• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Senin, 27 Mei 2024

Sejarah

Cerita Duhung Pangeran Papak: Sempat Dicuri Tokoh DI, Direbut Ibrahim Adjie, hingga Kembali Ke Cinunuk Garut

Cerita Duhung Pangeran Papak: Sempat Dicuri Tokoh DI, Direbut Ibrahim Adjie, hingga Kembali Ke Cinunuk Garut
Letjen Ibrahim Adjie dan Putera Pangeran Papak, Rd Djayadiwangsa. (Foto: NU Online Jabar/Rudi Sirojudin A).
Letjen Ibrahim Adjie dan Putera Pangeran Papak, Rd Djayadiwangsa. (Foto: NU Online Jabar/Rudi Sirojudin A).

Raden Wangsa Muhammad atau masyarakat menyebutnya Pangeran Papak (w.Selasa 1898 M/ 17 Safar 1317 H) yang makamnya sering diziarahi masyarakat dari berbagai daerah memiliki banyak benda pusaka seperti keris, tombak, pedang, kujang, cupumanik, guci China, goong, sadel kuda, rantai, pekakas pertanian dan perkebunan, serta manuskrip Qur’an. Salah satu pusaka yang menarik perhatian adalah keris Duhung, yaitu sebuah keris besar yang bagian pucuknya bertuliskan emas ayat Al-Qur’an. 


Duhung, setiap satu tahun sekali yakni pada setiap bulan Mulud, sering dicuci dan dibersihkan. Kegiatan membersihkan Duhung termasuk satu rangkaian bersamaan dengan ritual Mulud di Cinunuk yang lainnya seperti ziarah kubur, haul, shalawat terbangan, ngebakeun pusaka, dan nyipuh. 


Namun dalam perjalanannya, keberadaan Duhung tidak serta merta aman begitu saja. Dalam perjalanannya, Duhung pernah dicuri tokoh pemberontak DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) Kartosoewiryo, direbut Letjen Ibrahim Adjie hingga dapat kembali ke asalnya yakni kepada keluarga Pangeran Papak di Cinunuk Wanaraja Garut. 


Dikisahkan, dalam masa pemberontakan DI/TII benda-benda pusaka Cinunuk diambil oleh pasukan Kartosoewiryo dan berhasil direbut oleh Ibrahim Adjie saat operasi Pagar Betis. Saat ditanyakan pihak keluarga kepada Ibrahim Adjie terkait dengan pusaka Duhung, Ibrahim Adjie mengatakan “Pusaka Cinunuk ada satu gudang, namun terkait dengan Duhung, saya kurang tahu apakah masih ada atau tidak,” ucap Ibrahim Adjie sebagaimana dikisahkan cicit Pangeran Papak, Den Agus.


Selanjutnya pihak keluarga memeriksa beberapa pusaka, dan akhirnya menemukan Duhung. Duhung pun kemudian diserahkan kepada keluarga Cinunuk. Mengingat situasi dan kondisi keamanan belum memungkinkan Duhung disimpan di Cinunuk, maka pihak keluarga sepakat menyimpan Duhung untuk sementara waktu di kediaman Ibrahim Adjie, meskipun Ibrahim Adjie sendiri terus menerus menyerahkannya ke pihak keluarga Cinunuk. 


Kulawargi Cinunuk sadayana, nitipkeun pusaka Duhung ka Aden (Ibrahim Adjie) di Bandung margi ari bumi Aden mah dijagi langkung aman. Pami disimpeun di Cinunuk mah bilih aya deui anu nyandak. Tah kitu ngawitan pusaka Duhung aya di Pak Adjie dugi ka dangeut ieu. (Keluarga Cinunuk semua sepakat untuk menitipkan pusaka Duhung kepada Aden di Bandung mengingat di rumah Aden penjagaannya lebih aman. Itulah pertama kali pusaka Duhung ada di Pak Adjie hingga sekarang),” tutur Den Agus mengisahkan. 


Hingga saat ini pusaka Duhung Cinunuk ada di pihak keluarga Ibrahim Adjie. Itu pun sesuai dengan apa yang diamanatkan oleh sesepuh Cinunuk sebelumnya. “Ieu pusaka ulah dipenta, tapi lamun dibikeun pek tarima (Pusaka ini jangan diminta, tetapi kalau diberikan oleh pihak keluarga Ibrahim Adjie boleh diterima),” tutur Den Agus. Namun berdasarkan kesepakatan serta untuk menjaga ikatan silaturahmi antara keluarga Cinunuk dan keluarga Ibrahim Adjie, pusaka Duhung hingga kini tetap berada di keluarga Ibrahim Adjie. 


