Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Duhung, Pusaka Pangeran Papak Cinunuk Garut yang Gegerkan Istana Negara

Duhung, Pusaka Pangeran Papak Cinunuk Garut yang Gegerkan Istana Negara
Letjen Ibrahim Adjie dan Putera Pangeran Papak. (Foto: Rudi Sirojudin Abas).
Letjen Ibrahim Adjie dan Putera Pangeran Papak. (Foto: Rudi Sirojudin Abas).

Di zaman sekarang, tak banyak masyarakat atau sekelompok orang yang masih menyimpan dan melestarikan benda-benda pusaka peninggalan kerajaan-kerajaan Nusantara. Jika pun ada, hanya sebatas di tempat-tempat tertentu saja seperti misalnya di Keraton Kasunanan Surakarta, Keraton Kasepuhan/Kanoman Cirebon, Keraton Sumedang Larang, Panjalu Ciamis, Godong Garut, dan keraton-keraton bekas kerajaan lainnya. 


Kegiatan melestarikan benda-benda pusaka peninggalan kerajaan-kerajaan Nusantara di setiap daerah memiliki nama yang berbeda. Misalnya, di Keraton Kasunanan Surakarta, kegiatan atau upacara dalam melestarikan benda-benda pusaka disebut Kirab Pusaka. Sementara, di Keraton Kasepuhan/Kanoman Cirebon disebut Panjang Jimat. Ngumbah Pusaka di Keraton Sumedang Larang. Nyangku di Panjalu Ciamis. Ngalungsur Pusaka di Godog Garut.


Meskipun nama kegiatannya berbeda-beda, namun intinya tetap sama yakni mengarak dan membasuh benda-benda pusaka peninggalan kerajaan yang pelaksanaannya bersamaan dengan peringatan hari-hari besar Islam. 


Sama halnya seperti apa yang dilakukan oleh keraton-keraton bekas kerajaan Nusantara, keluarga besar Pangeran Papak Cinunuk Wanaraja Kabupaten Garut pun rutin menggelar upacara memandikan atau membasuh benda-benda pusaka milik Pangeran Papak yang lebih dikenal dengan upacara Ngebakeun Pusaka. 


Ngebakeun Pusaka merupakan kegiatan memandikan benda-benda pusaka peninggalan karuhun Cinunuk (Pangeran Papak) yang dilaksanakan setiap tanggal 12 Mulud (Rabiul Awal) sebagai wujud penghormatan dan pengabdian kepada Pangeran Papak atas apa yang telah dilakukannya, yakni menyebarkan agama Islam. Benda-benda pusaka yang dimandikannya meliputi berbagai jenis keris, tombak, kujang, goong, rantai, sadel kuda, keramik cupumanik, dan lain sebagainya.


Kegiatan Ngebakeun Pusaka dilakukan bukan untuk ‘migusti’ (mentuhankan), melainkan hanya untuk ‘mupusti’ (melestarikan dan merawat) agar benda-benda pusaka itu tetap lestari. Hal tersebut dilakukan dalam rangka menjaga, sekaligus mengingatkan kepada masyarakat luas, bahwa Pangeran Papak memang benar-benar salah satu penyebar agama Islam di wilayah Garut. Selain itu, hal tersebut juga dibuktikan dengan dimilikinya benda-benda pusaka oleh Pangeran Papak. 


Senyatanya, kalau bukan orang terhormat dan orang yang tidak memiliki ilmu agama yang mumpuni, mustahil Pangeran Papak memiliki benda-benda pusaka tersebut. Terlebih dengan adanya syair Barzanji dan shalawatan dalam bentuk wawacan karya Pangeran Papak yang ditulisnya dengan hurup Arab Pegon dan berbahasa Jawa dan Sunda yang dipergelarkan di bulan Mulud juga seolah meyakinkan bahwa ia memang benar-benar orang yang telah memiliki ilmu agama yang hebat. 


Selain itu, prosesi upacara memandikan benda-benda pusaka yang bentuk, pola, dan strukturnya sama dengan upacara memandikan pusaka di keraton-keraton kerajaan Nusantara yang lainnya, mempertegas bahwa Pangeran Papak benar-benar merupakan keturunan raja. Prosesi upacara Ngebakeun Pusakanya pun sama halnya seperti upacara Kirab Pusaka, Panjang Jimat, Ngumbah Pusaka, Nyangku, dan Ngalungsur Pusaka.


Kisah Duhung, Keris Pangeran Papak yang Gegerkan Istana Negara
Terkait dengan benda-benda pusaka milik Pangeran Papak, ada kisah menarik terkait dengan Duhung, yaitu sebuah keris peninggalan Pangeran Papak yang sempat menggegerkan istana negara. 


Duhung merupakan sebuah keris besar milik Pangeran Papak yang bagian pucuknya bertuliskan emas ayat Al-Qur’an. Sebagai benda pusaka yang tentu memiliki nilai estetis dan memiliki daya-daya magis (karomah), Duhung sempat menjadi incaran tokoh-tokoh pergerakan Islam, salahsatunya yaitu SM Kartosoewirjo, pemimpin gerakan pemberontakan DI/TII di Jawa Barat. 


