Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Gus Dur, Iwan Fals, dan Kuburan

Gus Dur, Iwan Fals, dan Kuburan
Iwan Fals dan Gus Dur. (Foto: Istimewa/Desain: M Iqbal)
Iwan Fals dan Gus Dur. (Foto: Istimewa/Desain: M Iqbal)

Oleh Abdullah Alawi 
Pada 25 April 1997, musikus Iwan Fals mengalami duka mendalam. Pasalnya anak cikalnya, Galang Rambu Anarki, yang juga menapaki dunia musik, meninggal dunia pada usia 15 tahun. 
Dalam beberapa tulisan yang dimuat secara daring menyebutkan bahwa Iwan Fals ingin memakamkan anaknya itu di kediamannya. Namun, bagaimana hukumnya memakamkan seseorang baik secara aturan agama dan negara? 

Pada saat seperti itu, Iwan Fals teringat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Ketua PBNU yang pada waktu itu di ujung periode ketiga masa khidmah di ormas yang berdiri di Surabaya pada 1926 tersebut.  

Dalam beberapa tulisan disebutkan, Iwan Fals menilai bahwa Gus Dur adalah orang yang layak ditanya soal itu. Baginya, Gus Dur adalah kiai yang terbuka dan tempat orang bertanya. Maka Iwan Fals pun menelepon Gus Dur. 

Dalam percakapan telepon itu, Gus Dur menjelaskan bahwa dalam hukum Islam diperbolehkan memakamkan seseorang di rumahnya. Pemakaman bergantung wasiat almarhum atau keinginan keluarga.

Baca juga: Gus Dur dan Urusan Laut 

Namun, kota besar seperti di Jakarta, ada peraturan tidak bisa memakamkan Galang di kediamannya karena keterbatasan lahan. Maka, Iwan Fals mengingat tempatnya di Leuwinanggung. Di tempat itulah tempat peristirahatan terakhira Galang dan kediaman Iwan Fals kini.

Kebersamaan 
Dalam beberapa kesempatan, Gus Dur dan Iwan Fals bertemu, misalnya pada sebuah acara buka puasa di kediaman Gus Dur, Ciganjur, Jakarta Selatan. Pada kesempatan hadir pula dramawan dan penyair WS Rendra serta Setiawan Djodi. 

Pada kesempatan lain, Gus Dur dan Iwan Fals sama-sama hadir dalam rangka menolak impor beras yang dilakukan pemerintah. Keduanya hadir dalam acara bertajuk Sepiring untuk Indonesia yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 9 Februari 2006. 

Gus Dur, Iwan Fals, dan bebera selebritis secara tegas menolak beras impor, dan mendorong membeli beras lokal agar petani tidak hidup sengsara. 

Baca juga: Gus Dur dan Hantu

Pada kesempatan lain, Gus Dur pernah mengomentari Iwan Fals. Sepertinya komentar tersebut dalam momentum Iwan Fals ulang tahun yang ditayangkan Indosiar. 

“Semua lagu di mata saya itu sama saja. Saya senang, tapi ya tak punya waktu untuk menghafalkan. Jadi antara ciptaan dan keadaan itu harus selalu terjadi pergesekan. Itu yang membuat jiwa Iwan Fals seperti itu. Beruntung kita masih punya orang seperti Iwan Fals,” katanya. 

Sementara Iwan Fals sendiri pernah menyanyikan sebuah lagu untuk Gus Dur pada Pembukaan Pameran "It's all about the story, past, present, future" karya Rob Pearce. Di Galeri Kertas, Studio Hanafi, Limo Depok. Channel Jinjie Jinjie. Lagu tersebut, merupakan musikalisasi dari puisi karya penyair Joko Pinurbo. Judulnya, Sebuah Cerita untuk Gus Dur.

".....
Saat saya bersiap pulang, tiba-tiba ia bertanya,
“Eh, agamamu apa?” Kepala saya tuing-tuing.
saya berpikir apakah kopi tokcer dan kue enak
yang membahagiakan itu mengandung agama.
Sambil buru-buru undur diri, saya menimpal,
“Tuhan saja tidak pernah bertanya apa agamaku.”

Penulis adalah pengagum Gus Dur dan Iwan Fals 

Terkait

Ngalogat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×