Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

KH M Nuh Addawami: Karakteristik Ahlussunnah wal Jamaah (3)

KH M Nuh Addawami: Karakteristik Ahlussunnah wal Jamaah (3)
Mustasyar PBNU, KH M Nuh Addawami. (Foto: NUJO).
Mustasyar PBNU, KH M Nuh Addawami. (Foto: NUJO).

Karakteristik dan ciri-ciri para penerima risalah Rasulullah SAW itu sangatlah banyak, tak bisa dikemukakan satu persatu dalam tulisan yang singkat ini, hanya yang penting diketahui adalah:

 
  1. Karakteristik risalah Rasulullah SAW yang paling esensil adalah prinsip at-tawassuth sasaranya rahmatan lil’alamin. 
  2. Karakteristik para penerima atau pengikutnya yaitu Ahlussunnah wal Jama’ah yang paling esensial adalah: 
 
  • Ar-Ri’ayah / memiliki kepemimpinan. 
 

Memiliki kepemimpinan / kepengurusan bagi para penerima risalah Rasulullah SAW adalah suatu kesengajaan, mengingat sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim:

 

عن ابن عمر رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: كلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته والامر راع والرجل راع على اهل بيته والمرأة راعية على بيت زوجها وولده فكلكم راع وكلكم مسئول عن رعيته

 

Dari Ibnu Umar RA, dari kanjeng Nabi Muhammad SAW beliau bersabda: “Kamu sekalian adalah pemimpin / penguasa, dan kalian akan diperiksa tentang yang dipimpinya, seorang amir adalah pemimpin, dan laki-laki itu pemimpin atas keluarga rumah tangganya. Dan istripun pemimpin rumah suami dan anaknya. Maka kalian seluruhnya pemimpin dan kalian akan diperiksa dari yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). 

 

Seorang amir pemimpin orang-orang yang ada di bawah wilayahnya, maka kewajiban dia memperhatikan kelakuan mereka, meluruskan urusan meraka, mensejahterakanya dan menolak bahaya dari padanya. 

 

Seorang suami pemimpin rumah tangga keluarganya, istri, anak, dan para pembantunya, maka dia bertanggung jawab mencukupi mereka dengan kebajikan dan melarang dari yang mungkar serta menerangkan apa-apa yang dibutuhkan mereka dari urusan-urusan syariat, istri pemimpin rumah suami dan anaknya, iya berkewajiban menjaganya dari yang hendak meruskanya dan berkewajiban memeliharanya. 

 

Semua orang adalah pemimpin terhadap dirinya masing-masing. Dia berkewajiban menjaga anggota-anggota badanya, dia harus mengamalkan apa-apa yang diperintahkan Allah dan Rasulnya. Dia harus menjauhi apa-apa yang dilarang oleh-Nya, baik pekerjaan, ucapan, dan I’tiqaadan. 

 

Anggota-anggota badan dan alat indra lainya adalah muta’allaq kepemimpinan semua orang. Mereka akan diminta pertanggungjawaban kepemimpinanya itu, apakah mereka menegakkan yang wajib padanya terhadap yang dipimpinya itu atau tidak ? 

 
  • Dzul Himmah al-‘Aliyah / Idealistik 
 

Para penerima risalah Rasulullah saw senantiasa beriman dengan adanya kebahagiaan dan kecelakaan yang kekal bagi umat manusia di akhirat kelak. Oleh karena itu, cita-cita mereka tidak hanya sebatas ingin bahagia di dunia tanpa bahagia di akhirat. Cita-cita mereka sangatlah tinggi, di dunia bercita-cita mempunyai istri dan anak keturunan yang menyenangkan hati, dan bercita-cia menjadi panutan orang-orang yang bertaqwa, cita-citanya itu terungkap dalam do’anya:

 

ربنا هب  لنا من ازواجنا وذرياتنا قرة اعين واجعلنا للمتقين إماما

 

Mereka bercita-cita bahagia di kala wafat, dengan mati khusnul khatimah, bahagia di alam barzah, selamat dari fitnah kubur, teringat sebuah hadits: 

 

عن أنس ابن رضي الله عنه ان النبي صلى الله عليه وسلم قال: لولا أن تدا فنو ا لدعوت الله أن يسمعكم من عذاب القبر(رواه مسلم)

 

“Dari Anas bin Malik RA, sesunggunya Rasulullah saw telah berkata: “Kalaulah tidak ada saling mengkubur kamu sekalian, tentu sesungguhnya aku akan meminta kepada Allah agar beliau mendengarkan kamu pada sebagian dari adzab kubur.” (HR. Muslim).

