Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Benarkah Empat Puluh Kali Ziarah ke Wali Songo Bisa Berangkat Haji?

Benarkah Empat Puluh Kali Ziarah ke Wali Songo Bisa Berangkat Haji?
Rombongan ziarah wali songo. (Foto: NUJO?Zahra)
Rombongan ziarah wali songo. (Foto: NUJO?Zahra)

Oleh Zahra Amin
Pada hari Ahad, 24 Juli 2022 kemarin, kami rombongan jamaah haji tahun 2019 yang tergabung dalam KBIH NU Kawedanan Karangampel Kabupaten Indramayu, melaksanakan ziarah ke makam para wali. Antara lain, ke Makam Sunan Gunung Djati Cirebon, Makam Sunan Kalijaga Demak, dan terakhir di Raden Patah Masjid Agung Demak Jawa Tengah.

 

Ketika menikmati perjalanan bersama rombongan itu, saya teringat dengan almahum orang tua, Mama KH Amin Mubarok, yang dulu semasa hidupnya rutin setiap tahun melaksanakan ziarah wali songo. Beliau memulai tradisi ziarah ini sejak awal tahun 80-an, dengan diikuti sedikit orang. Hanya satu mobil kecil saja.

 

Sampai puncaknya pada akhir tahun 90-an, rombongan ziarah wali songo yang Mama kelola diikuti oleh tujuh bis. Jamaah peziarah tersebar dari Wilayah Indramayu Bagian Barat, Tengah dan Timur. Saya lupa siapa saja yang ditunjuk sebagai koordinator. Tetapi saya ingat, saat itu ada pula sahabat karib Mama almarhum KH Masduki (Rais Syuriyah PCNU Indramayu 3 periode), yang juga memimpin satu bis rombongan ziarah dari Desa Pawidean dan sekitarnya.

 

Memori pergi berziarah wali songo bersama orang tua masih hangat dalam ingatan. Kami tidak hanya sekedar melakukan ritual, berdoa, bertahlil dan bertawasul kepada para Wali, agar mengabulkan segala hajat dan keinginan dari para jamaah. Tapi lebih dari itu, ada nuansa kebersamaan dan jalinan silaturahmi karena berhari-hari kami berinteraksi dalam satu kendaraan.

 

Terlebih di tahun-tahun itu, belum ada jalan tol Trans Jawa. Praktis perjalanan memakan waktu lebih lama. Saya ingat betul, kami melakukan perjalanan ziarah wali songo ditambah Madura ke makam KH Kholil Bangkalan menghabiskan waktu sekitar 4 hari 3 malam. Biasanya berangkat Minggu siang selepas Mama pengajian pasaran kitab di Ahad Pagi. Lalu sampai kembali di rumah Rabu dini hari hingga jelang Subuh.

 

Suatu saat saya iseng bertanya, "mengapa senang sekali ziarah wali songo?".

 

Kata beliau kalau melakukan ziarah wali songo 40 kali itu nanti insyaallah bisa berangkat haji. Lantas saya menjawab. Kalau ziarah wali songo hanya setiap tahun, apakah juga harus menunggu 40 tahun? Beliau menjawab lagi. “Ya tidak juga, dalam rentang waktu itu tetap harus ada ikhtiar untuk daftar haji, dan membayar seluruh kebutuhannya.”

 

Percakapan saya dengan almarhum Mama teringat kembali saat mengikuti ziarah bersama rombongan haji 2019 KBIH NU kemarin. Saya mencari tahu, apakah betul orang yang melakukan ziarah wali songo 40 kali kelak akan bisa berangkat haji? Lalu saya menemukan jawabannya.

 

Melansir dari merahputih.com di abad 19, kaum Muslim menganggap berziarah tujuh kali mengelilingi masjid Demak sama dengan naik haji ke Mekkah. Ziarah tersebut dilakukan pada tahun 1930. Menukil dari R Soerdjana Tirtakoesoema “Beantwoording van der vragen gesteld door den Demak” Djawa XVII 1937, kegiatan itu termasuk dalam pesta Besaran.

 

Mereka menjalani proses ziarah selama 10 hari, dari tanggal 1 hingga 10 Dzulhijjah. Para peziarah akan sembahyang dan mengaji di masjid Demak, serta menziarahi makam para wali, Sunan Kalijaga di desa Kadilangu. Ritual kemudian dimeriahkan dengan pasar malam di alun-alun.

 

Peralihan pusat spiritual Mekkah-Demak bahkan dianggap sebagai pertentangan ekonomi, kaya-miskin. Para peziarah makam wali, menurut Mufti M Mubarok pada tulisan Kaji Blangko: Berhaji di Tanah Jawa tanpa ke Mekkah, merupakan ‘haji orang Jawa miskin’. Disarankan pula agar para peziarah beroleh gelar, bila para calon haji ke Mekkah mendapat gelar Haji atau huruf H di depan nama, maka sepatutnya para peziarah wali memakai gelar ‘Kaji Blangkon’ dengan sematan huruf K di depan nama mereka.

 

Sementara itu menurut tradisi lain, empat puluh kali ziarah ke Imogiri sama dengan naik haji,” tulis Michael F Laffan, Islamic Nationhood and Colonial Indonesia: The umma Below the Winds. Tradisi peralihan ziarah makam lokal pengganti berhaji ke Mekkah tak terbatas pada pantai utara Jawa. Ritual serupa juga terdapat di Sumatera Barat. Menurut pengakuan beberapa orang, tujuh kali menziarahi makam Syekh Burhanuddin di Ulakan, sebelah utara kota Padang, sama dengan satu kali berhaji ke Mekkah.

 

Tradisi tersebut disebut basapa atau bersafar karena diadakan pada hari rabu setelah tanggal 10 Safar bertepatan dengan haul Syekh Burhanuddin (1699). Ulakan pun dianggap sebagai “Meka Ketek” (Mekkah Kecil). Di Sulawesi Selatan, menziarahi sebuah situs di Gunung Bawakaraeng, sekira 75 km sebelah utara kota Makassar, pun dianggap ibadah haji. Para peziarah di masa musim haji tersebut kelak disebut “Haji Bawakaraeng.”

 

Begitulah sejarah mencatat setiap proses perjalanan spiritual manusia, dalam mencari Tuhan berharap agar mampu menjadi tamu-Nya. Bertemu untuk menitipkan rindu pada sang Nabi Muhammad SAW. Meski Mekkah-Madinah jauh terbentang jarak ribuan kilometer, namun melalui wasilah para wali, yakin kami doa yang terlangitkan akan sampai jua pada muara. 

 

Penulis adalah aktivis perempuan, pengelola mubadalah.id

Terkait

Ngalogat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×