• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Minggu, 23 Juni 2024

Tokoh

KH Raden Ahmad Djawari Berjuluk Ajengan Garuda, Ulama NU Sunda Kelahiran Makkah

KH Raden Ahmad Djawari Berjuluk Ajengan Garuda, Ulama NU Sunda Kelahiran Makkah
Ajengan Garuda (Foto: NU Online)
Ajengan Garuda (Foto: NU Online)

KH Raden Ahmad Djawari dikenal sebagai seorang ulama dari tanah Sunda yang lahir di Makkah, Saudi Arabia. Ia merupakan salah seorang ulama yang berdakwah mengibarkan bendera Ahlussunah wal Jamaah di Jawa Barat, Khususnya di Kabupaten Garut dan Bandung. Kiai Djawari dikenal pula sebagai Ajengan Garuda atau Mama Garuda. Julukan atau sebutan Ajengan Garuda dikarenakan ia mendirikan dan mengelola Pesantren An-Najah di Jalan Garuda, Bandung.

Kiai Djawari lahir di Makkah Al-Mukarramah, tidak diketahui secara pasti perihal kelahirannya, namun diperkirakan ia lahir pada tahun 1914 karena Kiai Djawari wafat di usia 63 tahun pada bulan Maret 1977. Ia lahir dari pasangan KH Ahmad DJunaidi dan Hj Rd Fatimah Zahro. Dari pasangan ini lahir Hj Rd Siti Syarah, KH Rd Emas Zarkasih dan KH Rd Jeje Zaenudin.

KH Ahmad Djunaidi ayah dari KH Raden Ahmad Djawari sering disebut sebagai Eyang Makkah. Salah seorang keluarga sekaligus murid Kiai Djawari, KH Tomtom Pathoni menceritakannya, bahwa KH Ahmad Djunaidi lebih sering disebut Eyang Makkah karena makamnya terletak di Ma’la, Makkah. Awal perjalanannya sampai bisa ke Makkah dimulai sejak ia masih muda, berangkat ke Makkah dengan niat untuk mendalami ilmu agama Islam. Dengan kesempatan yang ia miliki, dimanfaatkannya dengan maksimal untuk terus belajar, hingga akhirnya ia berhasil masuk jajaran Ulama Hijaz yang cukup disegani.

Pada suatu ketika terjadinya huru-hara di Hijaz yang ditandai dengan pendirian Kerajaan Saudi Arabia, yang membuat para putera Kiai Djunaidi termasuk KH Raden Ahmad Djawari pulang ke kampung halamannya di Garut, Jawa Barat. Kepulangan para putera Kiai Djunaidi ini disambut gembira oleh pihak keluarga karena diyakini akan muncul kader-kader yang siap membantunya dalam melakukan dakwah Islam di wilayah priangan.

Setelah memperoleh pendidikan dasar di Makkah Kiai Djawari melanjutkan pendidikannya dengan mondok di beberapa Pesantren ternama pada zamannya, diantara Pesantren yang sempat ia kunjungi adalah Pesantren Cilenga, Banjar, Cipasung, Wates, Limbangan, Gunung Puyuh, Keresek dan Biru.
Berdirinya Pondok Pesantren An-Najah dan Pemberontakan DI/TII

Puluhan tahun lamanya Kiai Djawari belajar ilmu agama di beberapa Pondok Pesantren, akhirnya kembali pulang ke kampung halamannya dan berencana akan menyebarkan ilmu agama yang ia dapat dengan mendirikan Pondok Pesantren. Rencananya itu sampai kepada keluarganya, dan keluarganya sangat mendukung keinginnanya itu, sehingga pada tahun 1946 Kiai Djawari merintis pesantren di Cihuni yang ia beri nama An-Najah yang berarti Kesuksesan atau keberhasilan.

Seiring berjalannya waktu, Pondok Pesantren An-najah mulai dikenal luas dan menjadi salah satu yang banyak dikunjungi para santri dari berbagai daerah di Jawa Barat, seperti Garut, Sukabumi, Subang, Cianjur, Sumedang, Tasikmalaya dan Sebagainya. Terkenalnya Pesantren An-Najah berkat kecerdasan dan kepiawaiannya Kiai Djawari dalam mendidik santrinya. Banyak di antara santrinya yang berhasil menjadi tokoh, diantaranya KH Ahmad Ma’mun, KH Syatori, KH Totoh Abdul Fatah Ghozali dan KH Abdul Fatah Mazani.

Dalam perjalanannya mendirikan Pondok Pesantren, Kiai Djawari harus berhadapan dengan kondisi sosial politik nasional yang sedang tidak stabil ditambah adanya Agresi Militer Belanda dan beberapa pemberontakan di berbagai daerah, termasuk Garut yang sudah dirasuki gerombolan Darul Islam atau Tentara Islam Indonesia (DI/TII). 

