Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Puasa dari Syahwat Kekuasaan

Puasa dari Syahwat Kekuasaan
Ilustrasi: NUO.
Ilustrasi: NUO.

Syahwat adalah bagian dari tabiat naluri manusia. Tidak ada manusia yang tidak punya syahwat. Jika setan itu musuh yang menggoda dari luar --yang di bulan Ramadhan ini dibelenggu--, maka syahwat itu tantangan dari dalam diri sendiri, yang terus menggoda. Jika setan bisa diusir, maka syahwat tidak bisa. Itulah yang paling berat; melawan syahwat alias hawa nafsu.


Ingatlah, Islam hadir bukan untuk menutup pintu syahwat tapi untuk mengontrol alias mengendalikan dan menyalurkannya dengan tepat dan proporsional. 


Ibadah puasa ini salah satu latihan untuk mengendalikan syahwat kemanusiaan kita. Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya menjelaskan bahwa puasa itu bertujuan supaya manusia tidak terjerumus syahwatnya. Itu sebabnya perkara yang halal sekalipun -seperti makanan, minuman dan seks – diminta kita untuk menahan diri di siang hari, apalagi terhadap hal yang haram.


Namun apa yang terjadi? Pada bulan puasa, justru kebutuhan rumah tangga meningkat. Ketika kita sudah berpuasa di siang hari, syahwat kita memuncak untuk menikmati hidangan yang sejatinya tidak pernah hadir di meja makan kita di luar Ramadan. Timun suri, kolak pisang, kurma, es kelapa muda –sekadar menyebut hidangan takjil. Belum lagi hasrat untuk membeli pakaian serba baru, dan di penghujung Ramadan nanti, tradisi mudik juga mengeluarkan biaya yang tak sedikit. Puasa tak lagi sekadar ritual, tapi sudah menjadi bagian dari budaya konsumerisme. Celakanya, harga bahan pokok pun meningkat tajam mengikuti kaidah supply dan demand.


Selain syahwat yang berupa naluri manusia seperti makanan, minuman dan seks, terdapat pula syahwat jenis lain yang mengintai kita, yaitu syahwat kekuasaan. 


Terkenal adagium bahwa  “Semua orang bisa tahan dengan kesengsaraan, tapi bila kau ingin mengetahui karakter seseorang, berilah dia kekuasaan”. Puasa selalu diberi makna sebagai bagian dari solidaritas sosial dimana kita belajar merasakan kesengsaraan orang fakir-miskin yang sepanjang tahun “berpuasa” dari kebutuhan dasar manusia. Kita berlatih merasakan pedihnya penderitaan mereka selama sebulan di bulan Ramadan. Dan umumnya kita bisa lulus ujian ‘kesengsaraan’ ini.


Akan tetapi, kita boleh jadi gagal dalam ujian syahwat kekuasaan. Merasakan pedihnya penderitaan orang lain tidak akan ada artinya kalau kita gagal mengubah ketimpangan sosial yang ada. Yang fakir dan miskin pada bulan Ramadan tahun lalu, boleh jadi kini bertambah banyak jumlahnya. Alih-alih membantu mereka agar keluar dari garis kemiskinan, kita malah menjadikan kepedihan hidup mereka sebagai cara mendekatkan diri kita pada Tuhan di bulan Ramadan. Tentu menjadi ironis bukan?


Itu sebabnya bulan Ramadan tidak hanya berisi menahan syahwat, tapi kita juga diwajibkan menolong fakir dan miskin lewat zakat fitrah. Tapi tidak mungkin rasanya kita menghapus ketimpangan sosial hanya lewat beras 2-3 kg saja. Ketimpangan sosial terjadi akibat sebagian pihak tidak bisa menahan syahwat kekuasaannya sehingga kue pembangunan hanya dirasakan oleh segelintir elit semata.


Ibadah di bulan Ramadan sebaiknya mampu membuat para elit di negara kita  untuk tidak hanya menahan syahwat berupa makanan dan seks semata, tapi juga menahan diri dari terus memperkaya diri, atau hendak memperpanjang jabatan, dan lalu melupakan pelayanan terbaik untuk rakyat. Puasa mengajari kita untuk mengubah kekuasaan dari sekadar syahwat menjadi maslahat untuk semuanya.  Semoga.


Nadirsyah Hosein, Rais Syuriah PCINU Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Terkait

Hikmah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×