 

Mereka pun bercita-cita bahagia di alam ba’ats, ingin memperoleh buku catatan amaliyah dari sebelah kananya, mengingat firman Allah dalam surat Al-Haqqah ayat 19-28, yaitu:

 

فأما من أوتي كتا به بيمينه ها ؤم اقرؤوا كتابيه – إني ظننت ملاق حسا بية – فهو فى عيشة راضية – في جنة عالية – قطو فها دانية – كلوا وشربوا هنيأ بما اسلفتم فى الايام الخالية – واما من أوتي كتابه بشماله فيقولوا يليتني لم أوت كتا بيه – ولم ادرما
 حسا بيه – يليتها كانت القاضية – ما اغنى عني ماليه.

“Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya maka ia berkata: “Maka ambilah bacalah kitabmu ini- sesungguhnya aku yakin bahwa sesungguhnya aku akan menemui hisab terhadap diriku- maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai- dalam surga yang tinggi- buah-buahanya dekat- (kepada mereka dikatakan): makanlah dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu- adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya maka dia berkata: wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku ini- dan aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku- wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu- hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku.” 

 

Mereka bercita-cita pula berbahagia di alam hisab dengan mendapat hisaban yang ringan, mengingat firman Allah Surat Ar-Ra’du ayat 18, yaitu: 

 

للذين استجابوا لربهم الحسنى والذين لم يستجيبوا له لو أن لهم ما فى الارض جميعا ومثله معه لا فتدوابه ألئك لهم سوء الحساب ومأوهم جهنم وبئسى المهاد. 

 

“Bagi orang-orang yang memenuhi seruan Tuhannya (disediakan) pembalasan yang baik dan orang-orang yang tidak memenuhi seruan Tuhannya, sekiranya mereka mempunyai semua (kekayaan) yang ada di bumi dan ditambah sebanyak isi bumi itu lagi besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan kekayaan itu, orang-orang itu disediakan baginya hisaban yang buruk dan tempat kediaman mereka ialah Jahannam dan itulah seburuk-buruknya tempat kediaman.” 

 

Mereka bercita-cita bahagia di alam mizan, mengingat firman Allah surat Al-Qari’ah ayat 6-11 itu, yaitu: 

 

فأ ما من ثلقت مواز نه فهو فى عيشة راضية - وما ادراك ما هيه – نار حامية.

 

“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikanya), maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan- dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikanya), maka tempat kembalinya adalah neraka hawiyah- dan tahukah kamu apakah neraka hawiyah itu ? yaitu api yang sangat panas.” 

 

Mereka juga bercita-cita bahagia di alam shirat, mengingat sabda Rasulullah saw 

 

ثم يضرب الجسر على جهنم وتحل الشفا عة ويقولون سلم – سلم، قيل يا رسول الله وما الجسر؟ قال دحض مزلة فيه خطا طيف وكلا ليب وحسكة تكون بنجد فيها سويكة يقال لها السعدان فيمر المؤمنون كطرف العين وكالبرق وكالريح وكالطير وكاجاويد الخيل والركاب فناج مسلم ومخدوس مرسل ومكدوس فى نار جهنم ... الحديث (رواه مسلم)

 

“Lantas Allah membikin titian di atas jahanam dan tiba saatnya syafa’at dan para rasul berkata: ‘Selamatkanlah-selamatkanlah’ Rasulullah saw ditanya: ‘Apakah titian itu?’ beliau menjawab: ‘Ialah yang licin tempat tergelincir, padanya ada penyambar-penyambar dan penggaet-penggaet dan duri-duri bagaikan yang ada di tanah Nejed, pada duri-duri itu ada cucuk-cucuk kecil yang disebut kayu sa’dan. Lantas orang-orang yang beriman melintasinya bagaikan secepat kedip mata, dan ada yang seperti kilat, dan ada yang seperti angin dan ada yang seperti burung terbang, dan ada yan secepat kuda dan unta-unta. Maka ada selamat yang diselamatkan, dan ada yang digaruk yang dibebaskan dan ada yang ditumpuk di neraka jahanam, dan seterusnya.” (Alhadits/HR. Muslim). 

