Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Kiai Zakky Jelaskan Pentingnya Adab dalam Berdoa

Kiai Zakky Jelaskan Pentingnya Adab dalam Berdoa
Kiai Zakky Jelaskan Pentingnya Adab dalam Berdoa (foto: Istimewa)
Kiai Zakky Jelaskan Pentingnya Adab dalam Berdoa (foto: Istimewa)

Jakarta, NU Online Jabar
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Zakky Mubarak Syamrakh menjelaskan bahwa dalam menjalani kehidupan, sebagai manusia biasa kita selalu meminta pertolongan orang lain dalam menyelesaikan urusan kita, termasuk minta pertolongan Allah Swt.  


Minta pertolongan pada tuhan merupakan salah satu ibadah yang dianjurkan agama, yaitu Doa. Doa merupakan komunikasi langsung hamba dan Sang Pencipta. Tidak heran kalau sebagian ulama memaknai doa sebagai bentuk eskpresi kefaqiran atau kebutuhan hamba-Nya kepada Allah Swt. 


Kiai Zakky menuturkan bahwa doa yang baik adalah doa dengan etika, doa yang baik adalah doa dengan adab. Sebagaimana ibadah lain, Islam juga mengatur adab yang meliputi tatacara dan etika doa. Salah satunya adalah keterjagaan hati.


“Nah bagaimanakah doa yang baik, yaitu yang menggunakan adab. Salah satu adabnya hati kita tidak mati, hati kita hidup. Kita harus yakin bahwa doa kita dikabulkan oleh Allah, itu harus yakin, gak boleh ragu, itulah adab berdoa kepada Allah,” katanya melalui video yang diunggah pada akun facebooknya Zakky Mubarak Syamrakh, Kamis (31/3/22).


Mengenai adab berdoa, Kiai Zakky mengatakan bahwa Rasul berpesan kepada kita 


ادعوا الله وانتم موقنون بالاجابة


Berdoalah kepada Allah Swt. seraya yakin akan dikabulkan. Ketahuilah, sesungguhnya Allah Swt. tidak akan menerima doa hamba-Nya yang hatinya lupa pada-Nya dan main-main. (HR. Tirmidzi, Mukhtarul Hadits)

“Wa'lamu annallaha layastajibu dua-an min qolbin ghofilil lah.” Sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan doa yang hatinya kosong, yang hatinya mati, yang hatinya lalai, jadi hatinya harus hidup, dan yakin bahwa doa kita dikabulkan oleh Allah Swt,” tutur Kiai Zakky.


Dilansir dari NU Online, mengutip Ihya Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali, Imam An-Nawawi dalam karyanya Al-Adzkarul Muntakhabah min Kalami Sayyidil Abrar menyebutkan ada 10 adab dalam berdoa. Hal ini menunjukkan betapa sakralitas ibadah doa. 


Pertama, kita menantikan waktu-waktu mulia seperti hari Arafah, bulan Ramadhan, hari Jumat, sepertiga terakhir dalam setiap malam, dan waktu sahur. 


Kedua, kita memanfaatkan kondisi-kondisi istimewa untuk berdoa seperti saat sujud, saat dua pasukan berhadap-hadapan siap tempur, ketika turun hujan, dan ketika iqamah shalat dan sesudahnya.


Ketiga, menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, dan mengusap wajah sesudah berdoa. 


Keempat, mengatur volume suara agar tidak terlalu keras tetapi juga tidak terlalu rendah. 


Kelima, menghindari kalimat bersajak dalam doa karena dikhawatirkan justru melewati batas dalam berdoa. Prinsipnya tidak berlebihan dalam penggunaan kata-kata saat berdoa. 


Keenam, berdoa dengan penuh ketundukkan, kekhusyukan, dan ketakutan kepada Allah Swt. 


Ketujuh, mantap hati dalam berdoa, meyakini pengabulan doa, dan menaruh harapan besar dalam berdoa. Sufyan bin Uyaynah mengatakan, sadar akan kondisi dirimu jangan sampai menghalangimu untuk berdoa kepada-Nya. Allah, kata Sufyan, tetap menerima permohonan Iblis yang tidak lain adalah makhluk-Nya yang paling buruk. 


Kedelapan, meminta terus menerus dalam berdoa. 


Kesembilan, membuka doa dengan lafal zikir. Kita dianjurkan untuk membuka doa dengan pujian dan shalawat. Demikian pula ketika mengakhiri doa. 


Kesepuluh, tobat, mengembalikan benda-benda kepada mereka yang teraniaya, dan “menghadap” Allah Swt dengan cara mematuhi segala aturan agama. Pasal sepuluh ini yang sangat penting.

 
العاشر : وهو أهمها والأصل في الإجابة ، وهو التوبة ، ورد المظالم ، والإقبال على الله تعالى 


Artinya, “Pasal kesepuluh, ini pasal terpenting dan cukup mendasar dalam pengabulan doa, yaitu tobat, mengembalikan benda-benda kepada mereka yang teraniaya, dan “menghadap” Allah Swt,” (Lihat An-Nawawi, Al-Adzkar Al-Adzkarul Muntakhabah min Kalami Sayyidil Abrar, Kairo, Darul Hadits, 2003 M/1424 H, halaman 372). Wallahu a‘lam. 


Editor: Abdul Manap

Taushiyah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×