• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 16 April 2024

Ngalogat

Perjuangan dan Dukungan Hadratussyekh untuk Kemerdekaan Syiria, Maghribi dan Palestina serta Pembakar Api Revolusi di Indonesia

Perjuangan dan Dukungan Hadratussyekh untuk Kemerdekaan Syiria, Maghribi dan Palestina serta Pembakar Api Revolusi di Indonesia
Ilustrasi. (Foto: NU Online)
Ilustrasi. (Foto: NU Online)

Kisah ini diambil dari buku karya Muhammad Asad Syihab yang berjudul Hadratussyeikh Muhammad Hasyim Asy'ari (Perintis Kemerdekaan Indonesia). Buku yang ditulis dengan bahasa Arab yang diterjemahkan KH Mustofa Bisri (Jumadil Ula 1415- Oktober 1994).


Pada suatu malam yang mulia, pelajar-pelajar yang terdiri dari berbagai kebangsaan: Afrika, negara-negara Asia Selatan, Asia Tengah dan negara-negara Arab berkumpul mengadakan pertemuan. Dan termasuk Hadratussyekh salah seorang di antara mereka.


Mereka semua berdiri di depan Multazam di Ka'bah, berikrar dengan sumpah demi Allah akan melakukan perjuangan di jalan Allah untuk meninggikan kalimat Islam, mempersatukan umat Islam dengan penyebaran ilmu dan kesadaran, serta memperdalam agama demi mendapat ridla Allah ta'ala tanpa mengharapkan harta, kedudukan, ataupun jabatan bagi diri sendiri.


Ketika Hadratussyekh kembali ke tanah air dan kampung halamannya, beliau menepati janji yang beliau ikrarkan. Beliau mendirikan pesantren dan madrasah-madrasah dalam rangka dakwah dan menyebarkan kesadaran beragama Islam.


Hadratussyekh ketika melaksanakan pengajaran atau berada dalam forum-forum ceramah, senantiasa menekankan persatuan umat Islam secara umum sebagai umat Islam yang satu dan tak terbagi-bagi. Setiap orang Islam harus memperhatikan saudara-saudaranya sesama Muslim meskipun saling berjauhan dan saling membela serta melawan para penjajah dan kaum Mulhid.


Hadratussyekh mempunyai hubungan luar dan korespondensi dengan banyak pemimpin-pemimpin dunia Islam pada masa itu, di antaranya dengan syeikh Abdul Aziz Tsa'alibi; Sayyid ad-Dien Syairazi musuh bebuyutan inggris; Amien Syakib Arselan; Amir Muhammad Abdul Karim Khathtabi; Sayyid Alawi bin Thahir al-Haddad Mufti kerajaan Johor; Muhammad Ali dan Syaukat Ali dari India; Muhammad Ali Jinnah; Muhammad Iqbal; Sayyid Hibbat ad-Dien Syahrastani mantan Mentri Pendidikan Irak.


Beliau juga menjalin hubungan dan korespondensi dengan: Al-Allamah Sayyid Muhammad Aqil; Syaikh Muhammad Jad al-Maula; Syaikh Muhammad Surur Zankaluni; Syaikh Yusuf Dajwi; Sayyid Muhammad Ghanni Taftazani; Al-Allamah Sayyid Mahdi Syairazi; Sayyid Ali bin Husein Al-atthar; Syaikh Muhammad Husein Ali Kasyif al-Ghatti; Syeikh Ahmad Arif Az-Zein pendiri Majalah "Al Irfan dan koran "Jabal Amil"; Sayyid Abdullah bin Alawi al-atthar dan Sayyid Muhammad Muhdlar.


Ketika Amir Abdul Karim al-Khaththabi melancarkan revolusi kemerdekaan yang dahsyat dan terkenal tahun 1924 melawan Prancis dan Spanyol di Maghribi, pada saat yang sama Sultan Pasya Athrasy di Syria melawan Prancis. Hadratussyekh melakukan peran positif dengan menunjukkan solidaritas kaum muslimin Indonesia mendukung revolusi Amir Abdul Karim dan Sultan Pasya Athrasy.


Demonstrasi-demonstrasi besar dilaksanakan, pertemuan, rapat umum berkali-kali diselenggarakan untuk melakukan apa yang dapat dilakukan sebagai manifestasi dari dukungan penuh terhadap perlawanan menghadapi kolonialis.


Pawai-pawai besar diselenggarakan untuk memperlihatkan solidaritas dan dukungan kepada pejuang-pejuang Maghribi, Syria dan Palestina. Unjuk rasa dilaksanakan sebagai rasa kesetiakawanan terhadap saudara-saudara pejuang di negeri itu, ketika Indonesia sendiri masih dalam cengkraman Belanda.


Beliau Hadratusyekh Muhammad Hasyim Asy'ari adalah peletak batu pertama kemerdekaan Indonesia yang mengibarkan bendera perjuangan dengan ucapan dan tindakan yang menggoncang sendi-sendi imperialis Belanda.


Perjalanan hidup Hadratusyekh penuh dengan perjuangan demi tanah airnya. Beliau mengeluarkan fatwa-fatwa menentang kolonial Belanda. Fatwa yang menjadi gaung yang luar biasa di seluruh Nusantara.


Hadratussyekh membakar api revolusi dan menggoncang sendi-sendi imperialisme Belanda dengan fatwa jihadnya. "Walladziina jaahadu fiina lanahdiyanahum subulana". "Mereka yang berjuang di jalan ku, Aku akan tunjukkan mereka jalan-jalanKu.


Tentu saja Belanda merasa kuatir melihat gerakan-gerakan itu, takut meluas dan demonstrasi-demonstrasi menentang Italia, Prancis dan Spanyol yang mempunyai hubungan dengan Belanda sebagai sesama negara Eropa.


Di balik sikap yang keras terhadap kolonialisme, beliau adalah pribadi yang luhur, akhlaknya mulia, rendah hati, lapang dada, seperti yang disampaikan Syekh Rabah Hasunah seorang ilmuan Mesir. Syeikh Hasunah bercerita, 


"Selama saya bersahabat dengan beliau lebih dari 12 tahun, saya tak pernah sekalipun melihatnya berkata kasar dalam pembicaraan, atau marah-marah, atau bersikap emosional. Saya selalu melihatnya tersenyum ramah kepada setiap orang. Sampai pun pada saat-saat paling genting atau saat-saat sulit. Beliau merupakan contoh yang baik dan tauladan ideal bagi lainnnya." Penuturan Syeikh Rabah Hasunah kepada saya, semikian pernyataan Muhammad Asad di dalam bukunya.


Nasihin, Sekretaris Lesbumi PWNU Jawa Barat


Ngalogat Terbaru