• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Senin, 4 Maret 2024

Garut

Meriahkan Peringatan Maulid Nabi dan HSN 2023 Tingkat Kecamatan, Ribuan Nahdliyin Padati Komplek Masjid Besar Leles

Meriahkan Peringatan Maulid Nabi dan HSN 2023 Tingkat Kecamatan, Ribuan Nahdliyin Padati Komplek Masjid Besar Leles
Meriahkan HSN 2023 Tingkat Kecamatan, Ribuan Nahdliyin Padati Komplek Masjid Besar Leles
Meriahkan HSN 2023 Tingkat Kecamatan, Ribuan Nahdliyin Padati Komplek Masjid Besar Leles

Garut, NU Online Jabar
Ribuan warga Nahdliyin Kecamatan Leles Kabupaten Garut yang berasal dari majelis-majelis ta'lim, para pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU), Pengurus Ranting (PRNU), lembaga dan badan otonom NU, unsur forum komunikasi pimpinan kecamatan (Forkopimcam), serta para santri-santriawati pondok pesantren se-Kecamatan Leles memadati komplek halaman Masjid Besar Kecamatan Leles untuk menjadi bagian dalam memeriahkan peringatan Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2023, Ahad (22/10/2023). Kegiatan diisi dengan istighotsah, tawassul, doa bersama, dan tausiah keagamaan.


Dalam sambutannya, Ketua Tanfidziyah MWCNU Leles A Kholilurrahman mengingatkan pentingnya peringatan HSN dilakukan oleh warga Nahdliyin. Menurutnya, HSN menjadi bagian untuk mempertegas kembali bahwa keberadaan negeri Indonesia tidak terlepas dari keberadaan peran serta para santri itu sendiri. 


"Kita santri dari yang dulu hingga sekarang, bukan saja ikut tinggal di negeri Indonesia, tetapi sebagai pemilik sah negeri ini. Kenapa demikian, karena santri menjadi bagian yang berdarah-darah dalam memperjuangkan kemerdekan negeri ini," ucapnya. 


Pria yang akrab disapa Ceng Kholil itu mengajak semua yang hadir untuk mengingat kembali masa-masa ketika para santri  mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia yang belum lama diraih. Ia menerangkan bahwa peran santri mampu mempertahankan kemerdekaan Indonesia dapat dilihat salahsatunya pada saat dicetuskannya Resolusi Jihad yang dikeluarkan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. 


"Di saat pasukan sekutu/penjajah datang kembali dan belum puas atas kemerdekaan Indonesia, Presiden Soekarno mengirimkan utusan kepada KH Hasyim Asy'ari untuk meminta fatwa terkait hal itu. Kemudian, Resolusi Jihad yang difatwakan KH Hasyim Asy'ari menjadi legitimasi para ulama, para pendiri negeri, termasuk di dalamnya para santri untuk bergerak melakukan perlawanan. Hasilnya pada 10 November 1945 bangsa Indonesia mampu memenangkan pertempuran. Dari itu kita dapat memahami bahwa tidak akan ada Indonesia yang langgeng tanpa ada Resolusi Jihad," terangnya. 


"Dengan adanya Resolusi Jihad, itu artinya para ulama, pemerintah, masyarakat, termasuk di dalamnya para santri telah terjalin kebersamaan," tandas pria yang juga sebagai pengasuh Pondok Pesantren Nurul Hikam Assyarifiyah Lekor Lembang Kecamatan Leles itu.


Dalam kesempatan yang sama, Camat Leles H RM Aliyudin berharap, peringatan HSN agar mampu menjadi motivasi bagi masyarakat dalam pelaksanaan aktivitas kegiatan sehari-hari terutama dalam bidang keagamaan. "Dengan memperingati HSN, itu artinya kedepannya ibu bapak harus mampu berpartisipasi dan berkontribusi dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan," tandasnya.  


Hadir sebagai pengisi taushiyah Pengasuh Ponpes Salafiyah Raudhatul Ulum Parongpong Kabupaten Bandung Barat KH Ubaidillah. Ia menyampaikan sedikitnya 3 hal yang harus dilakukan oleh para santri. 


Pertama, santri itu harus menjadi salikun ilal akhirah (سالك إلى الأخرة), yaitu orang yang menempuh kepada kehidupan akhirat. "Santri itu jangan hanya menjadi slogan, tetapi harus menjadi pengajak kepada kehidupan akhirat. Terlebih di zaman perkembangan budaya global, santri harus menjadi garda terdepan dalam menangkal adanya keburukan moral,"ucap kiai yang akrab disapa Kang Ubay itu. 


Kedua, santri harus mampu dan selektif dalam memilih tempat pesantren. "Santri itu harus bisa memilih gurunya yang sudah jelas sanadnya," terangnya. 


Ketiga, santri harus fokus mencari ilmu, tekun beribadah, dan khidmat kepada para guru-gurunya. "Santri itu harus gemar memakmurkan masjid, memilih pondok posantren yang jelas sanadnya, menghormati para ulama, serta rajin menziarahi para tokoh agama atau para wali yang sudah berjasa dalam menyebarkan agama Islam," jelas Kang Ubay.


"Maka, jika ada santri yang kesehariannya seperti apa yang saya ungkap di atas, itu artinya santri itu sudah menjadi santri yang berkualitas, bukan santri yang hanya formalitas," tandasnya.


Garut Terbaru