• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Senin, 4 Maret 2024

Ngalogat

ENGLISH FOR ULAMA

Cerita dari London (4): Oxford, The Beauty of Knowledge

Cerita dari London (4): Oxford, The Beauty of Knowledge
Di salah satu sudut Kampus Oxford, penuls bersama Prof. Afifi (Foto: Dok. Pribadi)
Di salah satu sudut Kampus Oxford, penuls bersama Prof. Afifi (Foto: Dok. Pribadi)

Berkunjung ke Oxford seperti sebuah perjalanan spiritual dan intelektual. Kampus tertua di Inggris (1096) dengan tradisi intelektual yang panjang yang terus dijaga hingga hari ini. Prof Afifi, professor Islamic Studies yang menyebut dirinya berasal dari Nusantara, mengibaratkannya seperti tradisi NU, “Almuhafadzatu alal qadimisshalih wal akhdu bil jadidil ashlah.” 

 

Prof Afifi memberikan banyak pencerahan dan pengetahuan. Ia orang Melayu pertama yang menjadi Fellow of Worcester College di Oxford University. Ia sangat fasih mengaitkan Islam dan Barat. Sosok yang sangat special dan rendah hati. Setiap kata-katanya saya rekam karena ada banyak pengetahuan di sana. 
Kampus yang memiliki 38 colleges ini punya sistem pendidikan yang unik dan menarik, satu-satunya di dunia, yakni sistem tutor. Prof Afifi menyebutnya dalam tradisi Islam sebagai talaqqi, tapi hanya ada di S1. Yakni satu mahasiswa diajar langsung oleh satu dosen, one by one. Dalam satu departemen, hanya merekrut enam mahasiswa untuk satu mata kuliah untuk satu semester. 

 

Menurut Prof Afifi, ada banyak tradisi keilmuan Islam yang ditransformasikan oleh Oxford dalam sistem pendidikannya, termasuk sistem wakaf, yang membuat Oxford sebesar sekarang. Salah satunya dibawa oleh King Charles sepulang dari perang salib, the last crusade, pada abad ke-13.

 

“Don’t judge book by its cover,” kata Prof Afifi, saat kami hendak diajak memasuki area Worcester College, tempatnya berkantor. Maklum, tampak gedungnya amat sangat tua.

 

Kami memasuki sebuah lorong kecil seperti memasuki lorong waktu, lalu tiba-tiba ada di dunia yang berbeda. Mirip film Alice in Wonderland. Sungguh sebuah keistimewaan bisa dapat akses ke halaman belakang kampus ini, dengan bentangan pepohonan indah yang berguguran daunnya.

 

“Ada tiga pohon di sini yang umurnya 600 tahun, ada juga yang 300 tahun,” ujar Prof Afifi sambil menjelaskan jejak historis setiap pohon yang kami lalui di Worcester College ini.

 

Jalanan yang basah dan udara dingin yang menusuk pori-pori disertai pohon coklat merah yang daunnya berguguran, serta gedung-gedung tua yang berdiri anggun, justru menambah suasana kemegahan tradisi keilmuan Inggris yang kokoh selama berabad-abad lamanya.

 

Begitu melewati pintu gerbang ‘tua’ itu, kami pun dihadapkan pada pemandangan gedung-gedung yang artistik khas abad 17. Terasa sekali suasana ‘kampus dunia’ yang telah berdiri tegak menjaga pondasi tradisi keilmuan untuk jangka waktu yang sangat panjang.

 

Mengikuti tur kampus bersama Prof Afifi serasa sedang diberi kuliah. “Di setiap college yang ada di kampus ini, ada tiga rukun yang harus ada.”

 

Yang pertama, food for soul, asupan jiwa. Ia mengajak kami memasuki sebuah kapel tua yang indah. Tempat ritual keagamaan dilakukan. “Seorang yang terpilih sebagai fellow (semacam anggota parlemen di kampus/mungkin di Indonesia seperti anggota senat), diambil sumpahnya di tempat ini. Kecuali saya, karena saya Muslim, saya diambil sumpah pakai Alquran,” ujarnya. Ia orang Asia Tenggara pertama yang terpilih sebagai fellow sehingga dapat ikut menentukan kebijakan kampus.

 

Kedua, food for thought, asupan pikiran. Ia membawa kami ke sebuah gedung perpustakaan tua yang megah. Kami diajak masuk ke dalam salah satu ruangan. Tentu, harus senyap tak boleh bicara. Arsitektur perpustakaan yang unik membuat kita bisa melihat tangga yang melingkar-lingkar. Ada tiga perpustakaan di college ini.

 

Ketiga, food for the body, asupan ragawi. Beliau mengajak kami ke sebuah ruangan terbuka. Dalam film Harry Potter, kita bisa melihat sebuah ruangan luas untuk makan bersama. Para professor akan duduk di high table dengan jubahnya. Para siswa akan duduk di meja di bawahnya. Di dinding juga ada hall of fame, yakni terpampang alumni-alumni yang terkenal yang pernah kuliah di kampus ini. Memulai makan dengan doa bersama masih dilakukan. Uniknya, Prof Afifi sebagai fellow di kampus ini, berhasil memasukkan doa makan versi Islam di gedung tersebut.


Neneng Yanti Kh, peserta English for Ulama  Pemprov Jabar Angakatan Kedua.


Editor:

Ngalogat Terbaru