• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Senin, 4 Maret 2024

Garut

Ritual Mulud di Cinunuk Wanaraja Garut: Ngebakeun Pusaka Pangeran Papak

Ritual Mulud di Cinunuk Wanaraja Garut: Ngebakeun Pusaka Pangeran Papak
Ritual Mulud di Cinunuk Wanaraja Garut: Ngebakeun Pusaka Pangeran Papak
Ritual Mulud di Cinunuk Wanaraja Garut: Ngebakeun Pusaka Pangeran Papak

Bagi keluarga besar Raden Wangsa Muhammad  (Pangeran Papak) dan juga masyarakat Desa Cinunuk Kecamatan Wanaraja Kabupaten Garut, serta bagi masyarakat yang masih menaruh perhatian lebih terhadap keberadaan salah satu penyebar agama Islam (waliyullah) yang makamnya hingga kini masih diziarahi masyarakat dari berbagai wilayah, malam tanggal 12 Rabiul Awal (Mulud) selalu menjadi malam yang sangat istimewa. Pasalnya pada malam itu selalu digelar pelaksanaan Ngebakeun Pusaka Pangeran Papak.


Ngebakeun Pusaka merupakan salah satu bagian dari prosesi Ritual Mulud di Cinunuk Wanaraja Garut. Ritual ini merupakan kegiatan memandikan atau membasuh pusaka peninggalan karuhun Cinunuk Pangeran Papak yakni berupa keris Pasopati. Keris Pasopati yang tersimpan di sebuah kamar rumah utama Pangeran Papak dikeluarkan satu tahun sekali dari wadahnya (warangka) untuk dibersihkan. Dengan diikuti oleh pihak keluarga dan disaksikan oleh masyarakat yang terkadang di dalamnya ada pejabat tertentu, keris Pasopati kemudian dibasuh (dimandikan) dengan menggunakan air dari mata air Cimora, yakni sumber mata air yang konon dibuat oleh Pangeran Papak sendiri. Air bekas pembasuhan keris Pasopati ini yang kemudian menjadi rebutan para pengunjung. 


Mata air Cimora adalah sumber mata air yang terletak di antara pertemuan dua sungai (Cisangkan dan Cimalaka) yang membatasi komplek pemakaman Cinunuk. Saluran mata air Cimora terdiri dari tujuh saluran mata air. Air dari Cimora menjadi air yang wajib dibawa oleh masyarakat yang hendak melakukan ziarah ke makam Pangeran Papak, meskipun terkadang juga ada yang menggunakannya untuk mandi dan berwudhu. Di sekitar Cimora terletak sebuah masjid kecil (mushola) yang kerap dijadikan peziarah untuk beristirahat atau shalat.  Pada hari-hari biasa, mata air Cimora juga dijadikan masyarakat sekitar untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya seperti untuk mandi, berwudhu, mencuci, atau minum, namun tidak untuk buang air kecil dan besar. 


Prosesi Ngebakeun Pusaka


Prosesi Ngebakeun Pusaka dimulai setelah waktu Magrib. Masyarakat sebagai pengunjung mulai berdatangan memenuhi halaman rumah (Balandongan) keluarga besar Pangeran Papak sambil memberikan salam hormat kepada pihak keluarga yang sebelumnya sudah siap-siap menerima kedatangan para pengunjung, masyarakat, maupun tamu undangan.


Selepas adzan Isya dan melaksanakan shalat, para pengunjung mulai memenuhi areal halaman rumah keluarga besar Pangeran Papak, di Kampung Serang Cinunuk Hilir. Sambil menunggu kedatangan para pengunjung, sebagian pihak keluarga mulai mempersiapkan semua perlengkapan dan peralatan untuk Ngebakeun Pusaka seperti air, kapas putih yang dilumuri minyak wewangian (japaron merah), parupuyan lengkap dengan kemenyannya, ember dan gelas-gelas untuk menaruh air cucian keris Pasopati, sajian makanan asakan (sesajen) berupa nasi putih yang dicampur kacang hitam, kuning telur, kacang tanah yang ditumbuk yang dilengkapi dengan kerupuk kemplang putih, serta empat sajian makanan yang terdiri dari ketan bakar, pisang bakar, umbi kuning, hitam, atau merah dan ketela rebus. 


Setelah pihak keluarga, masyarakat, para pengunjung, serta tamu undangan sudah dipastikan hadir, sekitar pukul 8 malam seseorang yang dituakan (kuncen/penjaga makam) kemudian mulai berangkat menuju makam Pangeran Papak diikuti oleh masyarakat dan para pengunjung. Sebelum tiba di makam Pangeran Papak, masyarakat dan para pengunjung secara bergiliran mengambil air, berwudhu, ataupun ada juga yang mandi di mata air Cimora. Sesampai di makam Pangeran Papak, para pengunjung dan masyarakat secara bergantian melakukan ziarah dengan dipimpin oleh kuncen makam. Karena ruangan makam Pangeran Papak terbatas hanya mampu menampung seratus peziarah, maka pelaksanaan ziarah dibagi beberapa sesi, biasanya 5-10 sesi tergantung banyaknya peziarah. 


