• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Kamis, 30 Mei 2024

Ngalogat

Harmoni Agama di Pulau Dewata: Teladan Keberagaman dan Moderasi dari NU

Harmoni Agama di Pulau Dewata: Teladan Keberagaman dan Moderasi dari NU
Puja Mandala adalah pusat peribadatan yang menghadirkan lima rumah ibadah di dalam satu kompleks. Puja Mandala berada di Desa Kampial, Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. (Foto: NU Online Jabar/Nasihin)
Puja Mandala adalah pusat peribadatan yang menghadirkan lima rumah ibadah di dalam satu kompleks. Puja Mandala berada di Desa Kampial, Kelurahan Benoa, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. (Foto: NU Online Jabar/Nasihin)

Pulau Dewata, Bali, bukan hanya terkenal dengan keindahan alamnya, tetapi juga sebagai tempat harmonisasi antara NU (Nahdlatul Ulama) dan non-Muslim. Melalui keteladanan dan prinsip Islam Rahmatan Lil Alamin, NU berhasil membangun relasi yang erat dengan komunitas non-Muslim, menjadi contoh bagi masyarakat di seluruh Nusantara.


Sebagaimana kita ketahui NU, tetap konsisten menjalankan Islam Rahmatan Lil Alamin. Dakwah yang penuh kesantunan, kedamaian, serta lues dan tentunya humuris menjadi ciri khas dakwah ala NU. Teladan itu telah dijalankan oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari, muassis NU dan kini menjadi pedoman untuk warga NU dalam menjalankan hubungan dengan siapapun termasuk non-Muslim.


Seperti kisah yang dicatatkan Muhammad Asad Syahab, kedekatan Kiai Hasyim Asy'ari dengan Karl Von Smith (l. 1902 M), arsitek kewarganegaran Belanda. Ketika Karl Von Smith berdiskusi dan menanyakan seputar Islam, Kiai Hasyim menerangkan dengan logika yang mudah sesuai yang diketahui Karl Von Smith.


Ketika Karl Von Smith tertarik dan penuh kesadaran ingin memeluk Islam, tanpa diduga Kiai Hasyim mengutarakan:


“Sungguh Anda bebas memilih agama yang Anda kehendaki dan Anda relakan untuk diri Anda. Anda sekarang sudah mengenal Islam. Maka, pilihlah keyakinan dan agama untuk diri Anda yang Anda yakini, dengan syarat bahwa keimanan dan keyakinan ini harus dibangun atas dasar ilmu, analisis, kesadaran, dan keyakinan setelah benar-benar mempelajarinya secara tepat.”

Kiai Hasyim, Gus Dur dan para Kiai NU membangun relasi Muslim dan non-Muslim dengan sangat baik dan menjadi teladan untuk kita hari ini, walaupun mungkin terkadang gerakan ini mendapat nyinyiran dan fitnah.


Gerakan dan kebijakan para Kiai NU dalam membangun relasi ini, saya alami dan rasakan pula ketika melakukan perjalanan di Pulau Bali, tepatnya di daerah Tabanan dan Buleleng. Saya berkenalan dengan penganut Hindu dan Protestan. Mereka secara terbuka dan senang berkenalan dan memberi jawaban dari setiap pertanyaan dan memberikan cerita pengalaman mereka berhubungan dengan warga NU.


Di antara non-Muslim yang saya ajak bicara di antaranya: Bli Nyoman Pastika, Putu Ida Puspita dari Hindu dan Billy dari Protestan. Nyoman Pastika bercerita pengalamannya tentang hubungan kedekatannya dengan orang yang berbeda keyakinan dengan dirinya, salah satunya dengan warga Nahdliyin yang ada di Bali.


Nyoman bercerita bahwa ia kerap membantu acara-acara kebudayaan Islam seperti Maulid Nabi dan acara keislaman lainnya yang menjadi ciri khas warga Nahdliyin. Bukan hanya itu saja, Nyoman juga mengaku kerap memenuhi undangan acara-acara keislaman lainnya.


