Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Cerita Singkat Lima Muktamar

Cerita Singkat Lima Muktamar
Cerita Singkat Lima Muktamar (Foto: NUO)
Cerita Singkat Lima Muktamar (Foto: NUO)

Saya menghadiri muktamar NU pada tahun 1994 di Cipasung. Masih duduk di bangku kelas satu madrasah tsanawiyah, saya diajak oleh ibu ke sana. Mungkin sejak itu identifikasi diri saya dengan NU terbangun. 


Pada 1999, masih duduk di bangku kelas tiga SMA, saya berangkat ke Lirboyo. Saat itu saya beli buku Kiri Islam Hasan Hanafi terbitan LKiS. Pulang dari sana, saya merasa paling pintar se-kecamatan. 


Ketika muktamar NU diselenggarakan pada 2004 di Solo, saya sedang kuliah di UGM. Jadi cukup naik bus antar kota dari perempatan Janti, saya bisa mencapai lokasi kegiatan dalam waktu sekitar dua jam. Namun, saya lupa apa yang dilakukan di sana kecuali ketemu paman yang saat itu ketua PKB dan anggota DPRD.


Tahun 2010, ketika muktamar NU diselenggarakan di Makassar, saya sedang di Belanda. Saya hanya bisa mengikuti dari jauh. Yang saya ingat, mas Ulil Abshar Abdalla maju menjadi salah satu kandidat ketua dan secara mengejutkan kalau tidak salah mendapatkan 22 suara. 


Lima tahun berikutnya, 2015, saya datang ke muktamar Jombang. Saya mengikuti beberapa sesi di muktamar pemikiran anak muda NU (istilahnya itu ya? Saya lupa) di Tambakberas pada saat yang bersamaan. Saya menginap di rumah Angga Bismoko, seorang teman di LIPI, yang terletak dekat alun-alun di mana muktamar dilaksanakan. 


Tahun ini, alhamdulillah saya bisa pergi ke muktamar Lampung, bertemu teman-teman, ngobrol ngalor ngidul seperti biasanya. Untuk pertama kalinya juga saya naik kapal penyebrangan. Ternyata asik, melihat lautan sambil menerawang masa depan.

Amin Mudzakkir, Peneliti BRIN

Terkait

Ngalogat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×