• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Jumat, 19 April 2024

Opini

Bulan Gus Dur

Agar Hidup Tidak Mudah Stres Ala Gus Dur

Agar Hidup Tidak Mudah Stres Ala Gus Dur
(Ilustrasi: NUO.
(Ilustrasi: NUO.

Oleh: Hari Susanto
Siapa yang tak kenal dengan tokoh nasional yang satu ini, selain daripada ia pernah menjabat sebagai Presiden RI ke 4, ia juga seorang tokoh ulama besar Indonesia khususnya di kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Abdurrahman Wahid atau populer disapa dengan sebutan Gus Dur. Cucu dari KH. Hasyim Asy'ari (Pendiri NU) ini adalah seorang pelopor negeri ini yang begitu dicintai baik oleh pengikutnya maupun masyarakat umum atas semua jasa-jasanya yang ia perjuangkan semasa hidupnya.

 

Gus Dur pula bisa dikatakan sebagai religius, pemerintahan, seni, berita, guyonan, kritikan, fashion, sepakbola, partai politik, budaya, pluralisme dan semuanya melekat dalam dirinya. Sangat unik memang jika kita membahas seputar Gus Dur dan semua tentangnya, maka tak heran pria yang populer dengan celetukan "Gitu aja kok repot" ini sungguh sangat sulit untuk ditebak jalan pikiran ataupun tindak-tanduk perbuatannya. Bahkan di dalam buku yang berjudul "Bukti Gus Dur Wali" (karya Ahmad Mukafi & Syaifullah Amin, cetakan pertama, oktober 2016), dikatakan bahwasanya betapa Gus Dur sangat autentik, orisinil, genius, dan tidak mudah dipengaruhi oleh orang se-Indonesia sekalipun.

 

Ia juga disebut-sebut sebagai wali karena kelebihannya yang mampu mengetahui suatu peristiwa sebelum kejadian memang belum terjadi (weruh sak durunge winarah).

 

Sebagaimana celetukannya yang sangat khas "Gitu aja kok repot", yang mempunyai makna amat dalam jika direnungkan dengan penuh penjiwaan. Kata-kata yang nampak seperti biasa-biasa saja, namun akan begitu berarti dalam kehidupan yang sudah semakin rumit seperti sekarang ini. "Gitu aja kok repot", menjelma bagai penawar segala penyakit hati, pelindung dari berbagai macam duri, penenang ruang yang tersembunyi, yaitu hati sanubari.

 

Ingatkah kita, ketika Gus Dur hendak digelincirkan dari kursi jabatannya sebagai presiden, ia yang masih sempat-sempatnya melontarkan guyonan yang menjadi identitas kehumorisannya ketika ribuan orang menuntutnya untuk mundur. "Gimana mau mundur, wong maju aja susah" tuturnya waktu itu. Langkah sekaligus pengakuan atas kekurangan fisiknya karena matanya yang mengalami kebutaan. Sungguh tidaklah mudah melakukan lelucon (guyon) dalam situasi dan kondisi yang sedang terancam. Bahkan ketika Gus Dur ditanya tentang mengapa dirinya bersedia mundur dari jabatannya sebagai presiden kala itu, padahal ia bisa saja tetap bertahan lebih lama dalam masa jabatannya sebagai orang nomor satu di negeri ini, yang ia katakan dalam acara Kick Andy adalah, "Saya tidak mau berkorban banyak nyawa berdarah-darah hanya demi mempertahankan suatu jabatan, saya juga tidak mau kompromi dengan orang yang salah, biarkan bangsa ini sendiri yang akan menilainya. Gitu aja kok repot,".

 

Dengan gaya humorisnya yang santai dan jenaka, dengan penuh kerendah hatian Gus Dur menjawab pertanyaan itu di depan para hadirin acara talk show tersebut. Sungguh hanya manusia terpilih dan pemberani yang bisa melakukan seperti itu.

 

Ketika Gus Dur ditanya tentang siapa musuh terbesarnya di negeri ini selain Amin Rais dan Megawati, beliau menjawab: "Pak Harto!" Itupun saya selalu berhubungan baik dengan mereka (Pengakuan Gus Dur). Gus Dur yang senantiasa memaafkan semua kesalahan semua orang meski ia juga tak mudah melupakannya. Karena baginya hidup adalah cara bagaimana manusia harus mampu memanusiakan kemanusiaannya manusia itu sendiri. Secara tidak langsung beliau menegaskan bahwa hidup adalah upaya seseorang untuk tidak merugikan orang lain.

 

Ada satu statement Gus Dur yang sangat begitu mendalam selain dari "Gitu aja kok repot", yaitu "Orang yang masih terganggu dengan hinaan dan pujian dari manusia, ia masih hamba amatiran." Hal itu sangat erat kaitannya dengan Firman Allah pada QS. Yunus ayat 62-64:

 

{أَلا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (64) }

 

Artinya: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (QS. Yunus: 62-64).

 

Sederhananya beliau adalah teladan bagi semua yang hendak hidup tentram, damai dan yang hendak hidup dijauhkan dari rasa stres yang terus menjadi tamu dalam pikiran manusia setiap hari. Dengan demikian, sudah sepatutnya kita sebagai hamba yang lemah untuk mengambil hikmah dari apa yang telah Gus Dur contohkan. Gus Dur telah meneladankan, saatnya kita yang meneruskan. Wallahu A'lam.

 

Penulis merupakan Alumni Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung
 


Opini Terbaru