Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

KH Idham Chalid, Soeharto, dan Golf 

KH Idham Chalid, Soeharto, dan Golf 
Foto: NU Online
Foto: NU Online

Pada tahun 1967, Jenderal Soeharto menjadi Pejabat Presiden dan tahun 1968 menjadi Presiden. Tahun-tahun itu para pejabat, pengusaha dan kalangan sosialita di Jakarta punya mainan baru, bermain golf. 

Di Rawamangun Jakarta memang sudah ada lapangan golf standar internasional dengan 18 hole. Olah raga golf tentu mahal. Yang tidak berduit mana bisa.

Karena Presiden menyukai olah raga golf, maka para menteri pun hampir semua belajar golf. Ada satu dua yang tidak, di antaranya Menko Kesra, KH Idham Chalid yang waktu itu juga Ketua Umum PBNU. 

Dalam beberapa kali bertemu, Presiden menganjurkan supaya Menko Kesra itu mulai berlatih golf. Di samping untuk kesehatan dan kebugaran juga logis karena Depdikbud yang juga ngurusi olah raga kan ada di bawah koordinasi Menko Kesra. 

"Insya Allah," itu jawaban standar Menko yang satu ini kepada Presiden. 

Presiden pun sampai menugaskan orang untuk "nginteli" sang Menteri, sudah mulai latihan golf atau belum. Hasilnya negatif, karena memang KH Idham Chalid tak  kunjung bermain golf, mungkin tidak ada minat. 

Suatu hari Presiden menyuruh orang untuk mengantarkan seperangkat stik golf kualitas terbaik buatan Amerika, ke rumah dinas Menko Kesra, Jalan Mangunsarkoro 52 Menteng. Pasti  berharga mahal dong. 

Tentu saja KH Idham Chalid mengucapkan terima kasih. 

Namun, seperangkat stik golf itu dari hari ke hari nasibnya hanya teronggok begitu saja dekat dapur. Ya sekali-sekali dipakai oleh pembantu rumahnya, untuk gebukin kasur yang dijemur.

Selintas KH Idham Chalid
DR KH Idham Chalid adalah salah seorang tokoh NU yang melegenda. Tokoh kelahiran Tanah Bumbu Kalsel tahun 1921 ini lama malang melintang  dalam percaturan politik nasional. 

Sebagai Sekjen PBNU, pada Pemilu 1955 terpilih sebagai anggota DPR. Tahun 1956 Idham Chalid menjadi Wakil Perdana Menteri bersama Moh Roem dari Masyumi di bawah Perdana Menteri Ali Sastroamijoyo dari PNI. Kabinet Ali II itu suka disebut sebagai Kabinet Ali - Roem - Idham. 

Pada Muktamar NU tahun 1956 di Medan, KH Idham Chalid terpilih sebagai Ketua Umum PBNU. Jabatan ini terus dipegangnya beberapa kali dan  baru berakhir pada Muktamar Situbondo tahun 1984. 

Di panggung pemerintahan, berkali-kali menjadi Menteri baik di era Soekarno maupun di era Soeharto. Pernah juga menjadi Ketua MPR dan DPR. Jabatan terakhirnya Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA). 

Pada tahun 1978 pernah diminta oleh Presiden Soeharto untuk menjadi Wakil Presiden. Entah mengapa dia menolak. 

Sebagai organisator dan politisi, KH Idham Chalid itu didikan KH A Wahid Hasyim sejak tahun 1944 semasa penjajahan Jepang. Sejak itulah dia menjadi semacam sekpri atau aspri-nya KH Wahid Hasyim. Sebagai politisi dia terkenal licin, jago diplomasi, langkah-langkah politik sukar ditebak. 

Orang-orang yang tidak menyukainya, menyebut KH Idham Chalid itu licik dan oportunis. Di kalangan politisi nasional tahun 1960-an ada joke: Mana lebih licin, Idham Chalid atau belut? Jawabannya, lebih licin Idham Chalid. 

Sebagai pejuang dan tokoh pergerakan politik nasional, Idham Chalid sudah dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional. Dan foto atau gambar dirinya diabadikan di salah satu pecahan uang rupiah. 

Penulis: Zainaldi Zainal
Editor: Abdullah Alawi 

 

Terkait

Tokoh Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×