Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Kritik Moral Seorang Sufi (2)

Kritik Moral Seorang Sufi (2)
(Foto: NU Online)
(Foto: NU Online)

Oleh: Dr. KH. Zakky Mubarak, MA

Kita sering berdo’a memohon kepada Allah agar memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat, akan tetapi kita malas berbuat baik  dan enggan berusaha untuk mengadakan perbaikan di tengah-tengah umat. Padahal untuk mencapai ke sana seseorang harus senantiasa meningkatkan kebajikan. Kita mohon kepada Allah agar dijauhkan dari api neraka, akan tetapi tidak mau menghindari perbuatan-perbuatan yang mencampakkan seseorang  ke dalamnya, misalnya berbuat fasiq, menebar fitnah, berbuat maksiat dan sebagainya. Agar terlepas dari siksa yang menyakitkan itu kita harus menghindari perbuatan-perbuatan tercela dan kebiasaan-kebiasaan yang tidak terpuji.

Setiap indvidu manusia pasti meyakini dan mempercayai mengenai kematian dirinya, mati itu ibarat pintu yang semua orang pasti memasukinya. Al-Qur’an menyatakan:

قُلۡ إِنَّ ٱلۡمَوۡتَ ٱلَّذِي تَفِرُّونَ مِنۡهُ فَإِنَّهُۥ مُلَٰقِيكُمۡۖ  

“Katakanlah :Sesungguhnya kematian yang kamu sekalian lari menghindarinya, maka sesungguhnya ia pasti akan menjumpaimu...”. (Q.S. Al-Jumu’ah, 62 : 8). 

Demikian pastinya maut atau wafat itu akan menghampiri kita, akan tetapi masih saja belum mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Dalam arti belum menyiapkan bekal berharga untuk kehidupan yang abadi di akhirat setelah meninggal. Manusia pada umumnya gemar mencari-cari dan meneliti aib, kesalahan, cacat dan kekurangan orang lain, sebaliknya jarang menyadari kekurangan, cela, aib yang ada pada dirinya. Seharusnya kita selalu mengadakan introspeksi agar menyadari kekurangan kita kemudian memperbaikinya.

Nikmat dan karunia Allah begitu banyak dianugrahkan kepada makhluk-Nya seperti nikmat iman, kesehatan, rizki, ketenangan, petunjuk, ketentraman dan sebagainya. Demikian banyaknya nikmat itu sehingga kalau kita mencoba untuk menghitungnya, pasti tidak mampu, bahkan membayangkannya saja pasti tidak bisa.

وَإِن تَعُدُّواْ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحۡصُوهَآۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٞ رَّحِيمٞ 

“Jika kamu menghitung nikmat Allah pasti kamu tidak akan dapat menentukan jumlahnya sesungguhnya Allah, maha pengampun lagi maha penyayang” (Q.S. Al-Nahl, 16 : 18). 

Terhadap nikmat yang agung itu, sedikit sekali manusia yang bersyukur. Kematian atau wafatnya seseorang, mungkin ia saudara, teman, orang tua atau guru kita, merupakan pemandangan sehari-hari di tengah-tengah kehidupan. Kita telah berta’ziah kepadanya, mengerjakan shalat dan berdo’a untuk jenazah itu. Kitapun sering mengantarkan salah satu jenazah dari kalangan kita ke kuburan. Akan tetapi sebagian besar dari kita tidak mau mengambil pelajaran terhadap peristiwa itu. Padahal kalau menshalatkan dan menguburkan seseorang, kita harus sadar bahwa pada suatu saat kita akan dishalatkan dan dikuburkan orang lain setelah meninggal. Mereka yang mau mengambil pelajaran dari peristiwa wafatnya  seseorang akan banyak mendapat petunjuk ke jalan yang benar, jalan yang diridhai Allah SWT.

Dalam ajaran yang dibawa oleh Nabi, kita umat yang beriman diperintahkan agar banyak mengingat mati. Perintah itu sejalan dengan usaha agar kita segera meningkatkan kebajikan. Sebab peristiwa kematian akan datang kepada umat manusia secara pasti, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu dan manusia akan menerima apa adanya.

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٞۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمۡ لَا يَسۡتَأۡخِرُونَ سَاعَةٗ وَلَا يَسۡتَقۡدِمُونَ  

“Dan pada tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”. (Q.S. Al-A’raf, 7 : 34). 

Hal ini akan lebih memperjelas, bahwa setiap kali kita melakukan ta’ziah, bukanlah semata-mata ucapan berbela sungkawa atau memberi sesuatu yang sifatnya meringankan beban ahli waris, namun yang utama adalah bertafakkur kepada Allah dengan mengambil pelajaran dari peristiwa itu. Dengan tafakkur itu kita akan memperoleh pelajaran yang berharga, bahwa pada suatu saat kita akan mengalami seperti dia.

Demikianlah kritik-kritik moral yang disampaikan Ibrahim bin Adham, seorang sufi yang amat terkenal. Diharapkan kita dapat mengambil pelajaran agar meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT.

Penulis merupakan salah seorang Rais Syuriyah PBNU

Terkait

Hikmah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×