• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 18 Juni 2024

Sejarah

Bukan Palestina, Inilah Negara yang Ingin Dijadikan Homeland Israel Awalnya (1)

Bukan Palestina, Inilah Negara yang Ingin Dijadikan Homeland Israel Awalnya (1)
Ilustrasi. (Foto: NU Online/freepik)
Ilustrasi. (Foto: NU Online/freepik)

Konflik antara Palestina dengan Israel telah mencatatkan sejarah kelam dalam peradaban umat manusia di zaman modern. Selain memakan korban ratusan ribu bahkan jutaan jiwa, perang berkepanjangan tersebut juga membuat stabilitas geopolitik dunia ikut terguncang. 


Peristiwa tersebut bermula dari gagasan seorang tokoh zionisme paling berpengaruh pada abad ke 19 yakni Theodor Herzl (1860-1904) yang ingin mendirikan tanah air (homeland) bagi kaum Yahudi.


Melansir tulisan Moh Salapudin yang dikutip NU Online, Herzl menulis sebuah buku berjudul “The Jewish State: an Attempt at a Modern Solution to the Jewish Question”. 


Dalam buku tersebut, Herzl mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah Yahudi di Eropa adalah dengan menciptakan “homeland” Yahudi.


Sebenarnya, wilayah yang pertama kali ditunjuk untuk dijadikan “homeland” Yahudi bukanlah Palestina. Dalam Kongres Zionis keenam pada 1903, setelah melalui perdebatan panjang, gagasan Herzl untuk menjadikan Uganda sebagai “homeland” Yahudi dipilih.  


Gagasan Herzl tersebut didukung oleh 295 suara melawan 177 suara menentang, sementara 100 suara abstain. Namun pada 1904 Herzl meninggal dunia dalam usianya yang ke-44. Setahun setelah meninggalnya Herzl, Kongres Zionis ketujuh akhirnya menolak apa yang disebut dengan “Rencana Uganda” yang dicetuskan Herzl. 


Pada 1905 dilakukan lagi pemungutan suara dalam sebuah kongres dan mereka memutuskan Palestina sebagai “homeland” kaum Yahudi. Dari sinilah persoalan dimulai. Karena sejak Palestina mereka putuskan sebagai “homeland” bagi kaum Yahudi, terjadilah gelombang imigrasi ke Palestina. 


Pembangunan “homeland” Yahudi itu dipuncaki dengan pecahnya perang 1948 yang oleh Israel disebut sebagai perang kemerdekaan Israel; sebaliknya, bagi bangsa Arab, inilah awal perang penjajahan.


Sementara itu, dalam penjelasan lain dari seorang cendekiawan Muslim Indonesia Prof Muhammad Quraish Shihab mengatakan bahwa jauh sebelum menguasai tanah di Palestina, orang Yahudi sangat dibenci. 


Ketika zaman Adolf Hitler, orang-orang Yahudi banyak dibunuh (seperti peristiwa Holocaust) sehingga mereka terpencar-pencar ke berbagai negara. Ada yang ke Yunani, Perancis, Inggris, Rusia, Eropa secara umum, dan seterusnya. Karena terpencar-pencar itulah, mereka ingin bersatu dan memiliki negara sendiri.


Kemudian pada Perang Dunia I (1914-1918), terjadi peperangan antara Inggris, Amerika, dan sekutunya, melawan Kesultanan Utsmaniyah. Ketika itu, Menteri Luar Negeri Inggris berjanji bahwa pihaknya akan memberikan orang-orang Yahudi suatu negara, agar mereka membina negara ini, dan orang-orang Yahudi terpencar-pencar di mana-mana itu menyatu di sana.


Diusulkanlah tiga tempat, ada yang berkata empat tempat. Yang pertama Argentina, yang kedua Uganda, yang ketiga Palestina. Ada yang berkata juga Afrika Selatan. Orang-orang Yahudi memilih Palestina. Lalu mereka mencari dalih keagamaan. Ditemukanlah di dalam Perjanjian Lama, bahwa 'Tuhan menjanjikan untuk orang Yahudi itu negeri leluhur mereka: Palestina,' di mana di sana dulu pernah berkuasa Nabi Sulaiman dan Nabi Daud. Bersambung....


Sejarah Terbaru