• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 16 April 2024

Garut

Siap Layani 85 Calon Jemaah, Ketua KBIH Al-Huda Tarogong Garut Pesan Jaga Kemabruran Ibadah Haji 

Siap Layani 85 Calon Jemaah, Ketua KBIH Al-Huda Tarogong Garut Pesan Jaga Kemabruran Ibadah Haji 
(Foto: NU Online Jabar/Rudi Sirojudin A)
(Foto: NU Online Jabar/Rudi Sirojudin A)

Garut, NU Online Jabar
Pada tahun haji 2024 ini, Pondok Pesantren Al-Huda Tarogong-Garut yang beralamat di Jalan Oto Iskandar Dinata No.24 Telp. (0262) 232067-234400 Kecamatan Tarogong Kaler melalui Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) siap memberangkatkan 85 calon jemaah haji. Di tanah suci nanti, rencananya jemaah haji yang terdiri dari 34 jemaah laki-laki dan 51 perempuan akan didampingi dan dibimbing langsung oleh ketua KBIH Al-Huda H Muhammad Rifki Banani.


Pria yang akrab disapa Ceng Rifki tersebut menyampaikan jika tidak ada halangan, maka seluruh calon jemaah haji KBIH Al-Huda akan berangkat pada tahun 2024 ini.


"Jemaah haji Al-Huda jika tidak ada halangan  berikut jemaah cadangannya akan berangkat tahun ini. Namun, terkait dengan kepastian gelombang berangkatnya belum ada kepastian. Biasanya kepastian gelombang pemberangkatan ditentukan pemerintah selepas bulan Rhamadan yakni pada bulan Syawal. Sementara yang akan mendampingi calon jemaah haji adalah saya sendiri," ucapnya saat dihubungi NU Online Jabar, Ahad (18/2/2024). 


Ceng Rifki menjelaskan terkait cara meraih predikat haji mabrur. Ia mengutip hadis Nabi SAW yang dikutip Imam Badrudin Al-Aini dalam Umdatul Qari: 


قالوا: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الْحَجُّ الْمَبْرُوْرُ؟ قال: "إِطْعَامُ الطَّعَامِ، وطيب الكلام


Artinya: "Seorang sahabat bertanya kepada Nabi: Wahai Rasulullah, apa nama yang dinamakan Haji Mabrur? Nabi menjawab: `ith'amut tha'am wa thayyibul kalam' Haji Mabrur itu yakni memberi makan orang dan menjaga lisan."


"Mengutip pendapat ulama, haji mabrur itu, pertama santun dalam bertutur kata (thayyibul kalam) dan kedua, memiliki kepedulian sosial terhadap orang yakni  mengenyangkan orang yang sedang lapar (ith‘amut tha‘am)" tuturnya yang juga sebagai wakil sekretaris PCNU Garut itu. 


Ceng Rifki memberi gambaran bahwa di Makah dan Madinah nanti, lebih-lebih di Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina) sangat mungkin seseorang itu akan berkeluh-kesah, bahkan bisa jadi dapat mengeluarkan kata-kata yang tidak baik, yang tidak sopan karena fasilitas terbatas, semua berdesak-desakan, saling berebut, yang memungkinkan saling tersikut. 


Menurutnya jika jemaah haji saling menyalahkan maka akan dengan sangat mudah dapat mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan, sehingga akan memendam rasa tidak nyaman, benci, hasut, dan bahkan mungkin juga amarah kepada orang lain. "Hal itulah yang dikhawatirkan, yang jauh dari kategori tayyibul kalam bertutur kata baik," imbuh Ceng Rifki. 


Pria yang juga sebagai mantu dari Rais Syuriah PCNU Garut KH R Amin Muhyiddin Maulani itu menjelaskan ujian ith‘amut tha‘am, atau memberi makan orang akan kelihatan pada saat Armuzna juga. Banyak peristiwa yang membutuhkan pertolongan, perhatian, entah itu karena tua renta, lemah, karena mereka tidak mampu melakukan sesuatu yang memerlukan pertolongan dan kepedulian kita.


"Maka bagi orang yang tidak memiliki sifat ith‘amut tha‘am, mereka akan cuek, mereka tidak peduli, mereka hanya mementingkan dirinya sendiri, dan tidak mau menoleh kanan kiri yang memerlukan bantuan pertolongan di saat mereka sedang dalam kesusahan maupun membutuhkan. Itu yang terjadi pada saat mereka berada di Makah dan Madinah, lebih-lebih setelah mereka pulang dari haji ketika berada di tanah air. Dengan demikian kepedulian sosial bagi jemaah haji sangat mempengaruhi kemabrurannya," jelas Ceng Rifki. 


Ia menambahkan bahwa haji mabrur tidak diukur dari seberapa banyak melakukan salat-salat fardhu, salat sunnah, ibadah-ibadah lain yang sudah dilakukan di masjid, bukan itu. Begitu pula bukan seberapa banyak jumlah rakaat yang sudah dilakukan. 


Ceng Rifki menilai, mabrur itu adalah seberapa tinggi seseorang memiliki kepedulian, seberapa kuat mampu memberikan layanan kepada orang lain, dan seberapa baik wajah kita berhadapan dengan orang lain. 


"Shalat, puasa, dan ibadah lain tetap penting. Tetapi bagi yang sudah berhaji juga seberapa kuat dalam menjaga mulut dan hati agar tidak mudah berkata bohong, berkata-kata yang tidak memiliki manfaat, atau membuat orang lain itu tidak nyaman," tuturnya. 


"Saya berharap kepada yang nantinya sudah menjadi jamaah haji agar terus mampu meningkatkan ibadah dan ketakwaannya setelah selesai ibadah haji. Hal itu harus selalu menjadi pegangan sebagai bagian dari upaya untuk menjaga keberkahan dan mabrurnya ibadah haji seseorang," tandas Ceng Rifki 


Garut Terbaru