Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Layakkah Diri Ini untuk Berdzikir?

Layakkah Diri Ini untuk Berdzikir?
Layakkah Diri Ini untuk Berzikir? (Foto: NUO)
Layakkah Diri Ini untuk Berzikir? (Foto: NUO)

Tak jarang kita mendengar dari para pemuka agama, baik guru maupun kiai tentang suatu amalan yang memiliki keutamaan. Hal ini tentunya memantik hati untuk senantiasa mengamalkannya. Akan tetapi, terkadang rasa bimbang juga menyertai perasaan yang mempertanyakan “dari mana kita harus memulainya?”.


Sehingga pada akhirnya, keinginan tersebut hanya sebatas menggantung menjadi angan dan harapan bagi tiap-tiap hamba yang ingin bergerak mendekat menuju pada Tuhannya. Keutamaan berbagai amalan yang disampaikan oleh para da’i hanya sebatas menjadi pengetahuan yang tidak dilandasi dengan praktik yang nyata.


Padahal, Imam Nawawi telah mewanti-wanti hal tersebut seraya memberikan kita arahan dalam salah satu kitab monumental yang dikarangnya berjudul Al-Adzkar An-Nawawi. dalam permulaan kitab tersebut. Kiai Mushonif menjelaskan secara ringkas bahwa:

 

(فصل) اعلم انه ينبغي لمن بلغه شيء من فضائل الأعمال ان يعمل به و لو مرة واحدة ليكون من أهله ، و لا ينبغي أن يتركه مطلقا بل يأتي بما تيسر منه، لقول النبي في الحديث المتفق على صحته ( اذا أمرتكم بشيء فأتوا منه ما استطعتم)


(Fasal) Ketahuilah, bahwa seyogyanya bagi seseorang yang telah sampai kepadanya sesuatu dari keutamaan beberapa amal hendaknya melakukan (mengamalkan) amal tersebut walaupun hanya sekali agar menjadi Ahli dari amal tsb. Dan tidak sepatutnya orang itu meninggalkan amal tersebut secara mutlak, akan tetapi hendaknya dia mengamalkan dengan perkara yang mudah dari amal itu. sebagaimana dalam hadits Nabi dijelaskan “Apabila aku menyuruh kalian sesuatu, maka lakukanlah dari perkara tersebut semampu kalian”.


Dari penjelasan yang tertera pada Kitab Al-Adzkar, Imam Nawawi mengingatkan kembali pada kita perihal betapa pentingnya melakukan suatu amal yang memiliki keutamaan walaupun hanya sekali, agar pelaku tersebut dapat disebut sebagai ahli dari amal yang dilakukan. Begitupula dengan memulainya dari apa yang menurut kita mudah dan mampu untuk dilakukan. Sebagaimana jika kita mendapatkan suatu ijazah dari para Kiai dan guru kita untuk mengamalkan dzikir, wirid atau do’a tertentu, bukan berarti terus menunda-nunda untuk mengamalkannya sampai diri ini merasa layak untuk melakukannya. Akan tetapi sangat dianjurkan untuk melakukannya walaupun barang sekali. 


Dalam kitab Al-Adzkar pula, Imam Nawawi melanjutkan pembahasan mengenai dzikir. Yang mana dalam kitabnya dijelaskan:


(فصل) اعلم أن فضيلة الذكر غير منحصرة في التسبيح و التهليل و التحميد و التكبير و نحو ذلك، بل كل عامل لله تعالى بطاعة فهو ذاكر لله تعالى.


(Fasal) Ketahuilah, bahwa sesungguhnya keutamaan zikir itu tidak hanya mencakup pada kalimat tasbih, tahlil, tahmid, takbir dan lain sebagainya. Akan tetapi, setiap amal perbuatan yang dilandasi rasa taat kepada Allah SWT itu bisa dikatakan sebagai zikir.


Bagi sebagian orang, pemaknaan zikir sendiri begitu sempit dan terbatas. Akan tetapi, hendaknya mindset seperti itu perlu diluruskan kembali sebagaimana keterangan yang dijelaskan oleh para ulama salafus salih. Dalam penjelasannya, zikir tidak hanya sebatas sesuatu yang diucapkan oleh lisan. Namun, bisa juga berupa tindakan yang dilandasi ketaatan. 


Sebagai contoh kecil, dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemui berbagai macam hal yang secara sekilas memang terlihat sebagai tindakan yang biasa saja, tapi bisa jadi tindakan yang dianggap biasa tersebut malah mengandung muatan zikir di dalamnya. Seperti tindakan tuan rumah yang memberikan minum kepada tamu yang mengunjunginya, maka layak pula tindakan tuan rumah itu disebut sebagai zikir karena Rasul sendiri menganjurkan umat muslim untuk memuliakan tamu.


Akhir kata, dalam tulisan yang singkat ini tentunya terdapat unsur ajakan bagi tiap individu untuk bermuhasabah tentang “sudah berapa jauh kita mengamalkan ilmu yang dimiliki”. Karena suatu ilmu akan lebih memberikan manfaat dan kedudukan di sisi Allah jika ilmu tersebut diamalkan. Sebagaimana yang tertera dalam surat Al - ‘Ashr, Allah SWT telah berfirman :


“Demi Masa (1) Sesungguhnya manusia dalam kerugian (2) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran (3). Wallahu a’lam.


Gus Galby Hadziq, Dewan Harian Pengurus LBM Pondok Pesantren se-Jabodetabek​​​​​​

Hikmah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×