Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Seminggu ke Muktamar (1)

Seminggu ke Muktamar (1)
Gedung Siger Lampung. (Foto: RRI)
Gedung Siger Lampung. (Foto: RRI)

Handphone saya berdering pagi-pagi, "Yahya berangkat ke Lampungnya hari Minggu ya, ditunggu di rumah Abah," begitu pesan Rais Syuriyah. 


Rasanya senang sekali setiap dapat telepon dari beliau. Ya begitulah sejak masuk dalam struktural Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) kerja saya adalah menerima perintah dan melaksanakan perintah kiai. 


Muktamar kali ini pas di bulan Desember di bulan Gus Dur. Berbeda dengan kawan-kawan saya yang lain, saya masuk NU itu karena minat saya pada pemikiran-pemikiran Gusdur. Di kader di PMII membawa saya muter menghadiri diskusi-diskusi dengan Gusdur sebagai pemateri, kadang pulang sampai dini hari, ketika pulang teman-teman tanya ngapain saja hingga pulang dini hari.


Dari Gusdur kemudian saya menyusur soal NU. Dan di bulan Gusdur ini saya dapat barokahnya bisa menjadi peserta muktamar 34. Kali pertama saya menghadiri Muktamar di Jombang saat itu masih Ketua MWC. Karena prestasi saya minim maka hanya karena barokahnya kenal Gusdur dan berkhidmah ke kiailah saya bisa menjadi peserta Muktamar. 


"Yahya nanti kamu nemenin Abah ya di Muktamar," begitulah saya tak berminat pindah ke hotel meski diajak, saya ditugasi menemani Abah di Universitas Malahayati.


Tanpa kenal Gus Dur dan jika saya tak nempel Rais Syuriyah maka dipastikan saya pasti tak mungkin punya kesempatan menjadi peserta muktamar, Wong saya bukan siapa-siapa. 


Suatu ketika saya ceritakan ke Ketua Tanfidziyyah betapa saya seringkali mendapat keberuntungan yang bertubi-tubi berkah berkhidmah di Nahdlatul Ulama. 


Dan ketika mobil menjejakkan di tanah Sumatra, saya geleng-geleng kepala banyak sekali baliho dengan ukuran jumbo bertuliskan "Menghidupkan Gus Dur" dengan gambar Gus Yahya dan Gus Dur sebagai background. Ingatan saya langsung menerawang ke masa lalu 25 tahun silam bersama teman-teman PMII yang melempar palu, membanting gelas, memutar meja ketika mengajari saya tata cara persidangan. 


Pelatihan organisasi saat itu saya nilai mengerikan, pembahasan penuh interupsi di sidang Tatib muktamar 34 menurut saya biasa-biasa saja. Memang begitulah cara kader-kader NU bersikap pada saat kritis.


Sejak hari pertama saya yakin betul pemenang kontestasi muktamar kali ini adalah Gus Yahya. Registrasi yang rumit meski diawali dengan registrasi online adalah awal pertempuran yang sesungguhnya. Dalam hati saya membatin ini kacau sekali, sepertinya ini sengaja, lucu sekelas PB sampe crowded seperti ini. Ternyata sampai dengan akhir banyak hal-hal yang lucu Bersambung..


Yahya Ansori, Sekretaris PCNU Kabupaten Indramayu

Terkait

Ngalogat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×