Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Dalam Memilih, Kita Tak Bisa Tinggalkan Qolbu

Dalam Memilih, Kita Tak Bisa Tinggalkan Qolbu
(Ilustrasi: NUO).
(Ilustrasi: NUO).

Kadang tidak mudah memilih atas pertimbangan akal semata. Semua yang ditimbang akal bisa rasional dan baik. Namun hidup harus memutuskan dengan pertimbangan yg lebih luas. Kita tidak lagi memandang baik-buruk berdasarkan kriteria maupun persepsi kita sendiri. Baik di mata kita, belum tentu baik di sisiNya. Jelek bagi kita, belum tentu jelek di sisiNya. 


Sesuatu yang baik menurut akal kita, belum tentu benar. Sesuatu yang benar pun belum tentu mengandung maslahat bagi semuanya. 


Hari ini, kita masih sering berdebat menggunakan logika atau akal untuk sesuatu yang tidak, atau belum ada ujungnya, atau belum sampai muaranya.    


Berbagai topik membuat medsos selalu bising dengan perdebatan. Masih baik kalau perdebatan itu saling toleran, saling santun dan menjadi proses dialektika untuk menemukan pertimbangan yang paling baik. Sayangnya masing-masing pihak seringkali justru memaksakan pikirannya sebagai satu-satunya opsi kebenaran. Seolah tidak ada opsi lain. 


Dan dengan pikiran sendiri pun, kita sering bertarung. Apalagi berhadapan dengan pilihan yang berbeda. 


Namun apapun pikiran yang berkembang, itu seharusnya menjadi keindahan. Sudah menjadi sifat akal mengembara dengan pikiran yang jauh sekalipun. Dan manusia diberi keunggulan dari mahluk manapun karena akal. 


Seperti Allah tegaskan bahwa,  "... Kami lebihkan dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Israa’ : 70).


Hanya saja kita tidak boleh meninggalkan hati atau qolbu.  Seperti sabda Nabi, ”Ingatlah, sesungguhnya pada jasad manusia itu terdapat segumpal darah, jika baik, seluruh tubuh akan baik, jika rusak, rusaklah semua jasad, ingatlah, dia itu adalah hati."


Dan dengan hati, kita bisa berjihad melawan hawa nafsu.  Dan bisa berhenti sejenak memaksakan pikiran kita kepada pihak lain.


Akal memberi pertimbangan, hati jua yang memilih. Akal pergi berlayar, hati jua tempat berlabuh. 


Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCINU Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Terkait

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×