Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Empat Tingkatan Hati Menurut KH Aceng Abdul Mujib

Empat Tingkatan Hati Menurut KH Aceng Abdul Mujib
Empat Tingkatan Hati Menurut KH Aceng Abdul Mujib. (Foto: M Salim).
Empat Tingkatan Hati Menurut KH Aceng Abdul Mujib. (Foto: M Salim).

Garut, NU Online Jabar
Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita sering  mengalami rasa yang berbeda saat beribadah, kadang terasa bersemangat ataupun ada rasa malas yang luar biasa saat akan melaksanakan ibadah. Hal tersebut bisa dikategorikan bahwa hati kita sedang ada dalam tingkatan tertentu, sehingga saat kita beribadah terkadang merasa nikmat ataupun terasa jemu bahkan terasa hambar. 


Terkait hal tersebut, A'wan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat KH Aceng Abdul Mujib mengungkapkan empat tingkatan hati


Tingkatan yang pertama disebut Rofa' yang berarti di atas. dimana kategori pertama ini menunjukkan bahwa hati kita sedang diangkat oleh Allah SWT karena hati kita senantiasa berdzikir kepada-Nya, terutama saat kita menerima hinaan dan cacian dari sesama manusia. Menurutnya,  kita tidak menghiraukannya karena hanya ingin mendapatkan kemuliaan dihadapan Allah SWT.


''Hati yang rofa selalu ingat kepada Allah SWT, sehingga ia selalu berdzikir kepada-Nya." tutur Aceng Mujib.


Tingkat kedua yaitu Fatah yang artinya terbuka. Kiai yang juga sebagai pengasuh Pondok Pesantren Salaman Fauzan III menjelaskan, kita ridla kepada Allah dan mampu menerima segala ketetapan yang telah kita terima dari Allah SWT. Seperti halnya kita mampu menerima ketika kita kehilangan orang yang sangat kita sayangi karena meninggal sesuai dengan ketetapan Allah SWT.


Karena pada prinsipnya, semua yang terjadi kepada kita, baik maupun buruknya hal tersebut semuanya adalah terbaik bagi kita menurut-Nya.


Kemudian kategori ketiga adalah kategori yang harus kita hindari, yaitu hati yang khafad yang artinya turun atau rusak. Dimana orang yang memiliki hati tersebut memiliki kecenderungan untuk mengejar dunia, namun masih sedikit ingat kepada Allah. Jika tiba waktu ibadah, biasanya ia lebih mementingkan urusan dunia ketimbang urusan akhiratnya.


Terakhir, yaitu waqof yang berarti berhenti. Maksudnya yaitu berhenti atau lupa kepada Allah SWT. Dimana kategori harus kita jauhi agar kita tidak lupa kepada Allah SWT.


Dalam hal ini, Aceng Mujib yang juga ketua Umum Aliansi Masyarakat Garut Anti Radikalisme dan Intoleran (ALMAGARI) juga merinci ciri-ciri daripada setiap kategori tingkatan hati tersebut.


Ciri kategori hati Rofa', pertama adanya kecocokan dengan aturan agama, kedua perbuatan yang dilakukan tidak ada penyimpangan dari aturan agama. Dan ketiga merasa rindu kepada yang terkasih, yaitu Allah SWT, sehingga untuk mengisi menanti waktu  beribadah kepada Allah di setiap jeda waktu, biasanya ia selalu berdzikir kepada Allah SWT melalui bacaan tasbih.


Selanjutnya ciri kategori hati Fatah, pertama orang yang memiliki hati kategori fatah biasanya ia selalu bertawakal atau pasrah kepada Allah terhadap baik dan buruk ketetapan yang sudah diterimanya. Kedua adalah sidku atau jujur.


''Ketika apa yang menjadi keinginan tidak sesuai dengan apa yang didapatkan, orang yang memiliki hati fatah akan menerima karena ia yakin semuanya adalah yang terbaik dari Allah SWT." ujarnya.


Kemudian ciri kategori hati Khofad, pertama yaitu ujub atau takabur, kedua ia selalu ria atau pamer terhadap apa yang dilakukannya, dan ketiga ia selalu tamak atau cinta pada dunia.


''Kalau orang hang punya ciri ini biasanya merasa paling pintar, paling kaya, paling soleh, namun sebaliknya dihadapan Allah, dan bahkan sering lupa akan kewajibannya beribadah kepada Allah SWT." Jelas Aceng Mujib


Terakhir, ciri kategori hati Waqof, yaitu yang pertama hilang rasa manis saat ibadah, kedua hilang rasa pahit saat maksiat atau dosa, dan ketiga apapun yang ia lakukan, ia tidak bisa membedakan antara halal dengan haram sehingga semuanya dilabrak.


"Jangan sampai kita lupa kepada Allah karena terus mengejar urusan dunia. Apalagi sudah tidak merasakan manisnya beribadah kepada Allah, ataupun manisnya ketika seorang istri melayani suaminya, serta kewajiban lainnya.'' tutupnya.


Pewarta: Muhammad Salim
Editor: Muhammad Rizqy Fauzi

Terkait

Garut Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×