang keluar dari lisannya masih terdengar jelas.

Singkat kata, ia mengajak saya ke kurun waktu 1965-1967, usianya sekitar 25-27 tahun. Masa itu merupakan pergolakan politik baik di tingkat nasional maupun lokal. Seketika hening, mata terpejam, menundukkan kepala, begitulah kira-kira Pak Ib ingin memulai pembicaraannya. Jika tidak ingat pasti mengatakan "saya lupa", sebaliknya jika ingat maka akan mengatakan "dulu". 

"Dulu Kiai Mustamid Buntet dengan saya itu dekat, pasca berita G30S menyebar, saya bersama kawan-kawan Ansor, Banser, PMII dan IPNU sering diajak ke pelosok desa, tujuannya mengumpulkan massa untuk membendung PKI. Misalnya di Buntet, pesantren itu jadi markas besar NU, tua muda kumpul jadi satu", ungkapnya.

Bahkan sesekali ia berkaca-kaca mengingat masa-masa itu, "Ada beberapa kiai NU difitnah, dilecehkan, saya sedih kalo ingat itu. Kami tentu tidak terima," lanjutnya.

Kini sosok aktivis NU tulen nan energik itu telah berpulang ke Rahmatullah. Semoga Khusnul khotimah. Pejuang NU tanpa mengenal lelah, pelayan umat tanpa mengenal waktu. Seorang organisatoris tanpa pamrih. Selamat jalan kiai, salam hormat untukmu.

Alfatihah.

Pewarta: Ahmad Faiz RF
Editor: Agung Gumelar

Terkait

Obituari Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×