Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Kiai Abun dan Mama Kudang; Sebuah Pesan dari Abah Ruhiat

Kiai Abun dan Mama Kudang; Sebuah Pesan dari Abah Ruhiat
Kiai Abun dan Mama Kudang; Sebuah Pesan dari Abah Ruhiat
Kiai Abun dan Mama Kudang; Sebuah Pesan dari Abah Ruhiat

Oleh: H M Zaenal Muhyidin
Mama kudang adalah ulama besar dan kharismatik pada zamanya. Ratusan bahkan ribuan santri yang mengaji kepadanya di masanya. Hampir semua ulama dan pesantren besar di Tasikmalaya secara geneologis keilmuan tersambung kepadanya. Nama lengkap mama Kudang adalah KH Muhammad Sudja’i bin KH. Abdurrahman. Mama Kudang  atau KH. Muhammad Sudjai’i masih keturunan Rasulullah Muhammad Saw melaui jalur Syeikh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati, Cirebon. 


Menurut Dr H Zaki Mubarak dalam bukunya Mama Kudang: Sejarah, Pemikiran, Jaringan Ulama dan Keistimewaan Ulama Kharismatik Tasikmalaya, tentang silsilah keturunan Mama Kudang sampai kapada Rasulullah Saw melalui jalur Syeikh Syarif Hidayatullah terdapat empat versi. Dari keempat versi itu semuanya sama sampai kepada Syeikh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati, Cirebon. Sementara yang berbeda mulai dari kanjeng Syeikh Syarif Hidayatullah sampai kepada Rasulullah Saw.


Dari keempat versi itu Mama Kudang adalah Muhammad Sudja’i bin Muhammad Abdurrohman bin Ali Jarulloh bin Zaenal Muttaqin bin Ulama Kadu Ageung bin Syarif Hidayatullah/Sayyid al Kamil/Susuhunan Jati/Susuhunan Cirebon. 


Masih menurut Zaki Mubarak, keempat versi silsilah keturunan Mama Kudang tersebut adalah versi satu bersumber dari Pelurusan Sejarah silsilah dalama Negara Kertabumi. Cirebon: Kesultanan Cirebon. Versi kedua bersumber dari kitab Syamsu Azh Zhahirah fi Nasabi Ahli al-Bait yang menjelaskan sampai kepada SGD (Sunan Gunung Djati, penulis). Versi ketiga bersumber dari kitab Purwaka caruban Nagari dalam Pangeran Raja (PR) Aria Cirtebon, 1720. Purwaka caruban Nagari. Cirebon: kesultanan Kacirebonan dengan tambahan seperlunya sesuai dengan Bapak Iing, Cucu Mama Kudang. Sedang versi keempat bersumber dari Naskah Kaprabonan dengan tambahan sesuai hasil wawancara dengan keluarga Mama Kudang. Dua versi pertama menuliskan dan menyebutkan dengan susunan Mama Kudang terlebih dahulu sampai kepada Syeikh Syarif Hidayatullah dan Rasulullah Muhammad Saw. Sedangkan dalam dua versi terakhir yaitu ketiga dan keempat disusun mulai dari Rasulullah Muhammad SAW sampai kepada Mama Kudang.


Dalam versi ketiga Mama Kudang menempati urutan ke-23 dari Rasulullah Muhammad Saw sedangkan dalam versi keempat menempati urutan ke-22 dari Rasulullah Muhammad Saw.


Selama alfaqir mesantren di Cipasung mulai tahun 1989 sd 1997, nama Mama Kudang begitu dikenal dan teringat  terus. Tapi, dimana dan bagaimana tentang beliau alfaqir sama sekali tidak mengetahuinya. Baru setelah alfaqir menjadi mahasiswa IAIC (Institut Agama Islam Cipasung) tahun 1992 terlebih aktif di PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) Komisariat IAIC nama Mama Kudang menjadi pemikiran serius alfaqir. Tapi, itu pun hanya baru sebatas nama “Kudang” nya saja. Bukan Mama Kudang. 


