Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Menegakkan Kebenaran Demi Keselamatan Bersama 

Menegakkan Kebenaran Demi Keselamatan Bersama 
(Ilustrasi: NUO).
(Ilustrasi: NUO).

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita jumpai sikap sebagian anggota masyarakat yang tidak mau peduli terhadap berbagai kejadian yang dijumpainya. Mereka tidak mau mencegah meskipun kejadian itu, sesuatu yang tercela atau perbuatan mungkar, mereka bersikap masa bodoh terhadap segala sesuatu yang terjadi  di sekelilingnya. Mereka berprinsip yang penting dirinya tidak terganggu, atau kepentingan pribadinya tidak dihalangi.

 

Sikap seperti itu merupakan salah satu perilaku yang tidak dapat diterima dalam pandangan ajaran Islam. Islam mengarahkan umatnya agar bersikap kritis terhadap perisriwa yang terjadi di sekelilingnya.

 

Sikap kritis seorang muslim itu akan mendorong dirinya untuk memperhatikan dengan cermat dan teliti segala perkembangan yang terjadi di sekitarnya. Bila menjumpai suatu kebaikan atau perbuatan yang terpuji ia segera mendukungnya dan berusaha sebaik mungkin untuk melestarikan kebaikan itu. Bila ia menjumpai perbuatan yang tercela atau kegiatan yang mengarah kepada kemungkaran ia segera berusaha menghalangi dan memberantasnya. Sikap tegas seperti yang disebutkan di atas merupakan cerminan dari pribadi seorang muslim dimana saja ia berada. Sikap seperti itu akan mengarahkan umat manusia secara keseluruhan pada kehidupan yang baik, terjaminnya keselamatan dan kebahagiaan bersama.

 

Apabila perbuatan yang tercela dan kegiatan yang mungkar dibiarkan begitu saja, maka akan menimbulkan kerusakan dan bencana secara umum serta menyeluruh. Bahaya dan kerusakan itu tidak hanya menimpa mereka yang berbuat kerusakan dan kemungkaran, tetapi juga akan mengenai manusia lain. Meskipun mereka tergolong baik, akan terkena juga karena ia membiarkan terjadinya kemungkaran itu. Mengenai hal ini, Nabi s.a.w. menggambarkan dalam salah satu hadisnya dengan suatu perumpamaan yang sangat jelas.

 

Melubangi Perahu

 

Ada suatu rombongan yang menyeberangi lautan yang dalam, mereka mengendarai sebuah perahu yang akan membawa mereka ke tempat yang dituju. Masing-masing orang dari rombongan itu diberi tempat duduk dalam perahu tersebut. Salah seoarang dari mereka yang berada di bagian bawah membutuhkan air laut. Ia harus mengambilnya ke atas melewati penumpang yang lain, ia tidak mau melakukan hal itu, karena mengganggu orang lain yang ada di bagian atas.

 

Karena takut mengganggu orang lain, lalu ia melubangi perahu tempat duduknya sendiri di bawah dengan kampak, agar bisa mengambil air laut yang ia butuhkan dan tidak mengganggu orang lain. Waktu orang itu memukul-mukul perahu bagian bawah dengan alat untuk melubangi perahu, penumpang lain bertanya padanya: “Apa yang anda lakukan”? ia menjawab: “Aku melubangi perahu ini untuk mengambil air laut dan aku berbuat secara bebas, karena ini adalah tempatku”.

 

Nabi selanjutnya menyadarkan para sahabat. Jika rombongan itu melarang orang tersebut melubangi perahu dan merampas kampak yang ada di tangannya, maka orang itu selamat dan selamatlah semua penumpang dalam perahu itu. Tetapi sekiranya semua penumpang membairkan salah satu anggotanya yang melubangi perahu itu, maka binasala orang itu dan binasalah seluruh rombongan yanga berada di perahu tersebut. Disebutkan hadis berikut ini:

 

مَثَلُ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا سَفِينَةً، فَصَارَ بَعْضُهُمْ فِي أَسْفَلِهَا وَصَارَ بَعْضُهُمْ فِي أَعْلاَهَا، فَكَانَ الَّذِي فِي أَسْفَلِهَا يَمُرُّونَ بِالْمَاءِ عَلَى الَّذِينَ فِي أَعْلاَهَا، فَتَأَذَّوْا بِهِ، فَأَخَذَ فَأْسًا فَجَعَلَ يَنْقُرُ أَسْفَلَ السَّفِينَةِ، فَأَتَوْهُ فَقَالُوا: مَا لَكَ، قَالَ: تَأَذَّيْتُمْ بِي وَلاَ بُدَّ لِي مِنَ المَاءِ، فَإِنْ أَخَذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَنْجَوْهُ وَنَجَّوْا أَنْفُسَهُمْ، وَإِنْ تَرَكُوهُ أَهْلَكُوهُ وَأَهْلَكُوا أَنْفُسَهُمْ (رواه البخاري)

 

Dalam hadisnya yang lain Rasululullah SAW berpesan:

 

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ  (رواه مسلم)

 

“Siapa diantaramu yang melihat sesuatu kemungkaran maka hendaklah ia mencegahnya dengan tangannya (kekuasaannya), bila tidak memiliki kemampuan maka cegahlah ia dengan lisannya (tulisan), bila tidak mampu juga maka hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan hatinya (mengingkari perbuatan tercela itu dengan hatinya)”. (HR. Muslim, No: 70).

 

Menolak Kemungkaran

 

Wajib menolak kemungkaran dalam hati seorang muslim adalah merupakan sikap yang paling akhir, setelah cara lain tidak mungkin dilakukan, karena tidak memiliki kemampuan. Usaha memberantas kemungkaran dan kebatilan yang lebih tinggi dari itu harus terus dilakukan, sampai kebatilan dan perbuatan yang tercela lenyap dari lingkungan kita.

 

Bila kebenaran ditegakkan secara konsekuen, maka kebatilan akan punah dan sesungguhnya yang batil dan mungkar itu akan sirna. Rasululluh s.a.w. berpesan: 

 

لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ (رواه الترمذي)

 

“Kalian harus memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, atau bila tidak, maka Allah akan menjadikan orang-orang jahat diantaramu menguasai dan mencengkeram kamu; dan andaikata orang-orang baik diantaramu berdo’a untuk keselamatan, maka do’a mereka tidak akan dikabulkan”. (HR. Tirmidzi, No: 48).

 

Dr. KH. Zakky Mubarak, MA, salah seorang Mustasyar PBNU

 

Terkait

Taushiyah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×