• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Jumat, 19 April 2024

Ngalogat

Satu Abad NU: Aku Bangga Jadi Warga Nahdlatul Ulama (2)

Satu Abad NU: Aku Bangga Jadi Warga Nahdlatul Ulama (2)
Satu Abad NU: Aku Bangga Jadi Warga Nahdlatul Ulama (2)
Satu Abad NU: Aku Bangga Jadi Warga Nahdlatul Ulama (2)

Dalam Ilmu Bayan ada sebuah Qaidah, Attasybiihu nuqshaanu maa yahkii. Menyerupakan sesuatu itu ada kekurangan di pihak yang diserupakan. Artinya bahwa dengan perumpamaan tersebut seolah-olah menganggap bahwa 'Manusia biasa lebih mulia, lebih agung dari pada Rasulullah", dengan kata lain bahwa derajat Rasulullah ada di bawah derajat manusia biasa.


Shalawat dan ucapan salam sejahtera kepada Rasulullah saw adalah sebagai salah satu perwujudan "mengimani, mengagungkan, memuliakan، dan mencintai Rasulullah", karena itu adalah perintah Allah,


يا ايها الذين امنوا صلوا عليه وسلموا تسليما


Shalawat dan salam kepada Rasulullah adalah bentuk sebuah do'a agar Allah swt melimpahkan rahmat dan salam sejahtera baginya. Sementara Beliau telah dicukupi dan dijamin oleh Allah mengenai rahmat dan keselamatannya. Ini berarti ketika kita membaca shalawat maka manfaatnya akan kembali pada yang mengucapkannya.


Orang-orang Yahudi tidak menyukai, tidak menghendaki hal tersebut, sehingga mereka berupaya agar umat Islam membacakan shalawat kepada Rasul sebagaimana dalam shalat, maka shalawat-shalawat yang lainnya dianggap diada-ada (bid'ah); shalawat kaamilah, afdlaailiyyah, tibbil qulub, dan yang lainnya, bagi yang membacanya mereka menganggap musyrik.


Begitu juga ziarah kubur yang kita lakukan sebagai tabarruk kepada orang-orang yang dicintai, disayangi Allaah; lebih-lebih kepada Rasulullah saw sendiri dianggap pekerjaan takhayyul, bid'ah dan khurafat yang sebagian umat islam yang telah terpapar virus anti Rasul, dan terprovokasi memberikan istilah TBC (Takhayyul-Bid'ah-Khurafat), alasan lain adalah Kultus.


2. Orang Yahudi berupaya menjauhkan ummat Islam dari tokoh-tokoh shahabat Rasul yang terkenal, shaleh, dan sangat dekat dengan Beliau, termasuk para ulamaausshahabat, agar ummat Islam tidak mengenal, dan mengetahuinya.


3. Menjauhkan umat Islam dari para ulamanya, termasuk para Mujtahid yang telah menyusun kitab-kitab fiqh dan lainnya, begitu juga para ulama pendukung, dan pengikutnya. Mereka memprovokasi bahwa ulama seperti kita manusia biasa, bisa berbuat kesalahan. Mereka mengarahkan agar ummat Islam tidak lagi menjadi pengikut madzhab tertentu melainkan dapat dan harus berijtihad masing-masing. Gagasan ini melahirkan para pembaharu (Mujaddid).


4. Menjauhkan masyarakat Islam dari ajarannya. Dan ini paling berbahaya. Anak-anak muslim dilupakan ingatannya tentang Islam, mereka merasa enggan untuk mempelajari Islam secara kaffah, meninggalkan pengajian dan ritual-ritual Islam. Upaya ini mereka lakukan dengan menciptakan berbagai permainan yang menyenangkan anak-anak; games, alat-alat hiburan, terlebih zaman kekinian, penciptaan alat-alat hiburan sangat canggih yang disajikan melalui media sosial (medsos), mempropagandakan hak-hak azasi manusia untuk bebas memilih kesukaan masing-masing, dan ternyata mereka berhasil, terbukti banyak di antara putera-puteri islam yang meninggalkan pengajian dan terkadang melupakan shalat fardlu, begitu pula ritual-ritual yang biasa dilakukan para orang tua. Tak luput dari sasaran mereka adalah orang dewasa dengan menyuguhkan hiburan-hiburan untuk memuaskan hawa nafsu mereka.


Gagasan tersebut mereka sampaikan melalui kelompok-kelompok, perkumpulan-perkumpulan; sosial masyarakat, sosial keagamaan, organisasi pemuda, lembaga-lembaga pendidikan, bahkan partai politik. Mereka membentuk sayap-sayap pelebaran yang satu sama lainnya seperti tidak saling mengenal.


Sepulangnya dari pengembaraan, mencari ilmu, Muhammad bin Abdul Wahhab kembali ke kampung halamannya, Ainiyah, Nejdi. Dia sempat berdebat dalam sebuah masalah dengan kakaknya sendiri, Sulaiman bin Abdul Wahhab dan argumentasinya dapat dipatahkan oleh kakaknya sehingga dia mengancam untuk membunuh kakaknya. Namun kuasa Allah menyelamatkan beliau dengan mengungsi ke kota Mekkah Almukarramah, dan di sana beliau menulis sebuah kitab untuk menangkal faham kaum Wahabi.


