Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Mekanisme Pengambilan Keputusan Hukum Islam dalam NU

Mekanisme Pengambilan Keputusan Hukum Islam dalam NU
Abdul Moqsith Ghazali Ketua Komisi Bahtsul Masail Maudhuiyyah Muktamar NU ke 34 di Lampung (Sumber: Abdul Moqsith Ghazali)
Abdul Moqsith Ghazali Ketua Komisi Bahtsul Masail Maudhuiyyah Muktamar NU ke 34 di Lampung (Sumber: Abdul Moqsith Ghazali)

Oleh Abdul Moqsith Ghazali
Disela-sela acara konsinyering materi Muktamar NU ke 34 di Jakarta 10-12 Desember 2021, teman-teman NU Online meminta saya menjelaskan ke publik tentang Mekanisme Pengambilan Keputusan Hukum Islam dalam NU 

 

Maka saya menjelaskan mulai dari hasil keputusan Munas NU di Bandar Lampung tahun 1992 tentang Mekanisme Pengambilan Keputusan Hukum Islam yang dibuat oleh para kiai NU generasi KH MA Sahal Mahfudz, KH Maimun Zubair, KH Ma'ruf Amin.

 

Lalu saya menjelaskan syarah para kiai NU atas keputusan Munas Alim Ulama NU di Bandar Lampung tersebut. Syarah itu dibuat dan diputuskan secara periodik melalui forum-forum Bahtsul Masail NU oleh para kiai NU generasi Almukarram KH Afifuddin Muhajir

 

Muktamar NU Jombang 2015 memutuskan tentang Mekanisme Istinbath Jama'i, Munas  Alim Ulama NU di NTB tahun 2017 memutuskan tentang Mekanisme Taqrir dan Ilhaq Jama'i, dan Munas Alim Ulama NU di Jakarta November 2021 memutuskan tentang  Mekanisme Istinbath Maqashidi atau Istinbath Istishlahi.

 

Saya yang ikut mendampingi proses pembuatan syarah atas keputusan Munas Lampung selama enam terakhir ini merasa senang dan lega.

 

Senang karena NU sudah meletakkan fondasi metodologis tentang prosedur pengambilan keputusan hukum Islam dalam NU. Tugas generasi NU belakangan adalah menggunakan perangkat metodologis itu dalam merespons soal-soal fikih kontemporer.

 

Lega karena "matan" yang dibuat generasi Kiai Sahal Mahfudz itu telah tuntas dielaborasi oleh generasi Kiai Afifuddin Muhajir. Jika "matan"nya hanya lima halaman, maka syarahnya sudah mencapai 60-an halaman.

 

Proses pembuatan syarah tersebut tak selalu mulus. Kadang kita terlibat dalam debat-debat panjang bermutu tinggi, menyertakan banyak orang alim.

 

Namun, 'ala kulli hal, alhamdulillah, matan yang dibuat tahun 1992 sudah selesai diberi syarah secara sempurna 29 tahun kemudian, 2021.

 

Semoga keputusan yang dibuat para kiai NU itu berguna dan bermanfaat buat umat dan ilmu pengetahuan Islam.


Penulis adalah Ketua Komisi Bahtsul Masail Maudhuiyyah Muktamar NU ke 34 di Lampung.

Ngalogat Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×