Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Keberkahan Air Kobokan Kiai Abun

Keberkahan Air Kobokan Kiai Abun
Keberkahan Air Kobokan Kiai Abun (Foto: Istimewa)
Keberkahan Air Kobokan Kiai Abun (Foto: Istimewa)

Peristiwa ini terjadi 32 tahun yang lalu yaitu sekira tahun 1990an. Dimana pada waktu itu alfaqir masih menjadi siswa kelas 2 SMA Islam Cipasung, Singaparna, Tasikmalaya. 


Alfaqir masuk SMA Islam Cipasung tahun 1989 mondok di kamar “Jarambah” Asrama Pusaka. Kamar jarambah ini sebetulnya bukan kamar permanen seperti kamar-kamar pada umumnya di asrama pusaka dan asrama selamat pada waktu itu. Kenapa? Karena kamar jarambah ini hanya kamar tambahan yang terbuat dari batang kaso dan triplek. Di sekat menjadi dua kamar.

 

Tempat yang dijadikan kamar jarambah sendiri asalnya aula asrama pusaka.  Tapi karena santri membludak dan belum ada kantor khusus asrama pusaka, maka aula tersebut dijadikan kamar. Alfaqir sendiri waktu masuk asrama pusaka kamar jerambaha tersebut sudah ada yang isi. Untuk kamar sebelah kiri (dilihat dari tangga) adalah kamar 16 yang di isi oleh santri asal Subang, Banjar dan Tasikmalaya. Sementara kamar jeramabah sebelahnya yaitu kamar 17 di isi oleh santri asal Tasikmalaya saja khususnya Tasikamalaya kecamatan Sodong Hilir dan Taraju.


Kamar-kamar di asrama pusaka dan asrama selamat (pada waktu alfaqir masuk Cipasung baru ada dua asrama putera yaitu asarama Pusaka dan asrama Selamet) diberi lebel dengan nomor asrama. Khususnya asrama Pusaka dimana alfaqir tidur terdiri dari dua lantai, yaitu lantai satu sebanyak 15 kamar dan lantai dua juga 15 kamar. Jadi jumlahnya 30 kamar. Khusus kamar 15 lantai satu selain kamar pengurus juga dijadikan sebagai Kantor Asrama Pusaka.    


Kamar jerambah atau kamar 16 asrama pusaka selain alfaqir, juga diisi oleh santri asal Subang lainya yaitu kang Cawa Sunandar (alm asal Pabuaran), kang Uhan, kang Mamat (asal Pamanukan), kang Juju (asal Cisalak). Sedangkan yang dari Banjar yaitu Kang Misbah dan Kang Hasyim. Dari Tasikmalaya dua orang juga khusunya dari Karangnunggal yaitu kang Nurdin dan kang Oom.  Sementara kamar 17 di isi oleh santri asal Taraju dan Sodong Hilir. Yang masih ingat adalah kang Ujang, kang Dudung, dan kang Syarifudin. 


Tahun pertama di Cipasung alfaqir belum begitu mengenal secara dekat dengan para masyayikh Cipasung. Karena selain santri yang masih baru juga karena asrama laki-laki di pesantren Cipasung ini tidak berada “dibawah naungan” dan komplek rumah masyayikh. Mulai dari asrama Pusaka, Selamet, Bahagia, Sejahtera dan Nugraha. Kecuali dua asrama yaitu Al Bahriah (menyatu dan di komplek rumah KH. Agus Saeful Bahri) dan asrama Al Hurriyah (menyatu dan di komplek rumah KH. Koko). 


Sementara asrama puteri semua berada dikomplek rumah Masyayikh dan dibawah binaan khusus para masyayikh. Mulai dari asrama Esa (komplek rumah KH. Moch Ilyas), asrama puteri Raudlotul Banat 1 (komplek rumah KH. Acep Adang), asarama Taudlotul Banat 2 (komplek rumah KH. Ubaidillah), asrama Almuna (komplek rumah KH. Ado/ibu Hj. Suha), asrama Al Istiqomah (komplek rumah KH. Dudung Abdul Halim), asrama Assa’adah (komplek rumah KH. A Bunyamin), asrama Esa 2 (komplek rumah Hj. Enung), dan asrama Arrahmah (komplek rumah KH. Manshur).