Nama “Kudang” selain nama tempat dimana KH Muhammad Sudja’i berada juga nama salah satu kampung atau dusun yang berada di Desa Cipakat atau Desa Badakpaeh kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya. Karena berdekatan dengan pesantren Cipasung (sekira 1-2 km) maka nama Kudang tersebut terkenal dan sering dilewati oleh Santri Cipasung.


Bahkan nama Kudang tersbut dikenal juga dengan nama pasar dan perapatan. Sehingga masyarakat menyebutnya pasar Kudang atau perapatan Kudang. Tempat ini strategis sekali. Bahkan menjadi titik pertemuan dua pesantren besar di kecamatan Singaparna yaitu pesantren Cipasung dan pesantren Sukahideng dan Sukamanh. Siapapun dan darima pun dulu ketika mau ke Pesantren Cipasung dan pesantren Sukahideng dari arah Garut terutama yang pakai kendaraan umum seperti bis, elf, dan angkot pasti berhenti di perapatan ini. Alfaqir mengalami keduanya. Baik mau ke Sukahideng maupun ke Cipasung berhenti di sini. Di perapatan Kudang.


Sewaktu tahun 1980an tepatnya ketika Gunung Galunggung meletus alfaqir ke Pesantren Sukahideng mengantar sang kakak yang sekolah di PGA Sukamanah. Alfaqir waktu itu masih kelas 1 SD. Bedanya dari perapatan Kudang ini kalau ke Cipasung cukup jalan kaki atau naik becak. Sedangkan ke Sukahideng harus pake Sado, ojek atau mobil angkutan baik angkot atau colt mini. 


Nah, sangkaan (pikiran) alfaqir, bahwa Mama Kudang atau KH. Muhammad Sudja’i ini dimakamkan di Kudang yang perapatan itu. Karena manurut alfaqir pada waktu itu di perapatan Kudang tepatnya Jalan Kongsi-Kudang juga ada nama pesantren yaitu pesantren Al-Muqowamah yang  di pimpin oleh KH. Uwoh Syarifudin yang juga merupakan dosen IAIC.


Ternyata bukan. Mama Kudang atau KH. Muhammad Sudjai berada di Jalan Gudang Pesantren, Mitra batik Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya. 


Jadi selama di Cipasung (SMA dan IAIC) alfaqir samasekali tidak mengenal secara mendalam siapa dan bagaimana Mama Kudang, apalagi menziarahinya. Selain karena masih kurangnya bacaan tentang beliau juga karena tidak ada orang menceritakaan secara detail tentang beliau.


Berbeda dengan nama Waliyullah Syeikh Muhyi Pamijahan, KH. Ruhiat, dan KH. Zaenal Mustofa yang banyak diceritakan, dipublikasikan dan diziarahi. Baru setelah alfaqir tidak mondok lagi di Cipasung dan banyak berhubungan dengan kegiatan di NU baik di tingkat wilayah, cabang dan local, terlebih di Badan Otonom NU khusus tentang ke-Thoriqohan yaitu Jam’iyyah Ahlith Thariqoh Al Mu’tabarah An Nahdliyyah, alfaqir  mendapatkan titik terang dan informasi lengkap tentang KH Muhammad Sudja’i atau Mama Kudang. Alfaqir harus berterima kasih kepada kang Dr. H. Zaki Mubarak dan Tim yang sudah membukukan Mama Kudang. Sehingga dari buku itu banyak informasi yang didapat oleh alfaqir. Bukan hanya tentang silsilah beliau tapi juga jaringan keilmuan beliau, guru, pemikiran, dan keistimewaan beliau.  


Begitu juga kepada salah satu dzurriyah Mama Kudang yang sekarang menjadi Kuncen dan menginisiasi adanya haul beliau yaitu kang Indra. Semoga kita semua mendapat berkahnya Mama Kudang dan Masyayikh lainya terutama Masyayikh Cipasung; Abah Ruhiat, KH. Mochammad Ilyas, KH. Yusuf Amin, KH. Dudung Abdul Halim, KH. Abun Bunyamin, lahum al Fatihah !