Ada tiga pusaka Cinunuk yang diambil oleh pasukan Kartosoewiryo yakni Goong besar, Duhung, dan pisau khitan Salamnunggal. Namun yang berhasil direbut kembali hanya Duhung saja. Untuk Goong besar dan pisau bekas mengkhitan di Salamnunggal hingga kini, keberadaannya belum ditemukan informasi yang jelas. 


Den Agus mengungkap bahwa pusaka Duhung menjadi incaran Kartosoewiryo mungkin disebabkan karena pusaka Duhung merupakan pusaka yang lain dari pada yang lain. 


Ia mengisahkan bahwa pusaka Duhung pernah diminta oleh Presiden Soeharto untuk dijadikan hiasan di Istana Negara. Kala itu, presiden Soeharto melalui para ajudannya meminta kepada Ibrahim Adjie agar pusaka Duhung diizinkan untuk disimpan di Istana Negara Akhirnya, setelah beberapa kali permintaan, karena sebelumnya tidak diizinkan karena berbagai alasan, pusaka Duhung pun beralih ke Istana Negara dan dipajang bersama pusaka-pusaka yang lainnya. 


Namun apa yang terjadi, pihak pengelola benda-benda pusaka di Istana Negara dalam beberapa kesempatan di setiap harinya disibukkan dengan selalu merapihkan benda-benda pusaka yang jatuh berserakan. Tampaknya, setiap benda-benda pusaka yang dipajang berdekatan dengan pusaka Duhung Cinunuk, pusaka-pusaka itu jatuh berserakan. Hal inilah yang pernah dikhawatirkan oleh Ibrahim Adjie sesaat setelah mengizinkan pusaka Duhung itu dibawa ke Istana Negara. “Kalau terjadi apa-apa terhadap pusaka Duhung jangan salahkan saya” ungkap Den Agus menirukan kisah Ibrahim Adjie ketika Duhung itu diberikan kepada ajudan Presiden Soeharto.


Demikian sedikit kisah pusaka Duhung Pangeran Papak Cinunuk Wanaraja Garut yang kini tersimpan aman di keluarga Ibrahim Adjie. Meskipun demikian, keluarga besar Cinunuk dan masyarakat yang lainnya masih dapat menyaksikan  atau melihat pusaka Duhung tersebut setiap satu tahun sekali, yakni ketika ada di bulan Mulud dalam perayaan upacara Ngebakeun Pusaka. 


Untuk diketahui, Ibrahim Adjie merupakan keturunan Cinunuk yang lahir pada 24 Februari 1924, meninggal pada 25 Juli 1999 di Singapura. Pertama kali dimakamkan di Bogor , kemudian dipindahkan ke pemakaman Cinunuk pada 13 Oktober 2017. Ia merupakan perwira tinggi militer berpangkat bintang tiga, Letnan Jenderal. Semasa hidupnya ia pernah menjabat sebagai Panglima Kodam VI/Siliwangi yang berhasil menangkap gembong DI/TII Kartosoewiryo dan menjadi duta besar RI untuk Inggris era presiden Soeharto pada tahun 1966-1970, hingga akhirnya berkecimpung di dunia bisnis.


Kisah ini disarikan dari hasil wawancara penulis bersama Den Agus (72 tahun) di kediamannya di Kampung Serang Desa Cinunuk Kecamatan Wanaraja Garut pada Selasa (20/2/2024) lalu. Den Agus sendiri merupakan putera R Aan Sumadiwangsa bin R Djayadiwangsa bin R Wangsa Muhammad (Pangeran Papak) yang bertugas sebagai kuncen makam. 


Rudi Sirojudin Abas, peneliti makam Keramat Pangeran Papak Cinunuk Wanaraja-Garut. Hasil penelitian dapat dilihat pada tesis “Religiusitas Masyarakat Cinunuk Garut dalam Struktur Ritual Mulud”: Pascasarjana ISBI Bandung, 2019.


Sejarah Terbaru