Home Nasional Warta Kuluwung Khutbah Daerah Pustaka Sejarah Ubudiyah Taushiyah Syariah Keislaman Obituari Doa Tokoh Risalah Tauhid Profil Hikmah Opini Wawancara PWNU Ngalogat Ekonomi Lainnya

Wiktionary Pergunu untuk Peradaban Nusantara 

Wiktionary Pergunu untuk Peradaban Nusantara 
Ilustrasi: Freepik.com
Ilustrasi: Freepik.com

Oleh: Abdul Azis
Kongres pertama yang dilaksanakan pada tanggal 17-20, Oktober tahun 1959 menjadi momentum pindahnya kantor pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) dari Surabaya ke Jakarta. Hal ini mengindikasikan bahwa Pergunu telah siap bertarung secara masif untuk membangun kancah intelektual Indonesia dan dunia. 

Perpindahan kantor gerakan Pergunu bukan hanya sebuah ceremony yang biasa, namun Pergunu telah jauh-jauh hari merancang ide dan gagasan yang mendunia. Ditangan KH Bashori Alwi sebagai Nakhoda pertama, Pergunu berhasil mengangkat drajat dan maisyah (Penghasilan atau Kemampuan Finansial) kader, terbukti selama periode 1958 sampai dengan akhir dekade 1960-an, roda organisasi Pergunu berjalan dengan sangat baik, yang ditandai oleh berbagai prestasi, diantaranya adalah keberhasilan memperjuangkan 20.000 guru-guru NU yang diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) Kementerian Agama (Kemenag), dan  mendirikan media cetak Harian Duta Masyarakat (HDM) yang memiliki peran fenomenal selama tahun 1960-1965, serta secara rutin telah mencetak 15.000 eksemplar cetakan majalah maupun jurnal, yang pembacanya adalah mayoritas guru-guru madrasah dan umum serta aktivis nasionalis religius. 

Disisi lain, kader teknokrat dan parlementer pasca kemerdekaan Indonesia, banyak yang terisi oleh aktifis Pergunu, bahkan beberapa nama menteri juga tercatat selalu memperjuangkan gerakan Pergunu, diantaranya adalah KH Fathurrahman Kafrawi (Kemenag tahun 1946), KH Masjkur, (Kemenag 1949), KH Wahid Hasyim (Kemenag 1950), KH Faqih Usman (Kemenag 1952), KH Muhammad Ilyas (Kemenag 1956), KH M. Wahib Wahab (Kemenag 1960) dan KH Saifuddin Zuhri (Kemenag 1964). Namun sangat disayangkan pada masa orde baru, kiprah Pergunu dimatisurikan, dan pemerintah mengoptimalisasikan organisasi lain agar Pergunu hilang ditelan nasib.

Saat berbicara pendidikan dan guru, jika kita tela'ah jauh kebelakang, semenjak tahun 1848 (Masa Kolonial Belanda) pemerintah Hindia Belanda saja telah menyediakan anggaran belanja bidang pendidikan bagi pribumi nusantara sebesar 25.000 (Dua Puluh Lima Ribu) gulden, artinya peranan guru sejak Indonesia belum merdeka (masih nusantara) telah diperhatikan sesuai dengan situasi hindia Belanda saat itu. Lalu pengakuan keberadaan guru, juga diakomodir melalui penetapan Hari Guru Nasional yang bermula dari perjuangan guru tanah air melalui Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) pada tahun 1912.

Klaim pendidikan nasional secara formal menurut "Anton Dwisono Hanung Nugrahanto" dimulai oleh Gubernur Jenderal Herman William Daendels "Pendiri sekolah ronggeng dan sekolah bidan pertama di Nusantara untuk menangani kasus kematian bayi yang tinggi pada tahun 1810- 1811." Berikutnya juga muncul nama Gubernur jenderal Van Heudtz yang telah mengenalkan sistem pendidikan nasional pada tahun 1907 atas usulannya "Mendirikan Sekolah Rakyat (SR) atau sekolah desa yang dikelola secara sistematis oleh pemerintah pusat Hindia Belanda.”

