Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

KH M Nuh Addawami: Karakteristik Ahlussunnah wal Jamaah (5)

KH M Nuh Addawami: Karakteristik Ahlussunnah wal Jamaah (5)
Mustasyar PBNU, KH M Nuh Addawami.
Mustasyar PBNU, KH M Nuh Addawami.

Ada sebuah hikayat yang menarik bagi para penerima risalah Rasulullah saw dari Syaikh ‘Afifuddin Az-Zahid, beliau berada di Mesir, kepadanya sampai berita bahwa di Baghdad orang-orang kafir membunuh kaum muslimin, sehingga Baghdad lumpuh dalam masa tiga setengah tahun tanpa khalifah. Dan orang-orang kafir itu mengkalungkan mushaf-mushaf di leher-leher anjing serta mereka membuang kitab-kitab para imam kedalam sungai sampai merupakan jembatan yang dilalui kuda-kuda di atasnya.

 

Syaikh ‘Afifuddin tersebut dikala mendengar berita itu maka beliau mengingkari kejadian tersebut dan beliau berkata:

 

“Ya Tuhan kenapa semua ini terjadi, padahal pada mereka (muslim Baghdad) banyak anak-anak kecil dan orang-orang yang tak berdosa,".

 

Setalah itu beliau bermimpi melihat seorang membawa catatan, lalu catatan itu diambilnya dan ternyata di dalamnya ada dua bait syair dari bahar mutaqarib, ialah: 

 

دع الاعتراض فما الامر لك
          ولاالحكم فى حركات الفلك
ولاتسئل الله عن فعله
       فمن خاض لجة بحرهلك

 

“Janganlah menentang! Kamu tak punya urusan dan tak punya hukum dalam perkara falak, janganlah bertanya pada Allah tentang perbuatanya orang yang nyelami laut dalam pasti rusak.” 

 

Tuntutan ridha dengan qadha Allah tidak otomatis menuntut ridha dengan maqdhi-nya.

 

Harus dipahami bahwa qadha Allah bukanlah maqdhinya, contoh: apabila seseorang itu sesat karena terpengaruhi pembawa aliran sesat, maka kesesatanya itu sesungguhnya dengan qadha Allah atau karena qadha Allah. Maka kesesatanya itu adalah musabab oleh qadha Allah, dan keadaan qadha Allah adalah sebab bagi kesesatan orang tersebut. Ketidakpahaman para peneliti risalah Rasulullah saw membedakan antara sebab dan musabab dalam suatu masalah yang terkandung dalam risalah tersebut adalah merupakan kesalahan fatal yang berakibat timbulnya pendapat yang sesat.

 

Para penerima risalah Rasulullah saw dituntut agar mereka ridha dengan qadha Allah selaku sebab kesesatan orang sesat, mereka dituntut pula agar tidak ridha (ingkar) dengan keberadaan kesesatan-kesesatan dan mereka dituntut berjuang memberantas kesesatan-kesesatan itu.

 

Suatu keniscayaan bagi para penerima risalah Rasulullah saw siap berjuang melawan kesesatan-kesesatan. Bagi mereka ridha dengan qadha Allah bukanlah suatu hal yang dapat mengendurkan apalagi meninggalkan perjuangan memberantas kesesatan-kesesatan di jalan Allah. Dengan daya mushabarah dan semangat murabathah seyogyanya tiada henti-hentinya berjuang / jihad fi sabilillah. 