Pesan Kiai Abun kepada al Faqir tentang Mama Kudang


“Tep, kahade sering kirim bacaan al Fatihah kepada Mama Kudang. Ini wasiat (pesan) Abah Ruhiat kepada Bapak…


(Tep, awas, sering kirim bacaan al Fatihah kepada Mama Kudang (KH. Muhammad Sudja’i). Ini wasiat (pesan)  Abah Ruhiat kepada Bapak).


Pesan tersebut alfaqir terima langsung dari beliau almukarom KH Abun Bunyamin bin KH Ruhiat bin H Abdul Ghofur pada saat alfaqir dengan ustadz Kusnandar menjenguk beliau di Rumah Sakit TMC, Tasikmalaya tahun 2021. 


Sanad alfaqir mendapat pesan dari almukarom adalah saat itu, tahun 2021, masih terjadi bahkan sedang naik-naiknya musibah Covid-19 melanda Indonesia bahkan dunia. Sehingga ketika mendengar almukarom Bapak KH. Abun sakit, alfaqir kaget dan khawatir. Sebagai orang yang ingin diakui sebagai santrinya, muhibbinya dan penerus perjuanganya, alfaqir berniat untuk menjenguknya. Walau pun situasi pada waktu sangat tidak memungkinkan. Karena aturan ketat untuk mengikuti dan melaksanakan prosedur Covid-19. 


Dengan niat karena mengharap ridho Allah, ridho Rasulullah SAW dan ridho para Masyayikh khususnya Masyayikh Cipasung, alfaqir berangkat dari pesantren Al-Mizan menuju Rumah sakit TMC Tasikmalaya. Ditemani kang ustadz Kusnandar dari Jatisawit dan supir. 


Seperti biasa alfaqir lakukan, bila berangkat keluar daerah dan memungkinkan untuk ziarah maka ziarah lah ke makam waliyullah, ulama, habib, dan orang-orang shaleh yang terlewati. Kalau pun tidak memungkin untuk ziarah karena suatu hal dan hal lain, maka alfaqir cukup bacakan al-fatihah, al ikhlas, alfalaq, annas dan shalawat kepada orang yang akan diziarahi tersebut dari mobil atau ketika hendak berangkat. 


Dari Al-Mizan, Jatiwangi menuju TMC Tasikmalaya meliwati daerah panjalu dimana waliyullah Syeikh Ali berada. Begitu pun bisa melewati Pagerageung-Ciawi, dimana disana dan waliyullah Syeikh Mubarok (Abah Sepuh) dan Syeikh Ahmad Shahibul Wafa (Abah Anom) berada. Dan ketika masuk Kota Tasikmalaya disana ada Waliyullah Syeikh Muhammad Sudja’i bin Muhammad Abdurrohman bin Ali Jarulloh bin Zaenal Muttaqin bin Ulama Kadu Ageung bin Syarif Hidayatullah/Sayyid al Kamil/Susuhunan Jati/Susuhunan Cirebon. 


Selain karena niat tadi dan ingin mendapat barokah wali Allah maka sebelum sampai ke TMC, alfaqir sowan dan ziarah dulu kepada beliau al Aarif Billah Syeikh Muhammad Sudja’I atau Mama Kudang.


Pikiran alfaqir setibanya di maqbaroh beliau, kurang lebih 8 sampai 10 tahun di Tasikmalaya bahkan pernah menjadi ‘kuncen’nya Soekardjo (maksudnya Jl. Dr. Sukardjo), dimana para aktivis NU pada waktu itu kumpul dan nge “gang” disana.  Ada NU, Muslimat, Fatayat, Ansor, PMII dan IPNU-IPPNU. Kebetulan selama di Tasikmalaya pada waktu, alfaqir juga setelah selesai kuliah (bahkan masih kuliah) aktif di PMII baik di Komisariat IAIC atau di Cabang Tasikmalaya yang kantornya di Gedung NU Kota Tasikmalaya Jl. Dr. Sukardjo. Alfaqir belum pernah berziarah atau sowan kepada beliau. Baru setelah hampir 30 tahun dan sudah tidak di Tasikmalaya alfaqir bisa sowan dan ziarah ke Mama Kudang. 