"Saya suka membantu membuat hiasan ketika akan diadakan acara Maulid, sering diundang juga" ungkap pria yang biasa di panggil Pak Nyoman ini.


Sementara itu, Billy adalah seorang pengusaha perhotelan, dia tinggal di daerah Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Sama seperti Nyoman, Billy juga kerap membantu dan memenuhi acara keislaman yang ada di Bali. Bahkan, Billy mengaku bahwa dirinya hafal sholawat dan membaca buku-buku keislaman.


Billy menuturkan pengalamannya berhubungan dengan warga NU, sering bergaul dengan santri dari Pesantren NU dan sering melakukan kegiatan ataupun hanya sekedar ngopi dan ngobrol bareng. Hubungan ini sudah Billy lakukan sejak masa anak-anak baik di Bali dan Lombok.


"Saya senang berkenalan dengan warga NU, Saya sering di undang di acara Maulidan, saya hafal Sholawat, saya sering juga baca buku-buku tentang Islam,” ungkap Billy.


Mereka adalah sebagian kecil dari warga non-Muslim yang menghargai perbedaan dan mempraktikkan nilai-nilai toleransi dan moderasi beragama. Tentunya, ia juga mencintai warga NU walaupun secara keyakinan berbeda. 


Pengalaman pribadi di daerah Tabanan dan Buleleng, Bali, menunjukkan bahwa gerakan dan kebijakan NU dalam membangun relasi berdampak positif. Interaksi dengan penganut Hindu dan Protestan seperti Bli Nyoman Pastika dan Billy menggambarkan keakraban antarumat beragama. Dukungan aktif mereka terhadap acara keislaman, seperti Maulid Nabi, menciptakan kebersamaan yang mengesankan.


Hubungan relasi yang telah dibangun para pendiri dan Kiai NU adalah berkah untuk kita dan Indonesia, melahirkan kerukunan, kedamaian antarumat beragama yang tentunya bukan hanya di Bali tapi di seluruh bumi Nusantara. 


Teladan ini bahkan dikembangkan oleh jajaran kepengurusan periode saat ini, NU yang dinakhodai KH Yahya Cholil Stakuf atau biasa dipanggil Gus Yahya menyebarkan gerakan ini sampai tingkat Internasional. Religion 20 atau R20, ASEAN Intercultural and Interreligious Dialogue Conference (IIDC), Muktamar Internasional Fikih Peradaban dan kegiatan lainnya adalah bukti komitmen NU dalam menyebarkan Islam Rahmatan Lil Alamin ke semua penjuru dunia.


Toleransi dan Moderasi di Konferensi Moderasi Beragama

Pembukaan Konferensi Moderasi Beragama Asia-Afrika dan Amerika Latin (Foto: Kemenag.go.id)

Terbaru, adalah Konferensi Moderasi Beragama Asia-Afrika dan Amerika latin yang bertajuk ‘Religion and Humanity”. Acara yang berlangsung di Gedung Merdeka, Kota Bandung, Jawa Barat pada Rabu (20/12/2023) itu dihadiri oleh 18 duta besar dari negara-negara di Asira, Afrika dan Amerika Serikat.


Konferensi moderasi beragama ini bertujuan untuk membangkitkan semangat perdamaian dan persatuan, sebagaimana yang terjadi dalam Konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955 silam. Salah satu tujuan besar dalam acara tersebut adalah mendorong suasana global yang damai antarumat beragama di seluruh dunia yang diharapkan dapat mendukung terwujudnya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dalam perspektif agama.


Konferensi yang berlangsung hingga 22 Desember 2023 di dua tempat bersejarah di Bandung, yaitu Gedung Merdeka dan Hotel Savoy Homann Bandung. Forum ini mengundang pemimpin, cendekiawan, dan praktisi dari berbagai latar belakang untuk membangun dialog yang mendorong moderasi, toleransi, kesetaraan, dan keamanan dunia.


Penulis: Nasihin
Editor: Agung Gumelar


Ngalogat Terbaru