Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Menghadapi Orang Ngeyel

Menghadapi Orang Ngeyel
Ilustrasi: NUO
Ilustrasi: NUO

Kisah pertama:


Seseorang datang ke ahli fikih dan bertanya: “Saya setiap kali menyelam ke dalam sungai sebanyak 2-3 kali tapi saya masih tidak yakin apakah tubuh saya sudah terbasahi air seluruhnya, sehingga saya ragu apakah saya sudah suci dari hadats. Apa yang saya harus lakukan?”


Ia menjawab, “Gak usah shalat!”


Penanya itu protes, “Lho, kenapa?”


Ahli fikih ini menjawab, “Sesuai sabda Nabi, beban hukum itu diangkat dari tiga golongan, yaitu anak kecil hingga baligh, orang yg sedang tidur hingga ia terbangun, dan orang gila hingga ia sadar. Nah, orang yang sudah menyelam 2-3 kali tapi masih mengira ia belum mandi, berarti ia orang gila”.


Kisah kedua:


Seorang lelaki duduk di samping Imam Abu Yusuf. Lelaki itu diam lama sekali. Lantas Imam Abu Yusuf menyapanya: “Mengapa kamu tidak berbicara?”.


Lelaki itu berkata, “Baiklah, kalau begitu aku ingin bertanya, kapankah seorang yang berpuasa boleh berbuka?”


Abu Yusuf menjawab, “Saat maghrib nanti mentari telah terbenam kau boleh berbuka puasa”.


Lelaki itu bertanya lagi, “Bagaimana jika matahari tidak juga terbenam sampai pertengahan malam?”


Abu Yusuf tertawa, “Ternyata diammu adalah benar, dan aku salah telah mengajakmu berbicara.”


Kisah ketiga:


Kisah ketiga ini adalah kisah Bani Israel, yang diabadikan dalam surah al-Baqoroh 67-71. 
Bermula dari terbunuhnya seorang  paman, yang keponakannya (sesungguhnya dialah pembunuhnya karena  motif harta warisan) berlagak menuntut balas. Mereka berselisih, dan kemudian mengadukan kepada Nabi Musa. Maka, Nabi Musa pun memerintahkan mereka menyembelih sapi untuk menemukan jawabannya. 


"Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor sapi betina," kata Nabi Musa menjawab persoalan mereka.


"Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?" kata mereka seolah gak percaya.


"Aku berlindung kepada Allah untuk tidak menjadi orang dari golongan orang-orang yang jahil/bodoh," jawab Musa. 


Mereka pun ngeyel  meminta Musa bertanya pada Allah. "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Tuhan menerangkan kepada kami sapi betina apakah itu." 


Musa menjawab, "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan di antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada kalian." 


Masih ngeyel, mereka pun kembali meminta kepada Musa untuk bertanya kembali pada Tuhan.


"Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Tuhan menerangkan kepada kami apa warnanya." 


Musa menjawab, "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya." 


Belum puas, mereka pun berkata lagi, "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Tuhan  menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi betina itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk." 


Musa berkata, "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya." 


Akibat nyeyel itu, hampir saja mereka tidak bisa melaksanakan perintah itu. Sebab pertanyaan mereka yang terus menerus membuat mereka kesulitan menemukan ciri-ciri sapi yang diperintahkan itu. Andai mereka tidak ngeyel, bisa saja mereka menyembelih sapi betina mana saja sesuai perintah pertama.


Begitulah orang ngeyel. Memang sulit menghadapi orang yang ngeyel seperti kisah pertama, kedua dan ketiga itu.  Mereka akan  bertanya dan terus bertanya.


Bahkan ada golongan ngeyel yang bagi mereka, cuma ada satu versi kebenaran bagi mereka. Penjelasan apapun tidak akan memuaskan meski disodorkan satu truk kitab sebagai referensi. Karena sesungguhnya golongan ini yang mengaku membela kebenaran sebenarnya menuruti dan membela emosinya sendiri. 


Tawashaw bil haq
Tawashaw bis shabr
Tawashaw bil marhamah


Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCINU Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Terkait

Hikmah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×