Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

In Memoriam KH Affandi Mukhtar

In Memoriam KH Affandi Mukhtar
KH Affandi Mukhtar (tengah) bersama keluarganya (Foto: Istimewa)
KH Affandi Mukhtar (tengah) bersama keluarganya (Foto: Istimewa)

Oleh Neneng Yanti KH

Pesantren Babakan baru saja kehilangan salah seorang tokohnya, yang juga merupakan tokoh nasional.

Mungkin saya tidak dekat secara personal dengan beliau. Tetapi, saya punya ingatan khusus tentang sosok yang santun, sederhana, dan kharismatik ini. 

Kang Fandi, begitu panggilan akrab teman-teman dan koleganya, adalah sosok kiai yang selalu ngemong dan memberi kesempatan kepada para juniornya. 

Seingat saya, meski tidak intens, pertama kali saya berinteraksi (tidak langsung) dengan beliau ketika masa grup BBM (Blackberry Messenger) yang cukup populer saat itu. Saat itu, saya sedang studi di Australia. 

(Saya selalu digeret masuk ke berbagai grup Alumni Albab oleh senior saya Sa’dullah Affandi sejak zaman BBM, yang sekarang sudah menjadi pejabat di bagian ketenagakerjaan, Kedubes RI di Saudi.)

Sepulang saya studi dari Australia, beliau termasuk orang yang tak segan mengontak saya. Saya, yang hanya mengenal ketokohan beliau, tentu kaget ditelpon oleh beliau. Pada saat itu, beliau meminta saya untuk turut berbicara, berbagi pengalaman pada event besar Kongres Ulama Perempuan Internasional (KUPI), di mana pesantren Babakan menjadi tuan rumahnya. Beliau berharap sebagai alumni saya turut mewarnai event kebanggaan itu. 

Adanya ruang komunikasi Alumni Babakan, Makom Albab, membuat ruang interaksi dengan beliau lebih intens.

Di lain kesempatan, beliau menelpon saya untuk membuat karya penelitian bersama. Di lain waktu, beliau meminta saya untuk ikut menulis buku. Begitulah, beliau tidak hanya tokoh agama tapi juga seorang intelektual yang ingin terus berkarya.

Yang paling mengesankan adalah ketika beliau meminta saya ikut berbicara di sebuah ruang akademik (seminar) di antara para kiai sepuh, tokoh-tokoh, dan ustadz-ustadz di lingkungan pesantren untuk menjadi salah seorang pembicara, mewakili generasi milenial, saat itu terkait tema Resolusi Jihad. 

Saya, seorang santri perempuan, bisa bersuara di tengah forum-forum yang didominasi oleh para ulama dan ustad laki-laki, berkat kesempatan yang beliau berikan. 

Saya yakin, selama beliau berkhidmah, ada banyak junior yang merasakan kesempatan-kesempatan itu. Tak heran, beliau dapat menemukan potensi-potensi emas yang kariernya dapat terus berkembang hingga saat ini.

Saya percaya, leadership yang beliau miliki telah meninggalkan banyak legasi, orang-orang muda yg mampu berkembang karena peluang dan kesempatan yang beliau berikan. 

Itulah yang membuat begitu banyak orang kehilangan. 
Selamat jalan Pak Kiai… Semoga engkau berpulang dengan tenang… 
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan keikhlasan. 

Alfatihah. 

Penulis adalah Alumnus Pesantren Miftahul Muta'allimat Babakan Ciwaringin
 

Terkait

Obituari Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×