• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Kamis, 30 Mei 2024

Tokoh

KOLOM BUYA HUSEIN

Takziah Buya Syafii

Takziah Buya Syafii
(Foto: suaramuhammadiyah.id).
(Foto: suaramuhammadiyah.id).

Baru saja aku menyampaikan testimoni ketokohan Buya Syafii Maarif dalam acara "Takziyah Virtual" malam ini. Diselenggarakan oleh Maarif Institute. 


Manakala saya mendengar kabar kepulangan Buya, Saya hanyut dalam duka mendalam dan merasa kehilangan mutiara atas kepulangan sang guru kemanusiaan itu Saya reflektif bergumam "maut al alim mautul alam".


Idza lam yabqa alimun Ittakhadza al Naasa Ruasa-a Juhhalan. Hatta idza Suilu Fa Aftaw bi ghair Ilm, fa Dhallu wa Adhallu. Kematian seorang alim bijakbestar,adalah kematian bumi manusia. Bila tak ada lagi mereka (alim bijakbestari), maka masyarakat akan menjadikan orang-orang yang tak mengerti sebagai pemimpin. Sehingga manakala ditanya, mereka menjawab tanpa pengetahuan. Mereka sesat dan mensesatkan".


Semoga Allah menyambutnya dengan riang. Dan saya ingin menyampaikan Takziyah kepada keluarganya :ۢ semoga tetap sabar dan ikhlas melepasnya pulang. 


Aku mengatakan : 


كَيْفَ لَا يَطِيرُ البُلْبُلْ
وَيُمَزِّقُ اَلْفَ حِجَابٍ 
عِنْدَمَا نَادَاهُ الْحَبِيْبُ : إِرْجِعِى


Mana mungkin Bulbul tak terbang pulang, 
Merobek seribu tirai penghalang
Ketika diseru sang Kekasih: “Irji’i”.
Pulanglah ke dalam pelukan-Ku


Buya Syafii dalam pengetahuan saya adalah " Gharib min al Ghuraba", salah seorang asing atau aneh di negerinya sendiri. Kehadirannya sering tak dipahami bahkan ditolak oleh sejumlah orang yang tak mengerti. Oleh mereka, beliau dianggap merusak tatanan hidup yang sudah mapan dengan sakralitas tinggi, meski tatanan itu sudah tak lagi layak, untuk diteruskan, karena menciptaan penderitaan banyak manusia, merendahkan martabat mereka. 


Hari-hari Buya dilalui dengan acap gelisah melihat realitas kebudayaan itu. Beliau begitu berhasrat membantu merekonstruksi dan melakukan kontekstualisasi atas wacana-wacana keagamaaan yang tak lagi relevan itu seraya ingin hadir menemani orang-orang yang hatinya luka, mengikuti jejak dua sahabatnya yang sudah pulang : Cak Nur dan Gus Dur, serta para bijakbestari lainnya.


Buya tak surut langkah untuk melakukan transformasi kultural yang telah runtuh meski dihadang dengan pedang oleh mereka yang tak paham. 


Imam Jalal al Din Al Suyuthi mengatakan :


 ما كان كبيرٌ في عصر قط إلا كان له عدوٌّ من السفلة، إذ الأشراف لم تزل تُبتلى بالأطراف


Manusia besar dalam suatu zaman selalu dimusuhi oleh "safalah". Karena manusia-manusia mulia/ terhormat selalu diuji oleh mereka.


Nabi mengatakan :


طوبی للغرباء 


"Betapa beruntungnya ;orang-orang asing" itu".


طوبى للمخلصين، والغرباء الذين اذا حضروا لم يعرفوا واذا غابو لم يفتقدوا أولئك مصابيح الهدى، تنجلي عنهم كل فتنة ظلماء


"Betapa bahagianya mereka yang berhati bening, bersih, tulus. Saat hadir mereka tak dimengerti, saat tiada dicari-cari. Mereka adalah lampu-lampu yang menerangi jalan. Berkat mereka tampak segala kegelapan".


Buya juga sang zahid, sang ugahari, seorang bersahaja dan al mutawadhi, rendah hati. Ia seperti tak lagi memikirkan dirinya sendiri. Tak memikirkan pakaian apa, kendaraan apa, masakan apa yang secara sosial patut dipakai oleh orang seperti dirinya. Hari-harinya dihabiskan hanya untuk melayani orang lain yang dilukai hatinya, siapapun ia. 


Dalam melayani mereka Buya merasakan apa yang mereka rasakan, dan menganggap dirinya sama dengan mereka. Tak merasa lebih tinggi atau lebih hebat daripada mereka. Karena sebagaimana kata para bijakbestari : Tuhan tak pernah merendahkan ciptaan-Nya, hanya karena identitasnya atau keberadaan ekonominya. Itu karena pengetahuan Buya yang tinggi. Kata bijak menyebutkan : "semakin tinggi pengetahuan seseorang, dia semakin rendah hati". 


Mungkin Buya berpesan sebagaimana pesan Syeikh Syams Tabrizi, guru spiritual maulana Rumi: 


لم يكن الموت هو الذى يقلقنى. لاننى لم اكن اعتبره نهاية. بل ما كان يقلقنى هو ان أموت من دون ان أخلّف تراثا. أريد ان انقل المعارف التى توصلت اليها الى شخص آخر. سوآء كان أستاذا ام تلميذا.


“Bukanlah kematian yang menggelisahkan jiwaku. Ia, bagiku, bukanlah pemberhentian terakhir. Aku gelisah manakala aku mati tanpa meninggalkan warisan pengetahuan yang membuat aku hidup selama-lamanya. Aku ingin mengalihkan pengetahuan yang telah aku peroleh kepada orang lain; guru maupun muridku.” (Syams al-Tabrizi).


KH Husein Muhammad, salah seorang Mustasyar PBNU


Tokoh Terbaru