Padahal sejak masa kolonial Belanda, para guru pribumi yang didominasi oleh para Kiyai dan santri, telah mampu membuat gerakan trensains, yaitu projek yang mengintegrasikan "standar isi" pesantren (Ilmu-ilmu agama) dan sains kealaman (natural sciences), ciri utama trensains adalah mengkaji dan meneliti ayat-ayat semesta yang terkandung didalam al-quran dan hadis, beserta interaksi antara agama dan sains dengan pendekatan ilmiah holistik-integratif. Namun peranannya belum masuk pada tata kelola pendidikan formal, hanya berbasis kultural komunal, sehingga tidak ada legalitas yang dapat diakui oleh kolonial Hindia Belanda. 

Berarti pada persoalan ini, sebenarnya sejak masa kolonial Hindia Belanda dimulai, prototype Pergunu sudah masiv dilaksanakan oleh para kiyai di nusantara, dan para kiyai yang telah melangkahkan kakinya untuk pendidikan adalah cikal-bakal Pergunu, terbukti embrio pendidikan asli Indonesia dimulai dari masjid-masjid, surau, langgar atau majelis ilmu yang ada pada tiap-tiap pesantren yang mayoritas dikelola oleh para kiyai dan santri, jauh sebelum hindia Belanda datang.

Salah satu bukti kekinian dalam menyongsong kemerdekaan, nama guru yang masih relevan adalah, ketika memunculkan nama Kiai Muhammad Saleh Darat (Mbah Sholeh Darat) Semarang yang sudah sangat masyhur.  Betapa tidak, ulama besar diabad ke-19 itu adalah seorang guru yang berhasil mencetak ulama dan tokoh-tokoh terkemuka ditanah air, yang akhirnya diberikan gelar pahlawan, seperti : Hadrotusyaikh Mbah Hasyim Asy'ari (Pendiri Nahdlatul Ulama), KH Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), dan Raden Ajeng Kartini (Pahlawan nasional Indonesia). 

Cendekiawan "Zamakhsari Dhofiri" mengatakan, fungsi kiai bagi santri tak ubahnya sebagai pengganti sosok bapak dikeluarga. Kepada kiai, para santri melabuhkan kasih sayang mereka yang jauh dari orang tua. Sementara, bagi kiai sendiri, para santri merupakan titipan tuhan yang maha agung dan bijaksana.

Setelah beberapa dekade matisuri, para aktifis Pergunu pasca orde baru, mulai mematri kembali gerakannya, hari ini Pergunu kembali bangkit melalui tangan ke-emasan Prof. Dr. KH. Asep Saifuddin Chalim, marwahnya kini sudah mulai merangkak mendunia, seperti pada bait dan alenia pertama Mars Pergunu yang berbunyi: "Wahai para Guru bintang sembilan, bangkitlah dari tidurmu yang panjang, bersatulah di Pergunu untuk berjuang, mengajar dengan Ikhlas dan lapang".  Hal ini mengisyaratkan pada kita semua, bahwa Pergunu akan selalu mampu mencerahkan setiap sendi kehidupan, karena kader Pergunu dari dulu telah mampu menjelma menjadi ustadz, mua’llim, murabbi, mursyid, mudarris dan muaddib, sesuai dengan kebutuhan zaman-nya masing-masing. 

Nama KH. Asep juga disebut - sebut sebagai  sosok kiyai pembaharu pendidikan islam abad 21 di Indonesia, Indikator tersebut tercermin dari keberhasilannya mendirikan Pondok Pesantren dan Madrasah Bertaraf Internasional "Amanatul ummah." Dan kesuksesannya menghidupkan kembali organisasi Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), yang didalamnya telah memberikan banyak kontribusi pendidikan bagi warga nahdliyin.  

Penulis yakin, kedepan Pergunu akan selalu mampu menjadi prototype NU untuk dunia, terlihat dari masifnya keberadaan list Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) yang telah terbentuk di lebih dari 30 negara. Ketika ada PCI NU disana, maka Pergunu juga akan senantiasa siap mengirimkan kadernya kesana. Saat ini bukan hanya di Timur Tengah dan Asia Selatan saja, namun kader-kader nahdliyin juga tersebar di eropa, australia dan kawasan amerika serikat serta benua lainnya.

Penulis adalah Ketua Lazisnu Kecamatan Sindang

Terkait

Sejarah Lainnya

terpopuler

rekomendasi

topik

×