• logo nu online
Home Nasional Warta Sejarah Khutbah Taushiyah Kuluwung Ubudiyah Daerah Keislaman Syariah Obituari Risalah Doa Tokoh Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya
Selasa, 16 April 2024

Taushiyah

KOLOM KH ZAKKY MUBARAK

Tertutupnya Pintu Makrifat

Tertutupnya Pintu Makrifat
(Ilustrasi: NU Online).
(Ilustrasi: NU Online).

Makrifat atau mengenal Allah secara mendalam, merupakan dambaan bagi setiap orang mukmin. Dengan makrifat itu, seseorang akan memperoleh cahaya ilmu pengetahuan langsung dari Allah SWT melalui ilham. Dengan demikian, orang tersebut bisa mengetahui berbagai hal yang tidak diketahui oleh orang lain. Untuk menggapai pintu makrifat, seorang manusia mukmin harus terus berusaha mensucikan kalbunya, sehingga terlepas dan bersih dari berbagai penyakit rohani.


Apabila seseorang tidak bisa membersihkan dirinya dari penyakit rohani tersebut, maka pintu makrifat akan tertutup, sehingga orang itu tidak mampu memasukinya.


Ada beberapa jenis penyakit rohani yang mengotori kalbu seorang mukmin, antara lain: (1) mengingkari nikmat Allah, (2) bersikap sombong dan congkak, (3) bersikap rakus terhadap kemewahan duniawi, (4) melibatkan diri dalam persaingan yang keras untuk mencapai kedudukan, harta, dan kemewahan duniawi. (5) saling membenci satu sama lain, (6) bersikap dengki terhadap sesamanya, dan (7) gemar mendapat pujian.


Betapa banyaknya karunia dan nikmat Allah yang diberikan kepada umat manusia, demikian banyaknya karunia itu sehingga tidak mungkin dapat dihitung. Namun demikian, sebagian besar manusia mengingkari nikmat tersebut. Sombong dan congkak merupakan sikap yang sangat tercela yang akan menjerumuskan seseorang dalam kehinaan. Kesombongan inilah yang pertama kali dipersonifikasikan oleh Iblis, sehingga menjadi makhluk yang terkutuk.


Sikap rakus dan tidak pernah merasa puas adalah penyakit mental yang sering menggerogoti sebagian besar umat manusia. Hampir semua orang yang tidak mendapatkan bimbingan agama, akan memiliki sikap ini. Ia tidak pernah merasa puas, meskipun memperoleh banyak nikmat dan karunia. Orang yang rakus ini tidak pernah berhenti untuk mengejar ambisinya, meskipun sekiranya memiliki satu lembah dari emas murni, ia akan mengharapkan dua lembah lagi. Singkatnya, ia tidak pernah merasa cukup dengan apa yang diraihnya.


Dalam mencapai kedudukan dan harta, setiap orang selalu melakukan persaingan, sehingga menimbulkan permusuhan dan saling membenci. Persaingan tersebut tidak selamanya buruk, apabila dilakukan dalam hal-hal yang baik. Malah diperintahkan dalam al-Qur’an agar umat manusia berlomba dalam mencapai kebaikan. Sikap dengki juga akan menyusahkan seseorang dan merugikan orang lain. Sikap seperti ini akan mengakibatkan pelakunya menderita lahir dan batin. 


Manusia melakukan berbagai macam aktivitas yang kontroversioal agar banyak dipuji orang lain. Padahal, banyaknya pujian itu sering menjermusukan dirinya pada kehinaan dan kehancuran.


KH Zakky Mubarak, salah seorang Mustasyar PBNU


Taushiyah Terbaru