• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Senin, 15 April 2024

Ngalogat

Kisah Inspiratif Perjuangan Santri Cipasung Kuliah di Korea Selatan

Kisah Inspiratif Perjuangan Santri Cipasung Kuliah di Korea Selatan
Muhammad Irfansyah Maulana santri Alumni Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya. (Foto: NU Online)
Muhammad Irfansyah Maulana santri Alumni Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya. (Foto: NU Online)

Bandung, NU Online Jabar

Tepat selepas wisuda pada Agustus 2022, Muhammad Irfansyah Maulana santri Pondok Pesantren Cipasung Tasikmalaya yang baru lulus mengenyam pendidikannya di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung memutuskan mendaftarkan diri mengikuti seleksi penerimaan beasiswa di Korea Selatan. Inisiatif tersebut berawal dari keinginannya untuk melanjutkan kuliah di luar negeri.

 

Pucuk dicinta ulam pun tiba, pada Desember 2022 Irfansyah mendapat pemberitahuan bahwa dirinya diterima di Daegu Gyeongbuk Institute of Science and Technology untuk program pendidikan S2 dan S3.

 

Awalnya, Ia juga tidak menyangka bahwa dirinya akan menerima beasiswa tersebut. Ia mengaku keberhasilannya itu tidak lepas dari dukungan orang tua serta guru-gurunya di pondok pesantren. Ia kemudian meminta doa dan restu keduanya untuk menyelesaikan pendidikan selama 5 tahun di negeri para K-Pop itu.

 

Sudah hampir dua tahun Irfansyah menimba ilmu dan menjalani hidup di sana. Kini ia sudah beradaptasi dan mulai terbiasa dengan lingkungan hidupnya. Namun, sedikit bernostalgia masa-masa awal dirinya menjalani hidup di negeri ginseng itu, ia ingin berbagi cerita dan pengalamannya.

 

Masa awal menjalani hidupnya di Korsel, hal yang cukup membuatnya terkejut adalah jam kerja yang tinggi di sana. Jika di Indonesia, semua kantor maupun lembaga pendidikan akan tutup dan lampu penerangan akan dimatikan saat jam kerja selesai, berbeda dengan di Korsel. 

 

Di sana, meski jam kerja sampai pada pukul 6 malam semua kantor dan lembaga pendidikan khususnya, akan tetap terbuka selama 24 jam. Hal ini dikarenakan seluruh civitas akademika memiliki kartu yang dapat membuka pintu kantor dan mengakses sarana prasarana lainnya dengan kartu tersebut.

 

Irfan pun mengaku banyak menemukan mahasiswa yang melakukan penelitian hingga larut malam, termasuk para dosen dan juga professor.

 

“Padahal akhir jam kerja di sini adalah jam 6 malam namun masih banyak dosen dan mahasiswa yang bekerja di kampus hingga larut malam. Ini yang membuat saya terbawa atmosfer yang sama meskipun awalnya merasa berat karena tidak terbiasa,” kata Irfan dikutip NU Online, Selasa (25/10/2022).

 

Irfansyah yang notabene sebagai seorang Muslim dan sekaligus santri juga mengaku cukup menemui kesulitan untuk menemukan makan-makanan yang halal. Ia harus memastikan makanan tersebut halal atau tidaknya dengan membaca kemasan atau memakai aplikasi Muslim Friendly Korea (MUFK). Dan ini membuatnya cukup kesulitan.

 

Selain itu, Ia juga mengaku lidahnya tidak terbiasa dengan masak-masakan Korea. “Awalnya masakan korea tidak cocok dengan lidah saya tapi seiring dengan berjalannya waktu dan sadar bahwa akan tinggal di sini cukup lama maka saya mencoba beradaptasi dan saat ini sudah cukup terbiasa memakan masakan korea,” kata Irfansyah dikuti NU Online, Selasa (25/10/2022).

 

Kendala lain yang sering ditemui Irfansyah ialah ia sering menemui kesulitan ketika mencari tempat shalat. Karena di sana, Masjid atau Musala masih sangat jarang sehingga sulit untuk ditemukan. Oleh karenanya ia sering melakukan shalat di stasiun kereta atau di pojokan tempat yang sepi.

 

Selain itu juga kondisi cuaca dingin di sana cukup membuatnya tidak nyaman. Pasalnya di Korea terkenal memiliki humidity yang rendah saat musim dingin datang. Hal ini membuat kulit dan bibir menjadi pecah-pecah.

 

Irfan mengungkapkan bahwa guru-gurunya selalu berpesan untuk senantiasa mengamalkan amaliyah Ahlussunnah wal Jmaah yang harus senantiasa sejalan dengan arah perjuangan NU. Itulah mengapa Irfansyah saat ini mengabdikan diri untuk berkhidmah di NU dan dipercaya menjadi Sekretaris Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Korea Selatan.

 

Editor: Agung Gumelar


Ngalogat Terbaru