• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Rabu, 21 Februari 2024

Opini

KOLOM GUS ISHOM

Visit ke Pabrik Gula Stevia di Chile ​​​​​​​

Visit ke Pabrik Gula Stevia di Chile ​​​​​​​
Visit ke Pabrik Gula Stevia di Chile ​​​​​​​
Visit ke Pabrik Gula Stevia di Chile ​​​​​​​

Sayangnya saya tidak cukup waktu untuk menceritakan satu persatu dari banyak kegiatan disela-sela kunjungan singkat saya bersama empat teman lainnya dari perwakilan pemerintah RI ke Chile. Tapi semua itu menjadi pengalaman yang sama sekali baru. Misalnya, seumur hidup saya baru pertama kali visit ke pabrik gula stevia di suatu daerah yang cukup jauh dari Santiago, ibu kota Chile, sekitar satu jam dari Vila del Mar.


Sayang, saya lupa nama tempatnya yang asing di telinga saya. Yang pasti, berkunjung ke tempat baru menambah pengetahuan baru.


Di Indonesia, saya tahu tentang gula stevia amat sedikit. Sampai kini saya yang bukan ahlinya juga hanya tahu cuma sedikit. Namun, dengan mengunjungi pabrik tempat memproduksinya yang sama sekali tidak pernah terbersit di pikiran saya adalah hal baru. Apalagi untuk memeroleh penjelasan tentang bahan bakunya, melihat langsung mesin-mesinnya yang serba canggih, bagaimana proses produksi, hingga akhirnya dikemas sampai bisa dikonsumsi.


Gula stevia berbeda dari gula yang biasa kita konsumsi. Gula stevia adalah satu di antara dari beberapa pemanis alami atau gula rendah kalori dan tidak mengandung karbohidrat yang bisa menaikkan glukosa atau kadar gula darah, sehingga jika dikonsumsi dengan kadar yang tepat, cukup aman bagi penderita diabet mellitus.


Penyakit ini amat populer menjadi "pembunuh" pelan-pelan di negara kita. Selain itu, gula stevia ini juga dipercaya mampu menurunkan kadar kolesterol. Gula stevia juga aman dikonsumsi oleh anak-anak agar terhindar dari obesitas.


Kebanyakan kita memang punya tradisi kurang peduli kepada kesehatan, amat hobi makan nasi, daging dan juga mengkonsumsi gula biasa, yakni gula tebu atau gula aren. Budaya "ngopi" dan minum teh manis pakai gula biasa (sukrosa) adalah buktinya. Kebiasaan buruk tersebut agaknya perlu dikurangi, ditinggalkan sama sekali, atau jika minum teh manis atau "ngopi" dengan rasa manis tidak bisa ditinggalkan maka gantilah dengan pemanis alami, gula stevia. Kalau tidak salah gula stevia ini sudah tersedia di toko-toko, misalnya merk Tropikana Slim.


Masyarakat di negara-negara maju seperti di Amerika, Eropa, Jepang dan China sudah lama mengganti konsumsi gula pasir dengan gula stovia. Daun stovia yang belum diolah yang bentuknya mirip daun Mint itu bahkan menjadi pemanis minuman dan makanan bagi penduduk di Paraguai dan Brazil.


Di ruang laboratorium pabrik gula stovia di Chile saya sempat diminta untuk mencicipi amat sedikit ekstraknya maupun bahannya, berupa kurang dari selembar kecil daun stevia. Rasa manisnya luar biasa, diklaim 250-300 kali lipat rasa manis gula biasa.


Sebagai oleh-oleh, saya juga mendapat satu bungkus gula stevia pure powder sebagai sample seberat 20 gram yang kadar gulanya setara 4 kg gula biasa.


KH Ahmad Ishomuddin, Rais Syuriyah PBNU masa khidmah 2010-2015 dan 2015-2021.


Opini Terbaru