 

Para penerima risalah Rasulullah saw itu bercita-cita pula bahagia dengan dijauhkan dari adzab neraka, seperti dikabarkan Allah dalam surat Al-furqan ayat 65, yaitu: 

 

والذين يقولون ربنا اصرف عنا عذاب جهنم وإن عذابها كان غراما 

 

“Dan orang-orang yang berkata: ‘Ya Tuhan kami jauhkanlah adzab jahanam dari kami, sesungguhnya adzabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.” 

 

Sudah barang tentu para penerima risalah selaku orang yang beriman merasa ngeri atas jerat siksaan neraka yang dikabarkan Allah dalam surat An-Nisa ayat 56, yaitu: 

 

ان الذين كفروا با يتنا سوف تصليهم نارا كلما نضجت جلودهم بدلناهم جلودا غيرها
ليذو قوا العذاب ان الله كان عزيزا حكيما.

 

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat kami kelak akan kami masukkan mereka ke dalam neraka setiap kali kulit mereka hangus, kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan adzab, sesunggunya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” 

 

Para penerima risalah Rasulullah saw bercita-cita pula meraih kebahagiaan abadi menjadi penghuni surga yang di dalamnya tersedia apa-apa yang diinginkan, sebagaimana yang dijanjikan Allah dalam surat Az-Zukhruf ayat 80-83, yaitu: 

 

ادخلوا الجنة انتم وازوا جكم تحبرون – يطاف عليهم بصحا ف من ذهب واكواب وفيها ما تشتهيه الانفس وتلذ الا عين وانتم فيها خالدون – وتلك الجنة التي اور ثتموها بما كنتم تعملون – لكم فيها فاكهة كثيرة منها تأكلون.

 

“Masuklah kamu ke dalam surga, kemudian istri-istri kamu digembirakan- diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan dalam surga itu terdapat segala apa-apa yang diinginkan oleh hati dan sedap di pandang mata dan kamu kekal di dalamnya, dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu di sebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan- di dalam surga itu ada buah-buahan yang banyak untuk kamu yang sebahagianya kamu makan.”

 
  • Al-Mujahadah / Patriotik 
 

Setiap orang yang bercita-cita luhur diiringi keinginan yang tinggi untuk menggapai cita-cita nya mereka suka bekerja keras, berjuang dan rela berkorban, keniscayaan bagi sang penerima risalah Rasulullah saw berjuang di jalan Allah, bekerja keras dan berkorban demi cita-cita nya. Mengingat firman Allah surat ‘Ali Imran ayat 142: 

 

ام حسبتم أن تدخلوا الجنة ولم يعلم الله الذين جا هدوا منكم ويعلم الصا برين.

 

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga ? padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantara mu dan belum nyata orang-orang yang sabar.”

 

Ahlussunnah Wal Jama’ah selaku para penerima risalah Rasulullah saw senantiasa mencintai Allah dan Rasulnya dan mencintai jihad di jalan Allah melebihi cintanya kepada yang lainya, mereka teramat takut  terhadap ancaman Allah dalam surat Al-bara ah ayat 24, yaitu: 

 

قل ان كان أباؤكم وابنا ؤكم واخوانكم وازوا جكم وععشيرتكم واموال انقترفتموها وتجارة تخشون كسا دها ومسا كن ترضونها أحب اليكم من الله ورسوله وجهاد فى سبيله فتربصوا حتى يأتي الله بأمره والله لا يهدى القوم الفا سقين.

 

“Katakanlah! jika bapak-bapak dan anak-anak- dan saudara-saudara- dan istri-istri dan kaum keluargamu harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan, yang kamu khawatiri kerugiaanya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan rasulnya dan dari jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanya, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” 

 

Allah telah menyeru orang-orang yang beriman supaya berjihad di jalan-Nya dengan jihad yang benar. Firman-Nya dalam surat Al-hajj ayat 77 dan awal ayat 78 sebagai berikut:

 

يا ايها الذين امنوا ركعوا وسجدوا وعبدوا ربكم وافعلوا الخير لعلكم تفلحون، وجا هدوا فى الله حق جهاده.

 

“Wahai orang-orang yang beriman ruku’lah kamu dan sujudlah kamu dan sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan- dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang benar.” 

 

KH M Nuh Addawami, salah seorang Mustasyar PBNU

Terkait

Taushiyah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×