• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Senin, 4 Maret 2024

Taushiyah

KOLOM KH ZAKKY MUBARAK

Kebahagiaan Hakiki

Kebahagiaan Hakiki
Kebahagiaan Hakiki
Kebahagiaan Hakiki

Setiap diri manusia pada hakikatnya pasti mendambakan kebahagiaan, baik lahir maupun batin, baik pada masa kini, maupun pada masa yang akan datang. Berbagai cara dan usaha dilakukan oleh seseorang untuk meraih kebahagiaan tersebut. Sebagian dari mereka ada yang sukses mendapatkannya, dan sebagian lain mengalami kegagalan.


Ada beberapa kunci untuk meraih kebahagiaan, sebagaimana disebutkan di atas, antara lain: (1) kita menerima dengan tulus terhadap ketentuan dan takdir Allah yang ditetapkan untuk kita. Apabila seseorang bisa menyesuaikan diri dengan takdir Allah tersebut, maka mereka akan meraih kebahagiaan lahir dan batin. Sebaliknya apabila seseorang tidak mau menerima kenyataan dari takdir Allah tersebut, maka akan dilanda keresahan dan kegelisahan, baik pada masa kini maupun pada masa yang akan datang.


Kunci kebahagiaan yang ke (2) hendaklah kita mencintai Allah dan rasul-Nya melebihi cinta kita terhadap segala sesuatu, termasuk terhadap diri kita sendiri. Sahabat Umar bin Khattab pernah berbicara dan berterus terang kepada Nabi SAW: Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau adalah orang yang paling aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku sendiri. Nabi SAW menjawab: Tidak wahai Umar sehingga engkau mencintai diriku melebihi cintamu kepada dirimu sendiri.


Sahabat Umar kemudian menjawab: Demi Tuhan yang telah membangkitkan engkau dengan kebenaran, sungguh engkau lebih aku cintai bahkan dari diriku sendiri. Nabi s.a.w. menjawab: Sekarang baru sempurna imanmu wahai Umar. Disebutkan dalam hadits Nabi:


كُنَّا مع النَّبيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ وهو آخِذٌ بيَدِ عُمَرَ بنِ الخَطَّابِ، فَقالَ له عُمَرُ: يا رَسولَ اللَّهِ، لَأَنْتَ أحَبُّ إلَيَّ مِن كُلِّ شَيْءٍ إلَّا مِن نَفْسِي، فَقالَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: لَا، والَّذي نَفْسِي بيَدِهِ، حتَّى أكُونَ أحَبَّ إلَيْكَ مِن نَفْسِكَ، فَقالَ له عُمَرُ: فإنَّه الآنَ، واللَّهِ، لَأَنْتَ أحَبُّ إلَيَّ مِن نَفْسِي، فَقالَ النَّبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: الآنَ يا عُمَرُ


Kami sedang bersama Nabi SAW beliau memegang tangan Umar bin Khattab. Maka berkatalah Umar kepada beliau: Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali diriku sendiri. Maka bersabda Nabi SAW: Tidak, demi jiwaku yang berada pada kekuasaan-Nya, sehingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri. Maka Umar menjawab: Maka sesungguhnya sekarang, demi Allah engaku lebih aku cintai bahkan dari diriku sendiri. Maka Nabi SAW bersabda: Sekarang wahai Umar, (imanmu baru sempurna). (HR. Bukhari, 6632).


Dalam al-Qur’an ditegaskan, apabila seorang manusia lebih mencintai orang tuanya, anak-anaknya, saudara-saudaranya, istri-istrinya, keluarganya, harta benda dan perniagaan yang dimilikinya, lebih ia cintai dari cintanya kepada Allah, cinta kepada rasul-Nya dan jihad di jalannya, maka orang tersebut akan mendapat murka dari Allah SWT:


قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ وَإِخۡوَٰنُكُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَٰرَةٞ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٖ فِي سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِيَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦۗ وَٱللَّهُ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَٰسِقِينَ


Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. al-Taubah, 09:24).


Kunci kebahagiaan yang ke (3) memiliki keluarga yang shaleh, yaitu keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Seluruh anggota keluarga saling mencintai dan saling menyayangi, dilanjutkan dengan memiliki tempat tinggal yang layak dan transportasi yang memadaai. Rumah yang layak paling tidak memiliki ruangan dan kamar sebagai berikut, meskipun tidak terlalu besar yaitu satu kamar untuk suami dan istri (ayah dan ibu), satu kamar untuk anak-anak laki-laki, satu kamar untuk anak-anak perempuan, satu kamar pembantu, satu kamar tamu, ruang untuk menerima tamu, dapur, dan kamar mandi.


Kunci kebahagiaan berikutnya (4) memiliki tetangga yang baik. Karena itu sebelum menetapkan rumah tinggal, kita harus memilih tetangga yang baik (al-Jaar qablad diyar), memilih tetangga dahulu sebelum menetapkan tempat tinggal. Kunci kebahagiaan selanjutnya (6) membiasakan diri dan keluarga untuk senantiasa berbuat baik kepada sesama dan menyeimbangkan kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Allah berfirman:


وَٱبۡتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلۡأٓخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنۡيَاۖ وَأَحۡسِن كَمَآ أَحۡسَنَ ٱللَّهُ إِلَيۡكَۖ وَلَا تَبۡغِ ٱلۡفَسَادَ فِي ٱلۡأَرۡضِۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُفۡسِدِينَ


Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. al-Qashasm 28:77).


Dr. KH. Zakky Mubarak, MA, salah seorang Mustasyar PBNU


Taushiyah Terbaru