Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Pesan Dakwah dalam Bait-bait Syair “Pujian” Jawa

Pesan Dakwah dalam Bait-bait Syair “Pujian” Jawa
(Ilustrasi: NUO).
(Ilustrasi: NUO).

Oleh: Hari Susanto
Dakwah menurut bahasa (etimologi) berasal dari kata bahasa Arab, yaitu: (da’a – yad’u – da’watan) yang memiliki arti sebagai ajakan atau seruan kepada agama Islam. Sedangkan secara istilah (terminologi) menurut beberapa pakar ilmu yang mendefinisikan dakwah adalah sebagai berikut:

 

Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa dakwah adalah seruan untuk beriman kepada-Nya dan pada ajaran yang dibawa para utusan-Nya, membenarkan berita yang mereka sampaikan serta mentaati segala perintah-Nya. (Tata Sukayat, “Quantum Dakwah” [Jakarta: Rineka Cipta, 2009])

 

Prof. Dr. H. Aboebakar Atjeh dalam bukunya yang berjudul “Beberapa Catatan Mengenai Dakwah Islam” mengatakan: 

 

“Dakwah adalah seruan kepada semua manusia untuk kembali dan hidup sepanjang ajaran Allah yang benar, dilakukan dengan penuh kebijaksanaan dan nasehat yang baik.” (Aboebakar Atjeh, 1971:6)

 

“Abu Bakar Zakary berpendapat bahwa dakwah adalah usaha para ulama dan orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang agama (Islam) untuk memberi pengajaran kepada khalayak hal-hal yang dapat menyadarkan mereka tentang urusan agama dan urusan dunianya sesuai dengan kemampuannya.” (Muhammad Qadaruddin Abdullah, “Pengantar Ilmu Dakwah”, [Penerbit Qiara Media, Cetakan Pertama, 2019])

 

Dalam beberapa pandangan oleh para pakar ilmu di atas dapat disimpulkan bahwasanya yang dimaksud dengan dakwah adalah suatu pesan ajakan atau seruan dari seseorang yang memiliki ilmu pengetahuan (ilmu agama) kepada orang lain agar senantiasa berada dalam jalan yang Allah ridhai dengan nasehat yang baik dan bijaksana. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

 

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah (Allah Swt.) yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl [16]: ayat 125)

 

Sedangkan kata “Pujian” yang dimaksud dalam tulisan ini yaitu memiliki makna bait-bait syair yang bertujuan untuk memuji (kalimat puji-pujian) kepada Allah dan Rasul-Nya atau pun pesan berupa ajakan untuk selalu berada di jalan Allah Swt. dan dilantunkan secara berirama yang menyerupai sebuah lagu. Pujian ini biasanya dilantunkan oleh seseorang di kebanyakan masjid atau musholla dalam waktu setelah azan dan sebelum iqamah dikumandangkan (jeda waktu di antara azan dan iqamah).

 

Bagi masyarakat Muslim tradisional Jawa khususnya di kalangan Nahdliyyin (warga Nahdlatul Ulama), pujian merupakan suatu hal yang ‘tidak boleh tidak’ artinya wajib (harus dilakukan) oleh seseorang ketika sesaat setelah azan shalat fardhu dikumandangkan sambil menunggu para jamaah lain berdatangan untuk melaksanakan shalat berjamaah baik di masjid maupun di mushola. 

 

Karenanya hal demikian sudah menjadi sebuah tradisi yang ditanamkan oleh para ulama khususnya kiyai-kiyai kampung agar tetap melestarikan sebuah metode dakwah yang bijaksana warisan dari Wali Songo. Seperti pada bait-bait syair pujian berbahasa Jawa (Dermayon / versi Indramayu) berikut ini:

 

Bait [1]:
Nyai Masyitoh pahlawan putri,” // Siti Masyitoh (tukang sisir putri Fir’aun yang mati syahid demi mempertahankan keiimanannya kepada Allah) pahlawan putri
Membela agama berani mati,” // Membela agama berani mati
Jembar kuburane tandane mambu wangi,” // Lapang kuburannya menandakan harum semerbak
Seneng lan bungae dikasihi Kanjeng Nabi ...” // Bahagia dan amat gembira ketika ia (Siti Masyitoh)  disayangi oleh Rasulullah Saw. 

 

(Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, Ibnu Abbas mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda bahwa ketika ia (Saw.) menjalani Isra melewati suatu tempat yang baunya sangat harum. Maka Rasulullah Saw. bertanya, “Bau harum apakah ini?” Jibril menjawab, “Masyitoh binti Fir’aun dan anak-anaknya.”)

 

Bait [2]:
Malam Jum’atan wong mati nyanding lawang,” // Pada malam Jum’at ruh-ruh berdiri di depan pintu rumahnya masing-masing
Njaluk dikirimi pendongane maca Qur’an,” // Minta didoakan dengan bacaan ayat suci Al-Qur’an
Ora bisa maca ngemek dada brebes milih,” // Ketika ahli waris (keluarganya) tidak ada yang bisa membaca Al-Qur’an atau tidak ada yang mendo’akannya, ia (ahli ruh) akan menangis tersedu-sedu
Balik ning kuburan tetangise awan bengi ...” // Pulang ke kuburan sambil terus menangis dalam siang atau pun malam hari

 