Baru di tahun kedua dan ketiga tepatnya kelas dua dan tiga SMA Islam Cipasung, alfaqir mulai mengenal dan dekat dengan para masyayikh Cipasung terutama almukarom KH. Abun Bunyamin. Begitu juga dengan almukarom KH Moch. Ilyas Ruhiat dan KH. Dudung Abdul Halim. Kedekatan dengan almukarom KH. Abun Bunyamin dikarenakan alfaqir sering berada di rumah beliau karena khidmah (melayani). Sementara dengan masyayikh lainya hanya sesekali alfaqir khidmah. 


Selain alfaqir, juga ada santri lainya yang khidmah pada waktu itu di rumah almukarom KH. Abun Bunyamin. Mulai dari kang Tatang (Karawang), kang Riwanullah (Tangerang), dan kang Dadang (Garut). Ketiga santri senior ini semua kuliyah di IAIC. Sementara yang seusia dengan alfaqir yaitu pelajar SLTA hanya alfaqir (Subang), Acep Makmur (Purwakarta), Dendi  Yuda (Sukabumi), dan Hasyim (Banjar). Ada satu orang lagi santri yang SMP dan yaitu Thohir asal NTT. Tapi Thohir ini tidak sampai tamat SMP nya di Cipasung karena keburu pindah ke Situbondo. 


Masing-masing santri yang khidmah di almukarom baik itu tingkat IAIC atau SLTA semuanya punya peran dan tugas khidmah masing-masing. Peran dan tugas khidmah ini secara langsung almukarom KH. Abun yang mengajarkan, membimbing dan mengendalikan. Contoh seperti kang Ridwanullah, peranya adalah pembantu almukarom yang berkaitan dengan pengajian dan tulis menulis khususnya tulisan arab. Kang Ridwan lah yang menyiapkan kitab, diktat yang akan diampu oleh almukarom. Bahkan sesekali kang Ridwan membawa kitab dan teko (tempat air minum) almukarom ke tempat pengajian. Kang Tatang kalau tidak salah berperan membantu almukarom bagian administrasi khususnya administrasi IAIC. Sedangkan kang Dadang bagian perdapuran dan urusan ayaam.  Saking tekunya dalam urusan Ayam, kang Dadang terkenal dengan sebutan Dadang ayam. Kang Dadang ini ngingu (ngurus) ayam mulai satu indukan ayam sampai ratusan. Bahkan halaman rumah almukarom yang dekat dengan dapur dan Balong pada waktu itu penuh dengan kandang Ayam. 


Sementara alfaqir dan santri SLTA lainya hanya sebatas co asisten kalau bisa dibilang begitu. Co asisten dari santri senior (IAIC) yang khidmah di almukarom. Pernah alfaqir suatu ketika membantu kang Tatang masukan uang untuk gajian para dosen IAIC dan para Guru SMA Islam Cipasung. Begitu juga alfaqir pernah bersama-sama kang Dadang ngurus ayam di belakang.  Kang Acep Makmur santri asal Purwakarta khidmah kepada almukarom dengan menjadi supir almukarom. Dan kang Acep Ma’mur lah yang menjadi lantaran alfaqir bisa dekat dan sering dibawa berpergian oleh almukarom. Karena setiap almukarom keluar baik ke Tasikmalaya maupun ke luar kota kang Acep Ma’murlah supirnya. Dan pasti alfaqir diajaknya. Itu lah kebaikan kang Acep Ma’mur. 


Selain itu juga, alfaqir sebangku dengan kang Acep di SMA Islam Cipasung kelas Sosial. Dia ini pintar ilmu ekonomi, akuntnsi, dan matematika. Tapi kurang dalam ilmu bahasa arab. Sementara alfaqir sebaliknya. Jadi teman sebangku ini saling melengkapi.  Dan, ketika pelajaran almukarom yaitu bahasa arab maka alfaqir lah yang sering disebut bahkan menjadi bintang dalam pelajaran bahasa arab pada waktu itu. Sedangkan peran kang Dendi dan kang Hasyim pada waktu hamper sama dengan alfaqir dan kang Acep Makmur. Bedanya alfaqir dan kang Acep Makmur dari SMA sedangkan kang Dendi dan kang Hasyim dari MAN. 

 

Keberkahan Air Kobokan Kiai Abun
Suatu ketika alfaqir oleh almukarom diikutsertakan berangkat ke Bandung tepatnya ke Palasari, Buahbatu, untuk belanja buku guna kelengkapan perpustakaan IAIC. Selain alfaqir dan almukarom, ikut juga kang Acep Makmur (supir) dan pak Abdul Manaf M Yazid (IAIC). Yang lainya lupa lagi siapa saja yang ikut.


