Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Ketua PCNU Garut: Tanamkan Aqidah Islam Ahlussunah wal Jamaah Sejak Dini

Ketua PCNU Garut: Tanamkan Aqidah Islam Ahlussunah wal Jamaah Sejak Dini
Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Garut, KH Atjeng Abdul Wahid. (Foto: M Salim).
Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Garut, KH Atjeng Abdul Wahid. (Foto: M Salim).

Garut, NU Online Jabar
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul ‘Ulama (PCNU) Kabupaten Garut KH Atjeng Abdul Wahid mengamanatkan kepada warga nahdliyin untuk menanamkan aqidah islam Ahlussunnah wal Jamaah sejak dini, khususnya kalangan milenial. Hal tersebut disampaikan saat melakukan pembinaan organisasi dalam menangkal paham radikalisme dan intoleransi yang dilaksanakan di Kampung Papandayan Desa Padamukti Kececamatan Sukaresmi Kabupaten Garut, Ahad (13/2) lalu.

 

Kiai Aceng Wahid menilai, maraknya penyebaran paham radikal dan intoleran oleh kaum takfiri, mengamanatkan agar warga nahdliyin berhati-hati dalam memondokkan putra putrinya di pesantren, karena banyak pesantren yang digunakan oleh kaum takfiri untuk dijadikan kedok dalam merekrut calon anggotanya.

 

Ia berpesan agar menghindari lembaga pendidikan dengan label Rumah Tahfidz. Sebab di masa sekarang, banyak rumah tahfidz yang menjadi tempat pencuci otak dari kelompok takfiri, sehingga banyak orang yang hafal al-Qur'an namun bodoh atau tidak tahu bagaimana cara memahami al-Qur'an itu sendiri.

 

“Jangan salan pilih dalam memondokan anak, karena banyak pesantren yang menjadikan islam sebagai kedok untuk kepentingan, khususnya menghafal al-Quran, namu tidak tahu cara memahami al-Qur'an,” tandas sesepuh Pondok Pesantren Salaman Fauzan III tersebut.

 

Menurutnya untuk mampu memahami isi kandungan al-Quran, setidaknya harus menguasai 12 fan ilmu lain untuk bisa memahami isi kandungan al-Quran. Akibat banyaknya rumah tahfidz tersebut, mereka mengajak masyarakat untuk kembali ke al-Quran dan Hadits, sedangkan mereka sendiri tidak tahu bagaimana cara memahami ilmu agama.

 

Aceng Wahid juga menjelaskan bahwa agama memiliki fungsi untuk mengatur manusia agar bisa berlaku sebagai manusia, jika sudah tidak bisa berlaku sebagai manusia, maka manusia tersebut sama dengan binatang.

 

Ia contohkan dalam kehidupan sehari-hari, makan tidak boleh sembarangan makan, dalam berpakaian pun tidak boleh sembarang berpakaian, apalagi dalam beragama islam, tidak boleh asal islam. Karena jika kita salah dalam beragama maka neraka balasannya, sedangkan kita sebagai umat islam tidak boleh menyepelekan panasnya neraka, karena jika ada lubang kecil dari neraka dibuka dari arah paling timur, maka ujung paling barat akan hancur.

 

Pewarta: Muhammad Salim
Editor: Muhammad Rizqy Fauzi

Terkait

Daerah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×