Sebelum dan sesudah ziarah alfaqir mampir ke rumah kang Indra, cicit dari Mama Kudang yang rumahnya ada di depan Masjid Mama Kudang. Merupakan Adab berzirah kepada Wali, Ulama, Habib dan orang Shaleh  yang diajarkan para masyayikh untuk minta ijin terlebih dahulu kepada keluarga atau ahlul bait yang akan diziarahi. Itu pun kalau keluarganya masih ada. Kalau tidak ada biasanya ada kuncen. Maka ijin lah kepada kuncen.  


Selesai ziarah, alfaqir langsung menuju TMC. Hari itu, hari dimana alfaqir jenguk almukarom berbeda dengan hari hari sebelumnya. Karena selain peraturan ketat prosedur Covid-19 juga banyak orang yang ingin menjenguk almukarom. Sampai orang tidak bisa masuk semuanya. Harus antri. Ditambah ada persyaratan persayaratan yang harus dipenuhi penjenguk. “Penguru Cabang NU saja susah masuk dan antri” kata saudaraku kang Haji Pepep Fuad Muslim Pengasuh Pesantren Al Jarnauziah, Pasir Bokor yang juga Katib PCNU Kota Tasikmalaya kepada alfaqir.


Alhamdulillah, alfaqir sampai di TMC tidak mengalami antrian dan  bahkan tidak ada banyak orang. Hanya gentian aja dengan ustadz Kusnandar. Pikir alfaqir, “Alhamdulillah, ini tidak antri dan lain sebagainya. Malah lancar dan mudah.”  “Inilah berkahnya Wali. Dimudahkan segalanya...” lanjut pikir alfaqir.


Sesampainya di ruangan almukarom, alhamdulilah almukarom sedang tidak istirahat sehingga bisa langsung bertemu dan bersalaman,


“assalaamu ‘alaykum pak…” ucap alfaqir.


“wa’alaykum salam warahmatullahi wabarakatuh”, jawab almukarom.


Karena posisi almukarom ada di atas ranjang sambil duduk sementara alfaqir tidak pantas (su’ul adab) kalau berdiri, maka alfaqir mohon ijin kepada almkarom untuk duduk di lantai.  


Beliau bertanya kapada alfaqir, “Tep, sareng saha…?” (Tep, sama siapa).


Alhamdulillah, sareng ustadz Kusnandar pak..!”, jawabku.


Kemudian almukarom bertanya lagi, “saha ustadz Kusnandar teh?”. (Siapa ustadz Kusnandar itu).


“Dia pak, alumni Cipasung asrama Nugraha dan MAN Cipasung asal Jatisawit, Majalengka. Kuliah S1 dan S2nya  di IAIN Ciputat”, jawabku lagi.


ooh…”, kata almukarom lagi. 


Setelah itu, alfaqir sampaikan, “Bapak, mohon maaf, tadi sebelum kesini (maksudnya ke TMC), Atep sowan dan ziarah dulu ke Mama Kudang di Mitra Batik”, kataku. 


Dari atas ranjang dan sambil manggil alfaqir, almukarom langsung meresponya;


Tep, kahade sering kirim bacaan al Fatihah kepada Mama Kudang. Ini wasiat (pesan) Abah Ruhiat kepada Bapak…” (Tep, awas, sering kirim bacaan al Fatihah kepada Mama Kudang (KH. Muhammad Sudja’i). Ini wasiat (pesan)  Abah Ruhiat kepada Bapak).


Alhamdulillah, iya pak. Qobiltu..!” jawab alfaqir. Selesai itu, alfaqir pamit undur diri dan pulang. 


Untuk almukarom almarhum almaghfur lahum; KH. Abun Bunyamin bin KH. Ruhiat bin Haji Abdul Ghofur dan KH. Muhammad Sudja’i atau Mama Kudang, alfaatihah. 


Penulis adalah Santri Cipasung Tahun 1989 sd 1997. Pernah menjadi Pengurus Wilayah LTN NU Jawa Barat Masa Khidmat 1997 – 2005. Saat ini selain menjadi Direktur NU Care-Lazisnu Kab. Majalengka juga sebagai  Khadim Pesantren Al-Mizan, Jatiwangi, Majalengka.

Terkait

Tokoh Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×