Perjalanan jauh Tasikmalaya - Bandung ditempuh dengan menggunakan roda empat memakan waktu sekira 4 jam an. Mulai dari Cipasung, Singaparna, Garut, Nagreg, Cicalengka, Rancaekek, Cibiru, sampai Buahbatu. Biasanya almukarom dan keluarga kalau ke Bandung istiraha, shalat dan makan di Rumah Makan Sukahati, Cinunuk, Bandung. Tapi kejadian air berkah ini bukan di rumah makan Sukahati. Kalau tidak salah Rumah Makan yang sudah dekat dengan Palasari, Buah Batu. 


Waktu itu, alfaqir duduk disamping kanan almukarom. Sementara yang lainya melingkar. Ada yang di kanan alfaqir dan ada yang dikiri almukarom. Yang jelas posisi almukarom berada di tengah. Sambil menunggu menu makanan yang dihidangkan terlebih dahulu yang disodorkan pelayan rumah makan adalah air minum dan air kobokan.  Setelah menu makanan lengkap dihidangkan baru almukarom memulai mengambil nasi dan menunya. Sementara alfaqir hanya bengong dan bengong. Selain bengong juga perasaan yang tidak tenang dan malu. Kenapa begitu? Karena bagi alfaqir ini tidak biasa makan dengan serba lengkap menunya. Apalagi makan bersama dalam satu meja dengan almukarom. 


Alfaqir sebagai santri almukarom biasa di asarama masak nasi sendiri (ngaliwet). Begitu pun menunya hanya menu ikan asin dan kangkung. Ini alfaqir alami di tahun pertama di Cipasung. Terkadang masak nasi (ngaliwet) di jendela, di depan asrama, bahkan di dapur umum yang jaraknya 100-200 meter di belakang dekat dengan kamar mandi. Menunya pun ya itu itu juga. Paling banter menunya beli yang sudah jadi di warung mak enok dan mak mak lainya. Ada oreg tempe, pepes ikan, dan gulai daging ayam. Tapi itu sesekali. Tidak setiap kali makan. Coba bayangkan. Alfaqir waktu usia SMA kelas 2 makan dengan menu seraba ada. Tapi perasaan tidak bebas karena malu dengan almukarom. Akhirnya, alfaqir makan juga. Karena yang lain semuanya sudah pada ambil nasi dan menunya. Alfaqir ambil nasi satu sampai dua cukil kemudian ambil sambal terasi dan lalapan yang ada di depan alfaqir. Tidak berani ambil lebihb daripada itu. Apa lagi ambilnya jauh. Ada daging sapi, gulai ayam, pesmol ikan mas, dan pepes ikan. 


Ketika sudah ambil nasi dan menunya, baru kemudian alfaqir makan dengan perasaan yang tidak enak, ngadegdeg, tidak tenang dan lainya. Tidak dinyana sebelah kiri alfaqir ada wadah mangkok yang isinya air. Perasaan alfaqir itu mangkok air sop sayur. Karena airnya bening. Seketika itu pula mangkok air tersebut alfaqir ambil dan tuangkan ke piring alfaqir yang sudah terisi nasi, sambal dan lalapan. Alhamdulillah, alfaqir makan sampai habisnya. Baru selesai makan tiba-tiba almukarom yang berada persis disampaing alfaqir juga selesai bertanya, “Tep, mana kobokan Bapak?. Tadi ada di sini,” tanyanya. “Waduh…,” pikirku. “Ternyata itu air kobokan Bapak….,” gumamku. Sambil urap ape u reup eup dan perasaan malu aku jawab, “sudah habis pak diminum Atep..”.  “hah, diminum?”, kata almukarom lagi sambil tersenyum. Sementara yang lainya pada ketawa melihat  kelakukan santri yang bernama Atep meminum  air kobokan Kyainya. Hehe
Setelah kejadian itu betapa malunya alfaqir. Karena mungkin saja alfaqir dianggap santri yang tidak bisa membedakan mana air sop dan mana air kobokan. Tapi begitu lah faktanya. Untuk almukarom, Allaahu yaghfirlahu wayarhamhu! Aamiin


Kang Atep (nama kecil daripada HM. Zaenal Muhyidin), Santri Cipasung Tahun 1989 sd 2007. Pernah menjadi Pengurus Wilayah LTNNU Jawa Barat Masa Khidmat 1997 – 2005. Saat ini selain menjadi Direktur NU Care-Lazisnu Kab. Majalengka juga sebagai Khadim Pesantren Al-Mizan, Jatiwangi, Majalengka.
 

Obituari Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×