Pada tahun 1947-1950, Kiai Djawari dan para santrinya ikut terlibat dalam pusaran konflik dengan gerombolan DI/TII karena Kiai Djawari dan para santrinya dianggap sebagai kelompok pendukung NKRI yang akan menghambat berdirinya Negara Islam di Indonesia, dalam situasi ini Kiai Djawari menjadikan Pesantren An-najah sebagai tempat perjuangan bersama masyarakat Cihuni. Gerombolan DI/TII terus melakukan teror dan intimidasi kepada Kiai Djawari dan para pengikutnya. Dengan dibekali senjata api DI/TII dengan mudah melululantakkan Pesantren An-Najah dan membakar isinya sampai habis. Sementara pasukan Kiai Djawari hanya memilih bertahan dengan perlawanan senjata ala kadarnya.

Bergabung dengan NU

Demi keselamatan dan kemaslahatan bersama, Kiai Djawari membawa keluarga, santri beserta jamaahnya bergeser mundur untuk mengungsi. Kiai Djawari bertemu dengan seorang dermawan yang membantunya mendirikan Pesantren di area lahan Masjid As-Shofa, Warung Muncang, Bandung. Kiprahnya di Warung Muncang berjalan kurang lebih sebelas tahun, yakni sejak 1951 sampai 1962. Selanjutnya Kiai Djawari hijrah ke Jalan Garuda, Bandung dengan mendirikan Masjid An-Najah yang di dalamnya terdapat Pengajian ala Pesantren, nama jalan tersebut melekat dengan identitasnya: Ajengan Garuda. Dan di tempat ini pula ia menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 1977. 

Pada saat merintis Pesantren An-Najah di Jalan Garuda, situasi di garut mulai kondusif, dan Kiai Djawari pun kembali meneruskan Pesantren An-Najah Cihuni yang sempat hancur oleh gerombolan DI/TII. Dengan demikian Kiai Djawari dua pesantren sekaligus dalam waktu bersamaan, Pesantren An-Najah Bandung dan Cihuni Garut.

Perlahan tapi pasti, ketokohan Kiai Djawari mulai dikenal banyak orang, hal ini membuatnya sering berinteraksi dengan tokoh ulama NU Jawa Barat, karena ada persamaan fikrah, amaliyah dan juga harakah, Kiai Djawari memutuskan untuk berjuang dan berkhidmat di jajaran struktural NU bersama para ulama yang juga sahabatnya.

Kecerdasan dan kealiman Kiai Djawari diakui oleh para ulama NU, pengakuan tersebut diwujudkannya dengan memasukannya ke dalam jajaran pengurus Syuriyah PWNU Jawa Barat. Saat aktif di PWNU Jawa Barat nama Kiai Djawari semakin terkenal, termasuk dikenal oleh PBNU hingga akhirnya dalam Muktamar NU di Medan tahun 1956 ia bersama KH Ruchiyat (Ayah mantan Rais Amm PBNU, KH Ilyas Ruhiyat) ditunjuk jadi A’wan PBNU masa khidmah 1956-1959. 

Begitu dekatnya Kiai Djawari dengan tokoh PBNU, bahkan Ketua Umum PBNU, KH Idham Chalid pernah mengunjungi Pesantren An-Najah Cihuni, Garut untuk mengisi sebuah acara. NU yang saat itu menjadi partai politik mengantarkan Kiai Djawari menjadi anggota DPRD Tingkat I Jawa Barat periode 1964-1970. 

Ada sebuah kisah menarik saat Kiai Djawari mengikuti Muktamar NU di Medan pada tahun 1956. Dalam forum bahtsul masail, para peserta hampir deadlock terhadap suatu masalah, tiba-tiba Kiai Djawari muncul dan menyampaikan argumentasinya yang diambil dari sebuah kitab, argumentasi yang disampaikan Kiai Djawari ini kemudian diterima dan disepakati oleh para peserta. 

Mengenai hal ini, salah seorang cucu Kiai Djawari, Ajengan Haidir yang saat ini mengasuh Pesantren An-Najah Cihuni mengisahkan keunikan yang dimiliki kakeknya itu. Menurutnya, Kiai Djawari pernah memiliki selempeng emas, jika ada sebuah masalah agama yang sulit dipecahkan ia akan menyelipkan emas itu ke dalam kitab secara acak, ajaibnya saat halaman kitab yang terselip emas ini dibuka terdapat teks yang menjadi jawaban atas masalah yang sedang dihadapi.

Penulis: Aiz Luthfi
Editor: Abdullah Alawi 


Tokoh Terbaru