• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Rabu, 24 April 2024

Ubudiyah

RAMADHAN

Keutamaan dan Amalan Rasulullah Saw pada 10 Hari Terakhir Puasa Ramadhan

Keutamaan dan Amalan Rasulullah Saw pada 10 Hari Terakhir Puasa Ramadhan
Berbagi salah satu amalan Rasulullah Saw pada 10 hari terakhir puasa ramadhan (Ilustrasi: freepik)
Berbagi salah satu amalan Rasulullah Saw pada 10 hari terakhir puasa ramadhan (Ilustrasi: freepik)

Bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa. Di antara semua bulan, Ramadhan memiliki keutamaan dan keistimewaan yang luar biasa. Di bulan ini, pahala dari amal ibadah menjadi berlipat-lipat, dosa-dosa diampuni bagi mereka yang bertaubat, dan segala aktivitas baik dianggap sebagai ibadah yang bernilai. Allah memberikan ganjaran yang besar bagi orang-orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh selama bulan Ramadhan.


Bulan Ramadhan dapat dibagi menjadi tiga fase yang berbeda. Fase pertama, yaitu sepuluh hari pertama, merupakan fase rahmat dan kasih sayang Allah. Fase kedua, yaitu sepuluh hari berikutnya, disebut sebagai fase maghfirah, yang artinya ampunan dari Allah SWT. Sedangkan fase ketiga, yaitu sepuluh hari terakhir, dikenal sebagai fase Itqun minan Nar, yang berarti pembebasan dari api neraka.


Fase sepuluh hari terakhir Ramadhan ini memiliki keistimewaan yang luar biasa dan selalu menjadi malam-malam favorit Rasulullah SAW. Beliau telah memberikan contoh bagaimana memanfaatkan sepuluh malam terakhir Ramadhan ini secara optimal.


Di antara yang dilakukan Rasulullah adalah menghidupkan malam-malam Ramadhan, membangunkan keluarganya untuk shalat malam, dan mengencangkan gamisnya yakni menghindari tempat tidur dengan memisahkan diri dari istri-istri beliau.  


“Ketika memasuki sepuluh akhir Ramadhan, Nabi fokus beribadah, mengisi malamnya dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk ikut ibadah,” (HR Al- Bukhari).


Disebutkan dalam Kitab Fathul Mu’in tiga amalan utama yang mesti dilakukan pada sepuluh akhir Ramadhan adalah pertama memperbanyak sedekah, mencukupi kebutuhan keluarga, dan berbuat baik kepada karib-kerabat dan tetangga.    


Kedua, memperbanyak membaca Al-Quran. Imam An-Nawawi menjelaskan, membaca Al-Quran di akhir malam lebih baik ketimbang awal malam dan membaca Al-Quran yang paling baik di siang hari adalah setelah shalat shubuh. 


Ketiga, memperbanyak i’tikaf. Hal ini sesuai dengan kebiasaan Rasulullah yang meningkatkan ibadah dengan cara beri’tikaf di masjid pada sepuluh akhir Ramadhan.
 

Amalan Rasulullah di sepuluh malam terakhir Ramadhan
Pertama, menghidupkan malam-malam Ramadhan. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Shahih Muslim, ‘Aisyah meriwayatkan:


   ماعلمته صلى الله عليه وسلم قام ليلة حتى الصباح    


“Aku selalu menyaksikan beliau beribadah selama Ramadhan hingga menjelang subuh,”   


Kedua, Rasulullah saw selalu membangunkan keluarganya untuk shalat malam di malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan hadits Abi Dzar menggambarkan hal ini dengan jelas:


    قام بهم ليلة ثلاث وعشرين وخمس وعشرين ذكر أنه دعا أهله ونساءه ليلة سبع وعشرين خاصة   


“Bahwasannya Rasulullah saw beserta keluarganya bangun (untuk beribadah) pada malam 23, 25, 27. Khususnya pada malam 29.”   


Ketiga, Rasulullah mengencangkan ikat pinggang dalam arti menghindari tempat tidur pada sepuluh malam terakhir Ramadhan. Hal ini bersandar pada hadits:


   في الصحيحين عن عائشة رضي الله عنها قالت: “كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر شد مئزره، وأحيا ليله، وأيقظ أهله”   


Rasulullah saw ketika memasuki sepuluh terakhir malam Ramadhan beliau mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan (beribadah) malam itu dan membangunkan keluarganya.   


Keempat, Rasulullah saw pernah menyambung puasa tanpa berbuka hingga magrib yang akan datang (puasa wishal) pada satu malam dari sepuluh malam terakhir Ramadhan. Namun puasa wishal tidak dianjurkan untuk ditiru oleh pengikutnya.


   وروي عنه من حديث عائشة وأنس أنه صلى الله عليه وسلم :”كان في ليالي العشر يجعل عشاءه سحوراً   


Kelima, Rasulullah saw mandi dan membersihkan diri dan memakan wangi-wangian menjelang Isya’ selama sepuluh hari terakhir Ramadhan dengan harapan memperoleh laylatul qadar.   


Keenam, Rasulullah saw selalu beri’tikaf di sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Editor: Abdul Manap
 


Ubudiyah Terbaru