• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Jumat, 19 April 2024

Hikmah

Bulan Gus Dur

Gus Dur Rela Menanggung Luka (1)

Gus Dur Rela Menanggung Luka (1)
KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (Foto-NUO)
KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur (Foto-NUO)

KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur bukan hanya dikagumi dan dirindukan banyak orang. Ia juga dibenci, dicaci-maki, disumpahserapahi dan direndahkan sebagian orang. Bahkan ada seorang yang dianggap tokoh ulama oleh pengikutnya begitu benci kepada Gus Dur, sampai mencaci keberadaan tubuhnya: "Gus Dur itu si buta. Dia buta mata dan buta hatinya".  


Tetapi caci maki, sumpah serapah dan kutukan-kutukan para pembenci Gus Dur, tak membuatnya menjadi rendah, tak menjadi kecil dan tak pula membuatnya terkucil. Itu tak menggetarkan hatinya. Malahan gempuran-gempuran terhadapnya seperti itu justru semakin mengukuhkan kebesarannya, meneguhkan perjuangannya dan semakin mengalirkan simpati masyarakat kepadanya. Gus Dur menanggung semuanya dengan diam. 


Sebaliknya mereka dan dia yang mencaci maki Gus Dur, satu persatu dicaci-maki dan direndahkan publik. Mereka menghilang tanpa harga dan tanpa muka. Ucapan, nasehat dan ceramah mereka tak lagi berharga. Begitu hina dinanya mereka. 


Gus Dur tetap terus menapaki jalan lurus yang ditempuhnya menuju cita-citanya: Keadilan bagi semua dan persaudaraan atas dasar kemanusiaan. Gus Dur adalah orang besar yang namanya akan dicatat sejarah peradaban sebagai pejuang kemanusiaan. Bahkan begitu wafat Gus Dur disebut sebagai Bapak Pluralisme,  Guru Bangsa dan Kemanusiaan.


Kita sudah membaca sejarah umat manusia dan sejarah orang-orang besar. Orang-orang besar selalu mengandung dualitas yang paradoks: dikagumi dan dicemooh dalam waktu yang sama. Ka’ab al-Ahbar, seorang ahli tafsir berbagai kitab suci, bilang:


مَاكَانَ رَجُلٌ حَكِيْمٌ فِى قَوْمِهِ قَطُّ اِلَّا بَغَوْا عَلَيْهِ وَحَسَدُوهُ


“Tak ada tokoh bijak-bestari di sebuah komunitas kecuali selalu saja ada orang-orang/kelompok yang mencaci-maki dan mendengki dia.” 


Jalal al-Din al-Suyuthi, ulama besar, seorang ensiklopedis dengan ratusan karya tulisnya, mengatakan hal yang sama, tetapi dengan redaksi bahasa yang sedikit berbeda:


مَاكَانَ كَبِيْرٌ فِى عَصْرٍ قَطُّ اِلَّا كَانَ لَهُ عَدُوٌّ مِنْ السَّفَلَةِ. إِذِ الْاَشْرَافُ لَمْ تَزَلْ تُبْتَلَى بِا لْاَطْرَافِ فَكَانَ لِآدَمَ إِبْلِيس , وَكَانَ لِنُوحٍ حَام وَغَيْرُه وَكَانَ لِدَاوُدَ جَالُوت وَاَضْرَابُه وَكَانَ لِسُلَيْمَان صَخَر وَكَانَ لِعِيْسَى بُخْتَنْصِر وَكَانَ لِاِبْرَاهِيم النَمْرُود وَكَانَ لِمُوسَى فِرْعَون وَهَكَذَا اِلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ لَهُ ابو جَهَل


"Tidak ada tokoh besar pada setiap zaman kecuali dicacimaki orang-orang bodoh. Orang-orang terhormat selalu diuji oleh orang-orang pinggiran. Dulu Nabi Adam dibenci Iblis, Nabi Nuh dibenci Ham dan lainnya, Nabi Daud dimusuhi Jalut dan pasukannya, Nabi Sulaiman dibenci Sakhr, Nabi Isa dimusuhi Bukhtanshir, Nabi Ibrahim dibenci Namrud, Nabi Musa dibenci Firaun, dan seterusnya sampai Nabi Muhammad SAW. Beliau dimusuhi Abu Jahal.”


Para tokoh bijak-bestari (Hukama) dalam sejarahnya, memang, bukan hanya disumpah-serapah dan dibenci, tetapi juga dikafirkan, dibid’ahkan, dizindiq-kan (dituduh atheis). Dan ingin dilenyapkan oleh mereka yang tak matang secara intelektual dan spiritual, atau oleh mereka yang pikirannya tergantung pada bentuk-bentuk kredo formal dan teks-teks literal keagamaan atau oleh fanatisme pada kebenaran diri sendiri dan buta pada kebenaran yang lain. 


Imam Syafii mengatakan : 

Si pembenci selalu melihat yang dibenci serba buruk rupa saja. 

(Bersambung)


Hikmah Terbaru