 

Kaum Ahlissunnah wal Jama’ah selaku penerima risalah Rasulullah saw seperti dikemukakan tadi, pada masa sekarang ini haruslah sadar, bahwa firaqudh-dhalal telah bergentayangan dihadapan mereka menyerang mereka. Bahkan telah masuk kerumah-rumah mereka, ke masjid-masjid mereka, ke dalam lembaga-lembaga pendidikan anak-anak mereka secara sistematik di organisir dengan organisasi yang rapih dan modern. Banyaklah sudah masjid-masjid mereka dikuasainya, dan secara lantang dan leluasa mencaci maki aqidah dan amalan mereka bagaikan orang kafir di zaman Rasulullah saw terhadap beliau dan para sahabatnya, sehingga diperingatkan Allah dalam surat Ali ‘imran ayat 118, sebagai berikut: 

 

يا أيها الذين امنوا لا تدخذوا بطانة من دونكم لايألونكم خبالا, ودوا ما عنتم، قد بدت البغضاء من افواههم وما تخفى صدورهم اكبر, قد بينا لكم الايات ان كنتم تعقلون. 

 

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan mu orang-orang yang ada di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Telah Nampak nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat (kami) jika kamu memahaminya.” Demikian peringatan Allah surat Ali ‘Imran ayat 118.

 

Adalah suatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, pada masa sekarang ini bahwa kaum Ahlussunah wal Jama’ah dalam rangka menerima risalah Rasulullah saw tentang berjihad hendaklah memiliki organisasi perjuangan yang baik dan modern seperti yang dimiliki kawan-lawan mereka bukan sekedar oraganisasi asal-asalan organisasi yang dapat mengkordinir seluruh potens, kekuatan dan kemampuan mereka, tua-muda, laki-perempuan, untuk menghadapi kekuatan dan kemampuan lawan-lawan mereka. Ingatlah suatu pepatah yang mengatakan 

 

“الحق بلا نظام قد يغلبه البا طل بنظام” 

 
  • Riyadhatun Nafsi / melatih jiwa dengan latihan yang baik, membersihkan nya dari sifat-sifat yang mungkar.
 

Dalam perjuangan menggapai yang dicita-citakan para penerima risalah Rasulullah saw sudah barang tentu menyadari, menginsani firman Allah dalam surat Asy-Syamsiyah 6-8. Yaitu: 

 

ونفس وما سواها – فألهمها فجورها وتقواها – قد افلح من زكاها- وقد خاب من دساها.

“Demi jiwa serta penyempurnaan nya, maka Allah mengilhamkan kepadanya (jalan) kelacutan dan ketaqwaanya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.” 

 

Dengan demikian mereka berjuang sekuat kemampuan hanya membersihkan jiwanya. Dalam pandangan mereka, nafsu itu laksana himar binal yang dibutuhkan untuk dijadikan kendaraan. Agar dapat berjalan pada jalan lurus menuju kebahagiaan yang dicita-citakan maka mereka mengendalikan nafsu yang kaya himar itu dengan kendali taqwa. Dan agar jinak mereka membebaninya dengan beban-beban ta’at kepada Allah dan rasulnya, melafarinya dengan tidak mengikuti syahwat-syahwat nya sambil tiada henti-hentinya mereka mengharapkan rahmat dan pertolongan Allah.

 

Mereka menyadari bahwa tidak dapat menjinakkan nafsu itu kecuali orang yang memperoleh rahmat Allah. Mengingat firman Allah dalam surat yusuf ayat 53, yaitu: 

 

وما أبرئ نفسي إن النفس لامارة بالسوء إلا ما رحم ربي إن ربي غفوررحيم 

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan kecuali nafsu yang diberi rahmat Tuhanku sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 

 
  • Al-Akhlak Al-Karimah / berbudi luhur
 

Para penerima risalah Rasulullah saw senantiasa berakhlak karimah, mengingat firman Allah tentang jati diri baginda Rasulullah saw surat Al-Qalam ayat 40: 

 

وإنك لعلى خلق عظيم 

“Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” 

 

Dan firman Allah surat Al-Ahzab ayat 21: 

 

لقد كان لكم فى رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجوا الله واليوم الاخر وذكر الله كثيرا.

 

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” 

 

KH M Nuh Addawami, Salah seorang Mustasyar PBNU

Terkait

Taushiyah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×