Benda-benda pusaka karuhun Cinunuk seperti keris, tongkat, rantai, kujang, duhung, keramik cupumanik yang awal mulanya tersimpan di Kaum Wanaraja, sempat dirampas oleh gerombolan DI/TII SM Kartosoewirjo. Namun setelah terjadinya puncak operasi pagar betis pada tahun 1962, dan SM Kartosoewirjo tertangkap, benda-benda pusaka itu berada dalam kekuasaan Letjen Ibrahim Adjie sebagai Panglima Kodam Siliwangi Jawa Barat sekaligus juga sebagai pimpinan yang bertanggung jawab penuh atas tertangkapnya gembong DI/TII SM Kartoseowirjo. 


Dari sekian benda pusaka yang berhasil dirampas kembali dari SM Kartoseowirjo, salahsatunya adalah pusaka Duhung. Demi untuk menjaga keamanan, Duhung yang telah kembali kepada keluarga Cinunuk akhirnya dititipkan kepada Letjend Ibrahim Adjie. Dan hingga sampai sekarang masih berada di keluarga Letjen Ibrahim Adjie meski tiap tahunnya (bulan Mulud) selalu diikutsertakan dalam upacara Ngebakeun Pusaka di Cinunuk.


Dikisahkan, bahwa pusaka Duhung pernah diminta oleh Presiden Soeharto untuk dijadikan hiasan di istana negara. Kala itu, presiden Soeharto melalui para ajudannya meminta kepada Letjen Ibrahim Adjie agar pusaka Duhung diizinkan untuk disimpan di Istana Merdeka. Akhirnya, setelah beberapa kali permintaan, karena sebelumnya tidak diizinkan karena berbagai alasan, pusaka Duhung pun beralih ke Istana Negara dan dipajang bersama pusaka-pusaka yang lainnya. 


Namun apa yang terjadi, pihak pengelola benda-benda pusaka di Istana Negara dalam beberapa kesempatan di setiap harinya disibukkan dengan selalu merapihkan benda-benda pusaka yang jatuh berserakan. Tampaknya, setiap benda-benda pusaka yang dipajang berdekatan dengan pusaka Duhung Cinunuk, pusaka-pusaka itu jatuh berserakan. Hal inilah yang pernah dikhawatirkan oleh Letjen Ibrahim Adjie sesaat setelah mengizinkan pusaka Duhung itu dibawa ke Istana Negara. “Kalau terjadi apa-apa terhadap pusaka Duhung jangan salahkan saya” ungkap Raden Agus menirukan kisah Letjen Ibrahim Adjie ketika Duhung itu diberikan kepada ajudan Presiden Soeharto. 


Akhirnya sesuai kesepakatan pihak keluarga Cinunuk, hingga sampai saat ini, pusaka Duhung Cinunuk masih ada di keluarga besar Letjen Ibrahim Adjie. Meskipun demikian, keluarga besar dan masyarakat Cinunuk masih dapat menyaksikan  atau melihat Duhung itu setiap satu tahun sekali, yakni ketika berada di bulan Mulud dalam perayaan upacara Ngebakeun Pusaka. 
Terkait dengan fenomena pusaka Duhung yang menggemparkan pusaka-pusaka lain yang terpajang di Istana Negara, menarik kiranya mencermati pendapat Jakob Sumardjo dalam buku Estetika Paradoks (Sunan Ambu Press, 2006) terkait dengan benda-benda pusaka yang punya daya-daya gaib transenden.


“Keris adalah jodoh pemiliknya. Bobot transenden keris harus seimbang dengan bobot batin pemiliknya. Keris adalah pemilik itu sendiri. Keris pusaka juga dapat diwariskan, namun sipenerima keris harus berjodoh dengan daya kerisnya. Keris yang tidak berjodoh akan mendapatkan malapetaka, ibarat jodoh suami istri yang tidak cocok. Dengan demikian, keris dan pemiliknya harus saling melengkapi dan berjodoh”.


Oleh karen itulah dalam pembuatan keris diperlukan laku-laku tertentu. Dari mulai membersihkan tempat penempaan, mengadakan selametan (syukuran) agar pembuatan keris berlangsung lancar, melakukan puasa, bersemedi (tirakat), menetapkan mantra-mantra atau doa-doa tertentu, menutup diri dan menyepi ketika membuatnya. 


Hasil daya-daya keris merupakan anugerah dari Yang Maha Kuasa. Berbekal dengan kesabaran, kepasrahan doa, puasa, semedi, berdzikir, dan laku batin yang lainnya, sang Empu keris siap untuk menerima karomah.  Setelah karomah masuk ke dalam keris, maka keris akan menyebarkan barokah kepada pemiliknya dan keluarganya, masyarakat, bahkan kepada bangsanya. Hal inilah kiranya yang terjadi pada pusaka Duhung Pangeran Papak Cinunuk Wanaraja Kabupaten Garut.


Demikianlah, kisah Duhung pusaka Pangeran Papak Cinunuk Wanaraja Garut yang sempat menghebohkan Istana Negara sebagaimana dikisahkan oleh Raden Agus. Raden Agus sendiri merupakan generasi ke-4 dari Pangeran Papak yang saat ini bertugas sebagai juru kunci (kuncen) makam Pangeran Papak.


Rudi Sirojudin Abas, salah seorang peneliti makam keramat Pangeran Papak Cinunuk Wanaraja-Garut. Hasil penelitian dapat dilihat pada tesis “Religiusitas Masyarakat Cinunuk Garut dalam Struktur Ritual Mulud: Pascasarjana ISBI Bandung, 2019. 

Terkait

Garut Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×