• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 16 April 2024

Ngalogat

Beratnya Menjadi Kiai

Beratnya Menjadi Kiai
KH Moh Ilyas Ruhiat (kanan) dan KH Choer Affandi (kiri) dalam sebuah kegiatan. (Dok. Keluarga Cipasung)
KH Moh Ilyas Ruhiat (kanan) dan KH Choer Affandi (kiri) dalam sebuah kegiatan. (Dok. Keluarga Cipasung)

Saat Gus Yahya, Ketua Umum PBNU, memberikan sambutan pada acara Haul Mbah Munawir Krapyak Yogyakarta, disebutkan bahwasanya yang paling penting dari pesantren adalah keramat dari kiainya. Maknanya adalah pesantren itu tidak cukup hanya sekedar bermodalkan bangunan fisik yang megah, fasilitas yang lengkap dan metode pembelajaran yang efektif. 

 

Kalau cuma itu ukurannya, maka semua orang yang banyak duit bisa mewujudkannya. Tapi yang istimewa dan langka adalah bila pengasuh pesantrennya memiliki keramat atau shohibul barokah (pemilik keberkahan), kendati bangunan pesantrennya sederhana atau fasilitasnya masih memprihatinkan dan metode pengajarannya masih konvensional alias jadul.

 

Terkait hal ini, saya jadi teringat nasehat guruku sewaktu 'tabarrukan" (ngalap berkah) menimba ilmu di Pesantren Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya, di mana Ajengan Fatah pernah menasehatiku begini: "Upami urang hoyong dialap berkah ku batur, maka kudu bisa ngaberkahan diri sorangan heula."(Jika kita mau diambil keberkahanya oleh orang lain, maka harus bisa memberkahi diri sendiri terlebih dahulu).

 

Di sinilah hal terberat yang diemban oleh seorang kiai atau ulama. Di mana ia harus bisa menjadi sumber keberkahan bagi orang banyak, dijadikan teladan dalam sikap, ucapan dan perilakunya. Ia mesti menerapkan sikap waro' (menjauhi perkara yang haram dan syubhat) sehingga doa-doanya mustajab. 

 

Tidak thoma' (rakus) terhadap bantuan pemerintah, sehingga lebih suka mandiri dalam membangun pondoknya. Rajin pula bertaqarrub dengan menjalankan ibadah-ibadah yang sunnah, termasuk pula mentirakati keturunan dan para santrinya agar saleh-salehah, berkah dan manfaat ilmunya, selamat dan bahagia dunia akhiratnya. 

 

Karena kalau mendidik itu cuma dengan pengajaran dan nasehat saja, terasa kurang "menggigit" atau belum bisa memberi bekas yang kuat dalam membentuk karakter yang baik dan kuat bagi mereka. Maka perlu didukung dengan laku tirakat gurunya, antara lain mempuasai hari kelahiran mereka, mendoakan berbagai kebaikan untuk mereka di tengah malam, serta laku spiritual lainnya. 

 

Kalau jadi kiai atau ulama cuma bermodalkan kemampuan memimpin tahlil, ziarah kubur, berpidato dari panggung ke panggung,  atau berpakaian jubah dengan dialek yang difasih-fasihkan, tukang obat juga bisa. 

 

Sejatinya jadi kiai itu bukan untuk dihormati oleh para santri maupun jemaahnya, agar mendapatkan prestise atau kedudukan mulia di tengah masyarakat atau mendapatkan fasilitas dari pemerintah serta keuntungan duniawi lainnya. Tetapi Kyai itu harus menjadi solusi bagi problematika sosial di sekitarnya, memberi pencerahan dan penyejuk bagi umat, menjadi benteng moral serta perlindungan spiritual bagi warga dan bangsanya.

 

Cep Herry Syarifuddin, Pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrahim


Ngalogat Terbaru