Home Nasional Warta Adrahi Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Muktamar ke-34: Tonggak Baru Perjuangan Mahasiswa NU di Perguruan Tinggi

Muktamar ke-34: Tonggak Baru Perjuangan Mahasiswa NU di Perguruan Tinggi
Para santri menyambut kedatangan para tamu di acara pelantikan PWNU Jabar, Pondok Pesantren Hidayatuttholibiin, Karanganyar, Pasekan, Indramayu (Foto: Agung/NUJO)
Para santri menyambut kedatangan para tamu di acara pelantikan PWNU Jabar, Pondok Pesantren Hidayatuttholibiin, Karanganyar, Pasekan, Indramayu (Foto: Agung/NUJO)

Oleh M. Zimamul Adli dan Ahmad R. Wardhana
Seiring dengan meningkatnya kesejahteraan, semakin meratanya pendidikan dasar dan menengah, serta meluasnya akses informasi, melanjutkan hingga jenjang perguruan tinggi kini menjadi bagian dari kewajiban yang harus dipenuhi. Tak heran hampir semua lulusan SMA sederajat --termasuk MA dan SMK-- setiap tahunnya bersaing satu sama lain untuk memperebutkan kursi kampus favorit, baik perguran tinggi negeri maupun sekolah kedinasan. Kesadaran ini juga menguat di kalangan Nahdliyin yang berbasis pesantren, lebih-lebih sejak tahun 2005, dengan diluncurkannya Program Beasiswa Santri Berprestasi oleh Kementerian Agama di bawah besutan KH Maftuh Basyuni sebagai menteri ketika itu. Kesempatan kuliah juga semakin terbuka lebar dan disambut antusias oleh masyarakat berbasis NU pada 2010, ketika Menteri Pendidikan Nasional saat itu, Prof. KH Muhammad Nuh, meluncurkan Program Bidik Misi. 

 

Peningkatan pesat jumlah mahasiswa yang berbasis kultur NU di perguruan tinggi tersebut sayangnya kurang menjadi perhatian PBNU dalam melebarkan cakupan kaderisasi. Alhasil, selain menipisnya kader NU yang militan berusia muda di kampus-kampus perguruan tinggi, berkembang pula isu tentang kampus sebagai basis bagi gerakan Ikhwanul Muslimin dan HTI. Fenomena ini serupa dengan apa yang diungkapkan KH As'ad Said Ali di dalam sebuah dhawuh-nya, "Salah satu ciri berkembangnya kaum radikal di suatu daerah atau tempat (adalah) karena di daerah tersebut (gerakan) NU-nya lemah."

 

Selain di kampus, ekses dari kengganan PBNU tersebut juga mencapai di ranah lain dan terasa akhir-akhir ini: adanya birokrat pemerintahan dan pegawai BUMN yang lebih menyukai cita rasa islam marah dibandingkan islam ramah. Mengapa demikian? Karena kaderisasi ala NU di perguruan tinggi merupakan masa-masa mempersiapkan kader penggerak NU yang militan: profesional di bidang keilmuannya sekaligus mampu mensyiarkan Islam ramah melalui perbuatan yang moderat dan toleran. Harapannya, jika kaderisasi berjalan, kader NU akan mampu menjadi penopang abadi kehidupan bangsa sebagai akibat kemampuannya memadukan antara akhlak yang paripurna dengan pendayagunaan kapasitas diri, sehingga terciptalah negeri yang baik (baldatun thoyyibatun) dan penuh ampunan Tuhan (wa Robbun ghoffur).

 

Sebenarnya, pada Muktamar NU ke-33 di Jombang lima tahun yang lalu, al-Maghfurlah KH Maimun Zubair telah mewanti-wanti tentang hal ini. Di acara Forum Kaum Muda Nahdlatul Ulama kala itu, yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Tambakberas, beliau ngendika bahwa kebangkitan NU berada di tangan anak muda NU. Maka sebagai bagian dari generasi muda NU, kami berharap bahwa Muktamar NU ke-34 di Lampung dapat menjadi tonggak baru keseriusan NU yang dalam waktu dekat berusia seabad, untuk menguatkan kaderisasi di perguruan tinggi dan sekolah kedinasan.

 

Terdapat beberapa ikhtiar yang hendaknya dapat dilakukan sebagai upaya menggarap lebih serius kaderisasi mahasiswa NU di kalangan perguruan tinggi. Pertama, mengidentifikasi dan mengkonsolidasikan kader NU yang berprofesi sebagai pengajar, tenaga kependidikan, dan peneliti. Kedua, melaksanakan kaderisasi bagi pengajar, tenaga kependidikan, dan peneliti bersama alumni, agar tercipta rantai regenerasi yang berkelanjutan. Ketiga, mendorong dibangunnya pondok pesantren mahasiswa sedikitnya di 10 perguruan tinggi terbaik di Indonesia sebagai kawah candradimuka kaderisasi, yang meramu metode pesantren salaf dengan pendidikan ala perguruan tinggi sehingga saling support satu sama lain. Keempat, perguruan tinggi dan PBNU harus bekerja sama dalam pelaksanaan Tri Dharma Pendidikan, yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat akar rumput NU (jamaah Nahdliyin) dan komunitas basis NU (pondok pesantren). Besar harapan kami, keempat ikhtiar ini dapat diperhatikan dan diseriusi oleh Ketua Umum PBNU hasil Muktamar ke-34 mendatang.

 

Terakhir, mengingat bahwa nama yang beredar sebagai calon Ketua Umum PBNU sama-sama alumni Krapyak, perkenankan kami menutup tulisan ini dengan mengutip lima pesan al-Maghfurlah KH Ali Maksum bagi warga NU:

 

Pertama, yakni al-‘alimu wat ta’alum bi nahdlatil ulama. Warga Nahdliyyin mesti mempelajari apa dan bagaimana NU.

Kedua, yaitu setelah mempelajari juga dianjurkan untuk diamalkan dan diajarkan (al-amalu bi nahdlatil ulama).

Ketiga, berjihad sesuai dengan ruh Nahdlatul Ulama yang tercermin dalam Rahmatal lil alamin (Al-Jihadu bi nahdlatil ulama).

Keempat, ketika kita berjuang harus sabar dengan kemasan Nahdlatul Ulama (Ash-Shabru bi nahdlatil ulama).

Kelima, setelah semuanya dilakukan kita harus memiliki keyakinan terhadap perjuangan NU (Ats-Tsaqoh bi nahdlatil ulama).

 

Yakinlah, bahwa NU merupakan gerakan yang diridlai Allah SWT, sehingga, dengan berjuang bersama NU, ridla Allah SWT dunia hingga akhirat adalah balasannya. Insya-Allah.

 

Penulis adalah Ketua Umum PB AL KMNU dan Wakil Ketua Umum PB AL KMNU

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×