Dakwah pertama yang dilakukan Muhammad bin Abdul Wahhab adalah di kota Mekkah. Namun karena pendapatnya sangat jauh berbeda atau bertentangan dengan paham-paham ulama Mekkah, maka dia tidak diterima dan kembali ke kampungnya. Selanjutnya dia berdakwah di kota Thaif, di sanalah dia mendapat penerimaan dari masyarakat. Dari sana lah dia menyusun rencana dan strategi dakwah untuk disampaikan kepada masyarakat Hijaz.


Muhammad bin Abdil Wahhab bergabung dengan Ibnu Saud untuk merebut kekuasaan dari kesultanan Turki Usmani yang saat itu Hijaz di bawah kekuasaan kesultanan Turki Usmani dipimpin oleh Syarif Husen. Dengan dibantu tentara Inggeris,  akhirnya kemenangan jatuh pada Ibnu Saud, namun belum seluruh kekuasaan dikuasainya. Mereka membangun kerjasama dengan perjanjian yang permanen antara keduanya; urusan negara, politik dikuasai oleh Ibnu Saud, dan agama diserahkan kepada Muhammad bin Abdil Wahhab, dan kedua belah pihak tidak boleh ikut campur dalam urusan masing-masing, seolah-olah urusan agama harus terpisah dari urusan negara (politik).


Hal ini bertentangan dengan konsep Al-imam Al-Ghazali soal agama dan politik atau kenegaraan. Beliau berpendapat :


"الدين والملك توامان، الدين بلا ملك ضي والملك بلا دين فاجر"


"Agama dan kekuasaan laksana kembar, agama tanpa kekuasaan lemah, dan kekuasaan tanpa agama adalah faajir"


Tahun 1924M adalah sebagai puncak kemenangan kelompok pemberontak tadi, negara berubah nama menjadi Saudi Arabia, kelompok Wahabi mulai bergerak melaksanakan berbagai rencana yang telah disiapkan; sejumlah situs bersejarah peninggalan Rasul dan tokoh-tokoh terdahulu dimusnahkan, baik di kota Mekah maupun Madinah, termasuk rencana memindahkan pemakaman Rasulullah saw ke luar komplek Masjid Nabawi (Madinah). Begitu juga kuburan para pembesar Islam sudah tidak nampak ciri-ciri khusus, kecuali yang masih jelas adalah pekuburan Bunda Khadijatul Kubro, istri Rasul yang masih nampak di pemakaman Ma'la, Mekah.


KH Marzuki Mustamar, ketua PWNU Jawa Timur pernah berpidato di hadapan warga jam'iyah Nahdlatul Ulama Jawa Timur, yang beredar di channel you tube bahwa begitu kaum Wahabi dan keturunan Ibnu Saud menguasai Arab Saudi, tahun 1924M, sejumlah kitab-kitab fiqh karya para ulama terdahulu yang tidak sehaluan dengan mereka dimusnahkan, dibakar.


Melihat gelagat tersebut, para santeri Nusantara yang masih menuntut ilmu di kota Mekkah dan Madinah segera pulang ke tanah air membawa sejumlah kitab-kitab yang masih murni karya para ulamaussaalihiin untuk penyelamatan, termasuk Hadlratu Syaikh Muhammad Hasyim Asy'ari dan yang lainnya, sehingga kitab-kitab asli masih berada di negeri kita.


Semenjak itulah maka bidang keagamaan di Arab Saudi dikuasai oleh kelompok Wahabi, tidak memberi kesempatan kepada pengikut madzhab Ahlussunnah wal jamaah; baik Hanafi, Maliki, Syafii maupun Madzhab Hambali.


Bahkan para warga Aswaja dalam pelaksanaan ibadah dan ritual banyak diganggu oleh mereka. Mereka menganggap pembaharu (Mujaddid) tapi ternyata pemikirannya sangat jumud, membuat keputusan hukum harus bersifat tekstual, baik yang bersumber dari Alquran maupun Hadits.
Mereka sungguh menjadi perusak persatuan dan kesatuan kaum muslimin dan penimbul fitnah keagamaan.


Pantas Rasuulullaah saw pernah berdoa di hadapan para sahabat :


"اللهم بارك لنا في شامنا اللهم بارك لنا في يماننا، 


Sahabat protes :


"وفي نجدنا يا رسول الله؟"


Rasulallah saw mengulangi lagi  do'anya sampai 3(tiga) kali, begitu pula protes sahabat 3(tiga) kali juga. Pada do'a yang terakhir tentang keberkahan di Nejdi, Rasuulullah menambahkan :


"هناك الزلازل والفتن ومنها يطلع قرن الشياطن"


Rasulullah memohon berkah untuk negeri Syam dan Yaman, mengingat Beliau keturunan Nabi Ismail putera Nabi Ibrahim as, yang berasal dan Syam, sementara Rasul keturunan Nabi Ismail as yang istrinya berasal dari negeri Yaman.


Adapun di Nejdi Rasulullah saw menyampaikan suatu berita di masa depan bahwa dari Nejdi akan lahir keonaran, keguncangan dan fitnah, serta akan keluar, muncul tanduk-tanduk syetan.


Dan ternyata sejarah membuktikan bahwa dari Nejdi lahir seseorang yang oleh pengikutnya digelari "Syaikhul Islam", yaitu Ibnu Taimiyah yang dalam aqidah tergolong kaum Mujassimah, dan dari Nejdi pula lahir seorang yang dikenal sebagai Muhammad bin Abdil Wahhab yang pengikutnya digelari Wahabi....wallaahu 'alam bisshawab.


KH Awan Sanusi, salah seorang A'wan PWNU Jawa Barat


Ngalogat Terbaru