Bait [3]:
Wong ning dunya pada Islama,” // Orang-orang di dunia haruslah memeluk Islam
Rukune Islam yaiku lima:” // Rukunnya Islam yaitu ada lima
Syahadat loro, rukun kang siji,” // Dua kalimat syahadat adalah rukun yang pertama
Bisa-a sira kelawan ngaji,” // Alangkah baiknya jika engkau ikut mengaji
Ngajia sira marek ning kiai,” // Mengajilah engkau mendekat kepada kiyai
Kanggo sangu sira besuk yen mati ...” // Untuk bekal engkau kelak setelah mati
Lan kepindone njenengaken sholat,” // Dan (rukun Islam) yang kedua adalah menegakkan shalat
Lan kepingtelune ngawe-aken zakat,” // Dan (rukun Islam) yang ketiga adalah menginfakkan zakat
Puasa-a sira ning wulan romadhon,” // Berpuasalah engkau di bulan suci ramadhan
Lunga haji sira lamon kuasa ...” // Naik hajilah engkau jikalau mampu

 

Bait [4]:
Sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali” // Sahabat Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali
Hasan, Husein, Siti Fatimah binti Rosuli,” // Hasan, Husein, Siti Fatimah binti Rasulullah
Kita bersumpah membela agama,” // Kita bersumpah membela agama (Islam)
Alim ulama seluruh dunia,” // Alim ulama di seluruh dunia
Wong duwe kuping aja budek aja tuli,” // Orang yang memiliki telinga (untuk mendengar) janganlah tuli atau pura-pura tidak mendengar
Ana wong azan jage marek buru kari ....” // Saat ada orang yang mengumandangkan azan bersegeralah untuk mendekat (ke masjid) jangan sampai ketinggalan (shalat berjamaah)

 

Pada bait-bait syair “pujian” yang berbahasa Jawa di atas betapa mengandung makna yang amat sangat mendalam, dalam setiap baris pada masing-masing bait-bait syair “pujian” tersebut adalah sebuah pesan dakwah yang ditujukan kepada umat manusia agar senantiasa berada pada jalan kebenaran (Islam). 

 

Dalam bait pertama [1] pada syair tersebut mengisahkan tentang perempuan muslimah yang syahid terbunuh oleh raja Fir’aun demi membela dan mempertahankan keimanannya atau pun rasa kecintaannya kepada Allah Swt. (mahabbah) sampai-sampai Rasulullah Saw. mencium harum semerbak dari kuburannya ketika beliau sedang melakukan Isra Mi’raj bersama Malaikat Jibril. Sehingga dalam bait [1] tersebut Siti Masyitoh dijuluki sebagai “Pahlawan Putri”.

 

Dalam bait syair kedua [2] seolah memberi pesan kepada umat tentang pentingnya sebuah doa. Bahwasanya tiap-tiap ruh pada setiap malam Jum’at akan berdatangan menghampiri ahli keluarganya masing-masing untuk kiranya meminta doa dari mereka yang masih hidup di alam dunia. Ada hadits juga; “sesungguhnya arwahnya orang mukmin datang di setiap malam jum’at ke langit dunia dan berdiri di dekat rumah mereka dan memanggil-manggil penghuni rumah dengan suara yang sedih sampai 1000 kali.”  (I’anah At Thalibiin)

 

Pada bait ketiga [3] dalam syair pujian ini memberikan sebuah pesan bahwa umat manusia haruslah memeluk syariat Islam serta mengamalkan apa yang ada dalam rukun Islam yang lima dengan sungguh-sungguh dan didasari dengan pengetahuan agamanya oleh guru-guru agama (kiyai).

 

Sedangkan pada bait keempat [4] dalam syair pujian Jawa Dermayon (versi Indramayu) seperti di atas, yang pernah dijelaskan oleh guru ngaji penulis sewaktu beliau masih hidup, beliau (Kiyai Sudirja yang notabene kiyai NU tulen) menjelaskan ketika sedang ngewuruk (mengajar ngaji) di musholla Al-Hidayah di Desa Lamaran Tarung, Cantigi, Kab. Indramayu, “bahwasanya kita sebagai Muslim sejati harus tetap teguh dalam mengemban prinsip dakwah. Kita sebagai umat Rasulullah Saw. Harus meneladani perjuangan para sahabat beliau (Saw.) seperti sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan putri Rasulullah Saw. (Siti Fatimah) beserta dua cucu kesayangan Rasulullah Saw. yakni Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein dalam kegigihannya membela panji-panji Islam.”

 

Sedangkan pada dua baris terakhir dalam syair pujian tersebut seperti:

“Wong duwe kuping aja budek aja tuli, 
Ana wong azan jage marek buru kari ....”


Memiliki pesan makna berupa suatu ajakan kepada tiap-tiap Muslim agar selalu menjaga shalat lima waktu dan istiqamah dalam menjalankannya dengan secara berjama’ah.

 

Dengan demikian dakwah menjadi hal yang bukan lagi hanya disampaikan oleh para ulama atau tokoh agama tertentu. Dengan kemasan berupa syair pujian, dakwah menjelma sebuah seni yang memiliki nilai keindahan tersendiri bagi seorang da’i atau pun bagi orang-orang yang didakwahinya. Sehingga tujuan dari dakwah itu sendiri bisa tercapai dengan baik. Karenanya dakwah merupakan salah satu penentu tercapainya kebahagiaan di dunia dan akhirat. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

 

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ 

 

Artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali-‘Imran [3]: Ayat 104)

 

Penulis merupakan Santri Alumni Ponpes Al Ihsan Cibiru Hilir

Terkait

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×