• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Senin, 26 Februari 2024

Hikmah

KOLOM BUYA HUSEIN

Darwisy Al-Jawwal

Darwisy Al-Jawwal
Darwisy Al-Jawwal
Darwisy Al-Jawwal

Suatu hari seorang Darwisy tiba di sebuah kota, sesudah menempuh perjalanan berhari-hari dari tempat yang jauh. Ia sengaja ke kota itu untuk mencari seseorang yang sering hadir dalam mimpi-mimpinya. Dia bertekad untuk bertemu dengannya, karena memendam gelisah yang panjang. Ia merasa air kolam hatinya tak mengalir. Ini bisa membuat air kolam itu keruh dan bau. Ia berharap bertemu orang yang hadir dalam mimpinya itu untuk mengalirkan air jiwanya itu.


Di kota itu ia disambut penduduknya dengan muka tak suka, karena melihat penampilannya yang kotor, "kumel" dan wajah yang tak menarik. Mereka kemudian mengusirnya dengan suara keras : “Kamu keluar !, di sini tak ada orang yang mengenalmu”.


Si Darwisy dengan tenang menjawab : “Tapi aku mengenal diriku, percayalah. Jika tidak demikian, ya jika manusia tak mengenal dirinya sendiri dunia akan ditimpa kekacauan”. Orang-orang itu tertegun, bengong, tak paham. Darwisy pun melanjutkan bicaranya : “Bila aku mengenal diriku, maka segalanya akan berlangsung baik”. Orang-orang itu tambah bingung. Darwisy lalu memungkasi dengan pernyataan quotes yang memukau sealigus sangat mendalam, filosofis :


من يعرف نفسه يعرف الواحد الاحد


Man Ya’rif Nafsah, Ya’rif al-Wahid al-Ahad” (Siapa yang mengenal dirinya, dia akan mengenal Tuhan Yang Maha Esa).


Kata lain dari ini yang lebih populer : 


من عرف نفسه فقد عرف ربه


Siapa yang mengenal dirinya dia niscara akan mengenal Tuhannya. 


Seorang teman bertanya mengapa tidak dikatakan : "siapa yang mengenal Tuhannya, dia mengenal dirinya?".


Aku menjawab spontan saja: bagaimana bisa, dia mengenal Tuhan, sementara dia tak mengenal dirinya sendiri?. 


Ya, orang yang mengetahui, mengenal dan merasa dirinya lemah, tak berdaya, miskin, diciptakan, dan tak menciotakan dirinya dan lain-lain, maka dia akan mengenal Tuhan. Wujud Yang Maha dalam segala. 


Si Darwisy itu sesungguhnya ingin mengatakan bahwa orang yang mengenal dirinya sebagai tak bisa mencipta, dia akan rendah hati, bersahaja dan penuh kasih kepada ciptaan-Nya. 


Dia mengangguk-angguk. Lalu bertanya siapakah Darwisy itu?.


Aku bilang , Darwisy biasanya dimaknai sebagai seorang zahid, ugahari, sufi, bersahaja, rendah hati dan tak ingin dikenal. 


Guru maulana Jalaluddin Rumi, Syeikh Syams-i Tabrizi, dikenal sebagai Darwisy pengelana/pengembara. Darwisy Jawwal. الدرويش الجوال 


KH Husein Muhammad, salah seorang Mustasyar PBNU


Hikmah Terbaru