Dalam pelaksanaan ziarah, kuncen makam selalu mengutarakan maksud dan tujuan berziarah. Selain untuk mendo’akan Pangeran Papak dan mempersembahkan penghormatan kepada Pangeran Papak, ziarah juga dilakukan untuk meminta keberkahan dan keselamatan kepada Allah SWT agar pelaksanaan ritual Ngebakeun Pusaka berjalan dengan lancar. Kuncen makam juga menyampaikan harapan agar semua peziarah diberikan kemudahan dalam menjalani kehidupan seperti kelapangan terkait dengan rizki, jabatan, kecerdasan, dan lain sebagainnya, terutama kelapangan terkait dengan kekuatan iman kepada Allah dan Rasul-Nya.  


“Abdi sadaya nyanggakeun pangjarahan, agungna kanu Maha Suci, jembar barokahna ti sayyidina pangkon gamparan, mugia naon-naon nu dipimaksad diijabah Allah SWT.” (Persembahan ziarah dari kami, atas dasar keagungan Allah SWT, berkah dari panutan kami paduka yang mulia (Pangeran Papak), semoga apa-apa yang diinginkan dapat dikabulkan oleh Allah SWT), demikian penggalan pembuka maksud ziarah yang dibacakan kuncen makam. 


Ziarah ke makam Pangeran Papak diisi dengan pembacaan tawassul kepada para nabi, sahabat nabi, para aulia, dan para karuhun yang telah meninggal terutama kepada Pangeran Papak. Selain tawassul, dalam ziarah juga dibacakan tahlil, do’a dan terkadang shalawat dan yasinan. 


Selepas ziarah, pengunjung dan masyarakat kembali ke halaman rumah keluarga besar Pangeran Papak untuk menyaksikan prosesi Ngebakeun Pusaka. Ngebakeun Pusaka dilaksanakan di dalam rumah utama Pangeran Papak. Pihak keluarga dan tamu yang hanya diizinkanlah yang berhak menyaksikan Ngebakeun Pusaka secara dekat, sementara masyarakat dan pengunjung hanya bisa menunggu dan menyaksikannya dari kejauhan. 


Prosesi Ngebakeun Pusaka pun dimulai. Salah satu anggota keluarga masuk ke kamar dan keluar dengan membawa satu bilah keris dengan warangkanya yang dibalut kain hitam. Keris pun langsung disimpan di atas parupuyan dengan dibacakan tawassul dan do’a. Semerbak asap parupuyan kemenyan seketika itu mengharumi semua penjuru ruangan. Balutan kain hitam kemudian dibuka, keris pun dikeluarkan dari warangkanya yang selanjutnya dibasuh dengan air. Basuhan air keris ditampung di gelas-gelas yang disediakan yang kemudian air bekas basuhan itu diminum oleh para anggota keluarga Pangeran Papak.


Setelah itu, keris yang dinamai Pasopati itu kemudian diarak ke luar halaman rumah untuk diperlihatkan kepada para pengunjung. Keris Pasopati itu kemudian dicelupkan ke tempat-tempat penampungan air yang telah disediakan sebelumnya. Keris Pasopati pun setelah itu dibawa lagi ke dalam ruangan rumah. Sementara masyarakat dan para pengunjung secara berdesakan meminta air bekas cucian Keris Pasopati kepada petugas menggunakan ember, kompan, botol, maupun tempat air sejenisnya. 


Di dalam rumah, Keris Pasopati kemudian dibersihkan dengan kapas putih yang telah dicampuri wewangian minyak japaron merah. Setelah itu keris pun dimasukan kembali ke warangkanya dan simpan ke tempat semula di kamar utama oleh salah satu anggota keluarga. 


Selanjutnya, giliran masyarakat dan para pengunjung, diawali dengan pengunjung perempuan (ibu-ibu, remaja, gadis, dan anak-anak) yang kemudian dilanjutkan oleh pengunjung laki-laki (bapak-bapak, pemuda, remaja, dan anak-anak) dipersilahkan memasuki rumah untuk mengambil satu gelas air bekas cucian Keris Pasopati, kapas yang dicampuri wewangian minyak japaron merah, serta sajian makanan dan umbi-umbian. 


Setelah semua masyarakat dan para pengunjung mendapatkan air bekas cucian Keris Pasopati, kapas putih yang telah dicampuri wewangian minyak japaron merah, serta sajian makanan dan umbi-umbian, mereka selanjutnya membubarkan diri. Ada juga sebagian masyarakat atau para pengunjung, sebelum membubarkan diri berpamitan terlebih dahulu kepada para anggota keluarga Pangeran Papak. Tak sedikit dari mereka yang akan berpamitan pulang memberikan uang dalam bentuk amplop kepada para anggota keluarga Pangeran Papak. Pemberian uang itu dimaksudkan sebagai ungkapan rasa terimakasih atas jasa Pangeran Papak yang konon karena berkat do’a dan karomahnya, wilayah yang mereka tempati sekarang bisa tetap subur dan makmur. 


Sebagian masyarakat dan pengunjung ada juga yang menghabiskan makanan sajian dan umbi-umbian di tempat prosesi Ngebakeun Pusaka berlangsung. Tetapi kebanyakan dari mereka yaitu membawa hasil dari sajian Ngebakeun Pusaka ke rumahnya masing-masing. (Bersambung).


Rudi Sirojudin Abas, peneliti makam keramat Pangeran Papak Cinunuk Wanaraja-Garut. Hasil penelitian dapat dilihat pada tesis “Religiusitas Masyarakat Cinunuk Garut dalam Struktur Ritual Mulud: Pascasarjana ISBI Bandung, 2019. (Tulisan di atas merupakan hasil pengamatan penulis sendiri saat mengikuti ritual Ngebakeun Pusaka pada Malam Kamis, 12 Rabiul Awal 1445 H)


Garut Terbaru