Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Perlunya Mengembangkan Otoritas Gagasan Yang Dekat Dengan Pengalaman Kita Sendiri

Perlunya Mengembangkan Otoritas Gagasan Yang Dekat Dengan Pengalaman Kita Sendiri
TUNAS 2020, 7 Desember hingga 16 Desember 2020 (NU Online Jabar/ Ilustrasi: NU Online)
TUNAS 2020, 7 Desember hingga 16 Desember 2020 (NU Online Jabar/ Ilustrasi: NU Online)

Oleh: Suci Amaliah

"Saya di dalam beberapa waktu terakhir agak risau karena setiap kali kita berbicara seringkali mengutip otoritas dari luar, entah itu otoritas yang bersumber dari tradisi Islam, otoritas dari dunia Arab ataupun otoritas yang bersumber dari dunia Barat, " demikian kerisauan Ulil Abshar Abdalla iang disampaikan dalam diskusi isu strategis Pribumisasi Islam pada Tunas GUSDURian 2020 yang dilaksanakan secara virtual, Selasa (8/12) Siang.

Pentingnya otoritas- otoritas itu tidak ditolak oleh Ulil karena kita juga tidak boleh tertutup, kita penting membuka diri kepada sumber- sumber pengetahuan yang datang.  Menurutnya reputasi Islam Nusantara atau Islam Indonesia atau Islam pribumi itu tidak bisa tegak kalau kita sendiri, muslim yang hidup di Indonesia ini, tidak membawa otoritasnya sendiri.

Menurut Ulil, sebetulnya sudah banyak yang membangun otoritas seperti itu di Indonesia, salah satunya Gus Dur. Keuntungan memiliki otoritas yang seperti itu adalah ketika kita menerangkan suatu gagasan akan memperpendek proses penjelasan dan tidak kerepotan menerangkan detil- detilnya yang terlalu panjang.

Otoritas- otoritas ini penting untuk membuat Islam sesuai yang kita alami punya reputasi dan kredibilitas, punya legitimasi kultural yang kokoh dan solid.

Ada gejala yang diamati Ulil di mana ketika kita membangun pemikiran, seolah- olah kita membangun dari nol. Ketika kita merumuskan gagasan seolah memulai dari baru. Membangun satu gagasan tidak bisa dari nol karena pengetahuan bersifat komulatif.

Imam Syafi’i, misalnya, menjadi besar dan otoritatif bukan sekedar karena kealimannya tetapi juga karena ada murid-murid yang mengabadikan dan menyebarluaskan pemikirannya lalu menjadi rujukan bermazhab orang- orang sesudahnya.

Inilah pentingnya berpijak pada otoritas. Tugas kita adalah melakukan kodifikasi dan diseminasi dengan menambahkan gagasan-gagasan otoritatif lainnya yang relevan seseuai dengan prinsip intertekstualitas.

“Jadi penting kita membangun otoritas yang ada di Indonesia pasca Gus Dur. Gus Dur sudah jadi otoritas. Jangan sampai gerakan Gusdurian atau Islam Nusantara atau apapun dalam NU selalu memulai sesuatu dari awal, " ajak Ulil Abshar.

Pengasuh Ngaji Ihya Online menutup paparannya dengan mengingatkan pentingnya membangun Islam yang otoritatif yang ada di Indonesia dengan merujuk orang- orang yang layak untuk kita rujuk dan abadikan pemikirannya. Jangan memulai pemikiran dari nol. 

Penulis adalah Penggerak Gusdurian bekasi Raya. Tulisan ini adalah ringkasan dari pemaparan Ulil Abshar Abdalla dalam diskusi isu strategis Pribumisasi Islam pada Tunas GUSDURian 2020 yang dilaksanakan secara virtual, Selasa (8/12) Siang.

TUNAS 2020 berlangsung selama sepuluh hari, mulai tanggal 7 Desember hingga 16 Desember 2020. Kegiatan dibagi menjadi kegiatan khusus penggerak pada tanggal 8-10 Desember dan kegiatan untuk umum bertajuk Festival GUSDURian mulai tanggal 12-15 Desember mendatang. Rangkaian akan ditutup dengan Haul Gus Dur pada tanggal 16 Desember 2020. Berbagai kegiatan publik yang seluruhnya diselenggarakan secara daring bisa diikuti oleh publik luas, baik melalui ruang Zoom atau pun live streaming di laman Fanpage KH. Abdurrahman Wahid.

Terkait

Ngalogat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×